Oleh : Tatang Mutaqien, S. Sos., M.Ed., PhD,
Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah
Baca juga: Peneliti Ajak Masyarakat Tak Terjebak Kebenaran Hasil Survei
Jakarta, JatimUPdate.id : Pagi Senin, (11/08/2025), seorang rekan jurnalis senior bernama Chamad Hojin memposting sebuah tulisan lama berdasarkan pengalaman empiris penulisnya yang menurut Bang Hojin, begitu kami memanggilnya, bahwa tulisan tersebut telah memperoleh ijin untuk di share di grup wa KF jurnalis agar bisa dimuat oleh para anggota yang juga wartawan itu.
Untuk itulah secara khusus Redaksi JatimUPdate.id memuat tulisan bernas dibawah ini yang mengambarkan luar biasanya upaya pemerintah RI dalam mengupayakan pendidikan untuk masyarakat era 1970 an dengan program yang disebut SD Inpres era Presiden Soeharto, yang diteliti oleh peneliti asing dan berbuah penghargaan bergengsi dunia yaitu Nobel, berikut ini tulisan tersebut :
__________
Senin, 14 Oktober 2019 jadi hari bersejarah bagi tiga akademisi dunia: Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer.
The Royal Swedish Academy of Sciences mengumumkan mereka sebagai penerima Hadiah Nobel Ekonomi berkat pendekatan eksperimental yang segar dan efektif untuk mengatasi kemiskinan global—terutama di bidang pendidikan dan kesehatan anak.
Yang membuat saya tersenyum waktu itu: salah satu negara yang mereka teliti adalah Indonesia, termasuk tentang SD Inpres dan BPJS.
Kebetulan, saya sendiri enam tahun belajar di SDN Inpres Lojisari—sekolah sederhana di kaki Gunung Papandayan, sekitar 20 kilometer dari Garut. Saat kembali berkunjung, nama sekolah sudah berubah menjadi SDN Cisurupan 2.
Makanya, begitu mendengar kabar bahwa pasangan ilmuwan dari MIT ini akan meluncurkan buku Good Economics for Hard Times, saya tak mau ketinggalan.
Selesai kuliah jam 17.00 di tengah suhu minus 4 derajat, saya dan dua rekan langsung jalan kaki 1,5 kilometer menuju lokasi peluncuran. Seusai sesi tanya jawab, saya beli bukunya, dapat tanda tangan Duflo dan Banerjee, dan sempat memperkenalkan diri sebagai “lulusan SD Inpres” dari Indonesia.
Pengalaman itu makin menguatkan ikatan pribadi saya dengan program ini. Di awal karier, saya sempat memimpin proyek Inpres No. 1/1997 tentang Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) pada era Presiden BJ Habibie.
Tujuannya: mendukung Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun lewat peningkatan gizi dan kesehatan siswa SD/MI, baik negeri maupun swasta.
Kisah SD Inpres ini memang fenomenal. Di disertasi Duflo (MIT, 1999) berjudul Essays in Empirical Development Economics, ia mengupas tuntas kebijakan SD Inpres yang lahir dari Inpres No. 10/1973—gagasan Widjojo Nitisastro saat menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Sampai 1993/1994, program ini telah membangun ±150.000 unit SD dengan dukungan ±1 juta guru.
Prestasinya diakui dunia; pada 1993 UNESCO menganugerahkan Medali Emas Avicenna kepada Presiden Soeharto.
Analisis Duflo unik: ia menggabungkan variasi jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antar-angkatan murid untuk mengukur dampak. Hasilnya? Anak usia 2–6 tahun pada 1974 mendapatkan tambahan rata-rata 0,12–0,19 tahun sekolah untuk setiap tambahan 1 sekolah per 1.000 anak.
Dampak ekonominya pun nyata: upah meningkat 1,5–2,7% untuk setiap sekolah tambahan. Singkatnya, SD Inpres sukses meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan sekaligus.
Menariknya, penelitian ini masih berlanjut. Dua peneliti di AS—Maria Rosales-Rueda (University of California, Irvine) dan Margaret Triyana (Wake Forest University)—menyambung kajian Duflo dengan data 1979–1983.
Temuan awal mereka menunjukkan bahwa SD Inpres juga berkorelasi positif dengan kesehatan generasi yang terpapar program, bahkan hingga anak-anak mereka. Mereka menyebutnya “program yang keren, excellent, dan pionir” untuk negara berpendapatan menengah bawah.
Namun ada satu catatan penting: penelitian longitudinal seperti ini sering terhambat karena arsip data sulit ditemukan. Padahal, dokumentasi program besar seperti SD Inpres bukan sekadar nostalgia.
Dia adalah modal ilmu pengetahuan, bahan evaluasi kebijakan, dan sumber inspirasi global tentang bagaimana Indonesia pernah menjalankan program pendidikan raksasa yang berkelas dunia. (sof/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat