Dari Teteaji ke Palestina : Ketika Nama Menjadi Doa

Reporter : Rio Rolis
Ishadi Ishak, S.Kom.,M.M  Wakil Sekretaris KNPI Sulawesi Selatan periode 2017-2019


oleh : Ishadi Ishak, S.Kom.,M.M 

Wakil Sekretaris KNPI Sulawesi Selatan periode 2017-2019

Baca juga: Muhammadiyah Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Palestina di Yordania

Makasar, JatimUPdate.id : Di masa kecil, saya dikenal dengan nama Yasser, yang tercantum dalam akta kelahiran saya. Nama tersebut diberikan oleh kakek saya, Abd Salam Arsyad, seorang tokoh masyarakat di Desa Tetaeji, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Nama ini diambil dari Muhammad Yassir Abdul Rahman Abdul Rauf Arafat al-Qudwa, lebih dikenal sebagai Yasser Arafat, pemimpin legendaris perjuangan Palestina di Timur Tengah.

Bagi mendiang kakek, Arafat adalah simbol keberanian dan keteguhan seorang pemimpin yang tak pernah menyerah dalam membela tanah airnya dari pendudukan Israel.

Di kampung kami, kakek bukan hanya dikenal sebagai Puang Ammatoana, tetapi juga sebagai sosok yang sangat peduli terhadap nasib saudara-saudara di Palestina.

Kekaguman ini tidak hanya dinyatakan melalui cerita, tetapi juga diwariskan dalam bentuk nama. Tidak hanya saya, sepupu saya yang lahir berdekatan dan sampai saat ini menetap di Desa Teteaji pun diberikan nama Yasir.

Sepekan terakhir ini, ingatan itu kembali terbangun ketika saya menyaksikan berita menggemparkan dari Timur Tengah. Pada 13 hingga 16 Juni 2025, Kota Tel Aviv, yang dibangun di atas tanah warga Palestina, diserang oleh rudal dari Iran.

Melalui media sosial, saya melihat kobaran api, sirene, dan kepanikan. Untuk pertama kalinya, Tel Aviv sebagai Ibukota Israel dihantam dari udara.

Saya tidak bersorak, karena perang sejatinya tidak pernah benar-benar berpihak pada kemanusiaan. Namun, saya tidak bisa menutup mata bahwa sebelum Tel Aviv terbakar sedangkan langit Gaza telah lama menghitam.

Selama puluhan tahun, warga Palestina hidup dalam blokade, terusir dari tanah mereka, kehilangan anak-anak dan masa depan.

Peristiwa ini seharusnya membuka mata dunia bahwa ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama pada akhirnya menciptakan dentuman perlawanan.

Dunia selama ini terlalu nyaman dalam diam, membiarkan warga Palestina berteriak sendirian. Kini, gema itu menggema ke jantung kota yang selama puluhan tahun dianggap tak tersentuh.

Setidaknya 19 warga sipil tewas dan puluhan hingga ratusan warga Israel dilaporkan terluka, dengan sejumlah kerugian material.

Sementara itu, lebih dari 400 orang tewas di Iran, termasuk 197 warga sipil dan sejumlah jenderal tinggi, seperti Komandan IRGC Jenderal Hossein Salami, Kepala Staf Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, serta ilmuwan nuklir, seperti Fereydoun Abbasi dan Muhammad Mehdi Tehranchi, dengan sekitar 654 orang mengalami luka-luka.

Jatuhnya korban bagi kedua belah pihak menandakan, Apakah tidak tertulis dalam kitab suci umat beragama ayat-ayat tentang perdamaian?

Saya kemudian teringat mendiang sesepuh Muhammadiyah Ustad Atrais Azis yang konsentrasi pada kajian perbandingan agama di Yogyakarta pernah mengutip beberapa ayat - ayat kitab suci akan perdamaian dan beberapa sejarah runtuhnya konstatinopel yang kini menjadi kota Istambul, Turki. Adapun kutipan beberapa ayat pencerahan tersebut diantaranya :

Baca juga: Greenpress Indonesia Kecam Pembunuhan Jurnalis Yang dilakukan Israel di Gaza

Dalam Al-Qur’an menyebutkan, Allah menyeru umat manusia ke Darussalam, negeri kedamaian (QS. Yunus: 25), dan mendorong kita untuk memilih perdamaian saat musuh menunjukkan niat damai (QS. Al-Anfal: 61).

Pada hakikatnya Islam bukan agama yang mempunyai pemeluk mayoritas melainkan ia adalah rahmat bagi semesta alam.

Sedangkan dalam Alkitab, Yesus mengajarkan "Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Matius 5:9).

Bahkan terhadap musuh, ia mengajarkan kasih. Dalam kitab ini disebutkan landasan moral yang radikal tetapi sekaligus revolusioner.

Lain halnya dalam ajaran Buddha terdapat ungkapan, “kebencian tidak akan pernah berhenti dengan kebencian; ia hanya akan berhenti dengan cinta.”

Ini bukan kelembutan yang lemah, tetapi kebijaksanaan yang dalam bahwa perdamaian tidak datang dari pembalasan, melainkan dari transformasi batin.

Kitab Bhagavad Gita Hindu menyampaikan bahwa mereka yang telah mengalahkan ego dan nafsu akan mencapai damai sejati. Dalam Tanakh, firman Tuhan menyatakan, “Carilah perdamaian dan kejarlah itu.” (Mazmur 34:14).

Meski kitab suci ini berasal dari langit yang berbeda namun berkumpul dalam satu nilai damai atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga: Perang Iran-Israel, Siapa yang Akan Menang?

Palestina belum sepenuhnya merdeka, suara - suara dentuman rudal oleh Iran menjadi pengingat serta pertanda bahwa Israel telah menemukan lawan yang sepadan dibalik propoganda yang selama ini mengatasnakan agama dan merusak citra keberagaman beragama, jika dibandingkan dengan warga Palestina yang sehari - hari masih terbelenggu dengan kelaparan, hidup dalam tenda - tenda pengungsian, beribadah pun acapkali mendapatkan tekanan oleh tentara Israel, wilayah Palestina yang dulu tentram dan damai kini separuhnya diambil alih oleh Israel.

Namun, perdamaian bukanlah kata netral. Ia tidak tumbuh di ruang hampa. Perdamaian yang sejati tidak akan hadir selama penindasan dibiarkan, dan selama korban hanya datang dari satu pihak.

Perdamaian yang hanya menuntut warga Palestina untuk diam, sementara Israel terus membangun tembok dan permukiman adalah perdamaian yang palsu.

Dari desa kecil seperti Teteaji, saya belajar bahwa solidaritas tidak mengenal batas geografis. Kakek saya mengajarkan melalui tindakannya bukan hanya lewat pidato, tetapi juga dengan memberi nama cucunya Yasser, ia turut merawat narasi doa dan harapan untuk terciptanya kedamaian di Palestina.

Detik ini, saya tidak lagi menggunakan nama Yasser. Namun, nama itu hidup dalam hati saya. Ia menjadi pengingat bahwa kita semua memiliki tanggung jawab moral terhadap penderitaan bangsa Palestina.

Pada akhirnya, perjuangan mereka bukan hanya soal tanah, tetapi juga tentang hak untuk hidup merdeka, bermartabat, dan dihormati sebagai manusia.

Teriring do’a dan salam serta harapan warga Palestina segera merasakan kedamaian dan berdaulat secara konstitusional. (rio/yh)

 

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru