Surabaya,JatimUPdate.id – Warga Jl. Srengganan Lebar, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Simokerto, mengeluhkan kondisi saluran air lama yang rusak parah dan rawan ambrol. Meski pengajuan penggantian saluran telah dilakukan sejak 2020, realisasi hingga kini belum terlaksana.
Ketua RW 6 Kelurahan Sidodadi, Moch. Yasin, menyebut saluran yang menggunakan sistem batu kali itu kini dalam kondisi rapuh di banyak titik. Dinding plengsengan terancam runtuh dan tutup saluran yang rusak dinilai membahayakan warga, utamanya anak-anak.
Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba
“Lubangnya besar-besar, kaki anak kecil bisa terperosok. Kami khawatir terus setiap hari,” kata Yasin, Senin (21/7).
Menurut Yasin, perbaikan selama ini hanya bersifat tambal sulam, dan hanya pada titik-titik plengsengan yang runtuh.
Akibatnya, beber Yasin kontur jalan menjadi tidak rata dan pengendara enggan melintasi bagian tengah saluran.
“Seringkali pengendara menghindari lewat tengah jalan karena takut ambrol. Paling rawan kalau mobil roda empat yang lewat,” ungkapnya.
Baca juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan
Ketua RW 7, Surah Slamet, menambahkan pengajuan surat telah dilakukan tiga kali. Sementara Dinas PU sudah lima kali melakukan survei lapangan, termasuk pengukuran.
Namun,tidak ada tindak lanjut berupa pembangunan ulang saluran dengan sistem U-ditch.
“Cuma ditutup-tutupi, diperbaiki sebentar, rusak lagi. Ini sejak sebelum Covid, dari tahun 2020,” ujarnya.
Baca juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi
Kekhawatiran warga semakin tinggi karena di sekitar saluran terdapat dua lembaga pendidikan, SDN Sidodadi 2/153 dan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Darut Ta’lim Annawawi.
Sementara itu, Ketua LPMK Kelurahan Sidodadi, M. Al Fakeh, mendesak pemerintah segera menindaklanjuti kondisi ini secara menyeluruh.
“Jangan tunggu ada korban dulu. Ini bukan hanya saluran, tapi jalur utama warga. Harus dibangun ulang, bukan ditambal terus,” tegas Fakeh. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman