Kupang, JatimUPdate.id, – Dari ujung timur Indonesia, sebuah surat menyentuh hati datang dari Sofia, siswi SMP asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca juga: 10 Tahun Penggunaan Dana Desa Masih Belum Tepat Sasaran, Prabowo Subianto Bakal Rombak Kebijakan
Lebih jauhSofia adalah salah satu murid Sekolah Rakyat yang dibangun Presiden Prabowo Subianto untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dalam video yang beredar, Sofia membacakan langsung isi suratnya yang ditujukan kepada Presiden. Dia dengan penuh keharuan menuliskan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat.
Berikut isi lengkap surat Sofia:
“Bapak Presiden yang terhormat
Beta punya nama Sofia
Siswi dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama 19 Efata Kupang
Beta mau cerita sedikit, dari Beta hati yang paling dalam
Sejak beta tinggal di asrama Sekolah Rakyat, banyak sekali yang berubah
Setiap hari Beta makan nasi hangat dengan lauk telur, ikan, bahkan dendeng ayam juga.
Rasanya seperti mimpi Bapak
Karena di rumah, biasanya Beta makan nasi putih dengan garam saja.
Sesekali ditambah sayur daun ubi
Beta baru bisa makan daging ayam itu kalau ada tetangga buat syukuran
Dulu, Beta tidur di kasur tipis, di kamar sederhana
Tapi sekarang, Tuhan berkati Beta bisa tidur di kasur empuk, di kamar yang bersih dan nyaman juga
Di Sekolah Rakyat ini, Beta bisa sekolah dengan tenang
Kadang Beta juga rindu dengan Mama dan Papa di rumah
Rindu dengan suara dan pelukannya
Tapi Beta tahu, ini semua demi Beta punya masa depan
Mama dan papa juga pasti bangga Lita Beta bisa sekolah
Beta punya orang tua itu petani kecil dari kampung Oeniko
Cari uang itu susah sekali
Tapi mereka tidak pernah mengeluh
Mereka bekerja keras, untuk Beta, supaya Beta bisa sekolah
Terima kasih Bapak Presiden
Sudah memperhatikan kami anak-anak terpinggir dari Timur
Beta tahu Bapak sibuk urus Negara
Tapi masih sempat urus kami sekolah
Bagi Beta, Bapak sudah seperti Beta punya orang tua
Yang sudah mengangkat Beta dari tempat yang gelap, dan taruh Beta di tempat yang terang
Suatu saat nanti, kalau Beta sudah jadi orang sukses
Semua itu karena Bapak punya uluran tangan
Beri kesempatan buat Beta untuk bersekolah di Sekolah Rakyat
Doa Beta buat Bapak,
Semoga Tuhan jaga Bapak baik-baik
Dari Kupang Kota Karang
Beta kirim peluk hangat untuk Bapak Presiden
Salam hangat,
Beta, Sofia Rosista Angel
Siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama 19 Efata Kupang"
______________
Baca juga: DPR dan Pemerintah Sepakati Langkah Penonaktifan BPJS Kesehatan PBI
Surat Sofia ini menjadi gambaran nyata bagaimana kehadiran Sekolah Rakyat membuka pintu harapan baru bagi anak-anak di pelosok negeri.
Dari Kupang, suara hati seorang siswi kecil kini sampai ke telinga Presiden, sebuah tanda bahwa mimpi dan masa depan bisa lahir dari kesempatan yang sederhana.
Secara khusus, Redaksi JatimUPdate.id melakukan komunikasi dengan Kementrian Sosial terkait pemuatan berita Surat Dari Sofia ini mengingat hak cipta yang melekat pada video dari hasil produk Kementrian Sosial yang jadi bahan dasar berita ini ditulis.
Redaksi JatimUPdate.id melakukan permintaan agar video dan foto dari property Kemensos ini bisa ditayangkan kepada Staf Khusus Menteri Sosial, Taufik Fathurrahman.
"Monggo, kalau redaksi JatimUPdate.id ingin membuat video sekolah rakyat dengan figur Sofia menjadi narasi berita, Kemensos sangat mendukung dan berterima kasih," kata Taufik yang juga mantan wartawan itu kepada Redaksi JatimUPdate.id akhir pekan lalu.
Lebih jauh Redaksi JatimUPdate.id menelisik secara historis tentang Sekolah Rakyat yang ternyata juga telah dikembangkan sejak era Hidia Belanda dan Pendudukan Jepang.
Data mencatat bahwa riwayat Sekolah Rakyat merujuk pada sistem pendidikan pada masa kolonial Belanda dan Jepang, yang kemudian diadaptasi menjadi Sekolah Dasar (SD) setelah kemerdekaan Indonesia, serta pada program pendidikan gratis untuk anak-anak miskin di masa kini.
Pada masa kolonial, Sekolah Rakyat atau Volkschool adalah pendidikan dasar yang bertujuan mencerdaskan pribumi, namun juga bertujuan memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi penjajah.
Setelah kemerdekaan, istilah Sekolah Rakyat diganti menjadi Sekolah Dasar (SD) dan kemudian dihidupkan kembali sebagai program pendidikan gratis berasrama bagi masyarakat miskin.
Sekolah Rakyat, Tan Malaka Dan Sarekat Islam
Meski demikian secara khusus Redaksi JatimUPdate.id mengetahui bahwa, istilah Sekolah Rakyat sendiri sangat identik dengan sosok penggagasnya bernama Tan Malaka, tokoh bangsa yang berhaluas sosialis yang terkenal dengan konsep Massa Aksi, Material Dialektika dan Logika (Madilog) yang juga pendiri Partai Murba itu.
Tan Malaka menggunakan Sekolah Rakyat sebagai bentuk perlawanan struktural bagi penjajah Hindia Belanda dan kaum bangsawan alias priyayi yang kala itu mendapat kemudahan bersekolah akibat adanya kebijakan Politik Etis dari Pemerintah Kolonial Belanda.
Tan Malaka memperkenalkan Sekolah Rakyat atau juga dikenal dengan istilah Sekolah Ongko Loro (Sekolah Angka Dua/Kelas Dua) itu sebagai instrumen pemberdayaan pribumi agar melek pendidikan.
Tan Malaka mendirikan dan mengembangkan Sekolah Ongko Loro --kemudian berganti nama menjadi Sekolah Rakyat atau Sekolah Rakyat-- yang bertujuan untuk mendidik rakyat jelata agar mandiri dan memiliki kesadaran sosial melalui pendidikan yang mengkombinasikan keterampilan dasar dengan pendidikan sosial dan kemanusiaan. Sekolah yang dimulai oleh Tan Malaka dan Sarekat Islam (SI) di Semarang pada tahun 1922 ini kemudian menyebar dan berkembang di seluruh Indonesia.
Baca juga: Warga Kedung Cowek Curiga Ada Kepentingan Investor di Balik Pembangunan Sekolah Rakyat
Dari artikel Ingat Sekolah Rakyat Ingat Tan Malaka pada laman Berdikarionline.com menyebutkan bahwa pada 1921, Serikat Islam cabang Semarang mendirikan sekolah alternatif bagi rakyat.
Namanya SI school atau Sekolahan SI Semarang. Tan Malaka, yang baru bergabung dengan SI cabang Semarang kala itu, menjadi pengajar utama di sekolah ini.
SI Semarang memang sudah lama bersuara lantang soal pendidikan. Dalam koran propaganda SI Semarang, Sinar Hindia, bertanggal 23 Agustus 1921, disebutkan bahwa sejak tahun 1916 SI cabang Semarang sudah mengusulkan agar pengajaran rakyat Hindia diatur dengan secara standenschool (sekolah negeri).
Lalu pada tahun 1917, SI mengusulkan agar semua rakyat tanpa pengecualian bisa diterima di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Pasalnya, sekolah milik kolonial Belanda zaman itu hanya menerima anak dari keturunan bangsawan dan pegawai tinggi.
Semua usulan SI semarang itu diabaikan penguasa kolonial. Akan tetapi, SI semarang juga menyadari, bahwa tidak mungkin penguasa kolonial mau menyelenggarakan sebuah sistem pengajaran yang mencerdaskan seluruh rakyat. “Keperluan rakyat pertama-tama harus diperhatikan oleh rakyat sendiri dan dengan kekuatan rakyat sendiri,” begitulah sikap SI Semarang.
Muncullah ide membuat sekolah sendiri. Dan, berkat andil Tan Malaka dan Semaun, ide itu berhasil diwujudkan tahun 1921. Tan Malaka sendiri adalah alumnus Kweekschool (Sekolah Guru) di Negeri Belanda. Ia banyak makam asam garam soal sistem pengajaran.
Menurut Hary A Poeze, Tan Malaka mendapatkan inspirasi mengenai sekolah SI ini dari Belanda dan Rusia.
Kata Poeze, Tan sempat membaca tulisan seorang Rusia mengenai kurikulum sekolah komunis. Selain itu, kata Poeze, Tan juga mendapat pengalaman saat bekerja di perkebunan tembakau di Deli.
Sekolah Rakyat Pertama Berdiri 21 Juni 1921
SI School itu resmi dibuka tanggal 21 Juni 1921. Pendaftar pertamanya berjumlah 50-an orang. Koran Soeara Ra’jat, yang memberitakan pembukaan Sekolah SI tersebut, menyebutkan bahwa sekolahan baru tersebut menggunakan ruang rapat SI semarang sebagai ruang belajar.
Saat pembukaan sekolah, beberapa anak bercelana merah berdiri membentuk saf di depan hadirin. Tak lama kemudian mereka menyanyikan lagu Internasionale, lagu kelas pekerja sedunia.
Beberapa hadirin menitikkan air mata saat menyaksikan kejadian itu. Tak lama kemudian, sorak dan tepuk tangan bergemuruh menyambut defile yang dilakukan anak-anak sekolahan SI tersebut.
Dalam artikelnya SI Semarang dan Onderwijs, Tan Malaka menjelaskan bahwa sekolah SI ini sangat berbeda dengan sekolah swasta/partikulir: pertama, sekolah ini tidak mencari keuntungan; kedua, biaya sekolahnya lebih murah dan diprioritaskan bagi kaum miskin; serta ketiga, suasana dan orientasi pendidikannya yang mendidik rasa merdeka/mardika.
Di artikel yang sama, Tan juga membeberkan tiga tujuan utama sekolah ini: pertama, memberi senjata yang cukup kepada anak didik, seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dan lain-lain, sebagai bekal mencari penghidupan di jaman kemodalan (kapitalisme); kedua, memberi kemerdekaan untuk bergaul, bermain, berorganisasi, dan berpropaganda; serta ketiga, mendidik anak-anak agar mencintai rakyat kecil atau kaum kromo. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat