Ketika Nostalgia Itu Dipinjam Oleh Gen Z

Reporter : Shofa
Dhahana Adi Pungkas Academic, Urban & Local Cultural Interpreter

 

Oleh : Dhahana Adi Pungkas

Baca juga: SMSI Surabaya Ajak Pemuda Jadi Motor Pembangunan di Era Digital

Academic, Urban & Local Cultural Interpreter

Jakarta, JatimUPdate.id - Masa lalu belum pernah sepopuler ini. Saat ini, Gen Z tengah mengalami kebangkitan budaya dari era lalu.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya anak muda yang kembali menikmati lagu-lagu lawas milik Sheila on 7 hingga menggunakan kamera analog untuk mengabadikan momen-momen mereka.

Media sosial juga dipenuhi konten-konten bertema retro, mulai dari outfit of the day (OOTD) yang terinspirasi dari tahun 90-an hingga filter foto yang menyerupai hasil cetakan film dari kamera roll.

Bahkan saya pun sempat melihat seseorang memposting tentang bagaimana mereka mendengarkan Nirvana sebelum band itu viral di TikTok.

Perlu diingat, Nirvana bubar pada tahun 1994, kurang lebih tiga tahun sebelum anggota Gen Z (1997-2012) pertama lahir.

Sebuah fenomena yang menunjukkan seolah-olah mereka jatuh cinta pada masa yang belum pernah dialami.

Tapi mengapa mereka begitu tertarik pada era yang hanya mereka kenal melalui cerita orang lain, estetika Instagram yang difilter, dan playlist yang dikurasi?

Media saat ini telah membentuk pemahaman kita tentang masa lalu, tetapi bagi Gen Z, hal ini dilakukan dengan cara yang terasa sangat imersif.

Dimulai dari sejumlah akun di kanal Youtube yang mencoba menghadirkan kembali hadirnya acara TV lawas yang memaksa diri untuk menghidupkan kembali masa silam.

Pun demikian, platform media sosial seperti TikTok dan Instagram pada akhirnya juga berfungsi sebagai mesin waktu modern.

Tidak berhenti di situ, tren ini tidak hanya mempengaruhi penampilan dan hobi, tetapi juga gaya hidup serta cara Gen Z berinteraksi.

Mereka mulai menjauh dari kehidupan digital yang instan dan lebih memilih aktivitas yang bersifat “tactile” atau bersentuhan langsung, seperti menulis di semacam jurnal harian/buku harian, mendengarkan musik melalui kaset, atau berkumpul di tempat-tempat yang menawarkan suasana lawas.

Seperti yang dilaporkan The Guardian dan Vox, fenomena ini dikenal dengan istilah borrowed nostalgia atau nostalgia pinjaman. Nostalgia secara inheren bersifat emosional. Namun fenomena nostalgia pinjaman ini merujuk pada situasi di mana individu merindukan masa lalu yang sebenarnya tidak mereka alami secara langsung.

Nostalgia pinjaman ini muncul dari keinginan untuk merasakan suasana "kehangatan" masa lalu, yang dianggap lebih sederhana dan menenangkan dibandingkan dengan kehidupan modern yang sarat dengan tekanan dan gangguan digital.

Menurut Dr. Krystine Batcho, seorang psikolog klinis, dalam wawancaranya dengan Time Magazine (2023), jenis nostalgia ini dapat berfungsi sebagai pelarian emosional.

Fenomena ini bukan hanya tentang rindu akan masa lalu, tetapi tentang mencari kenyamanan dan stabilitas dalam kenangan atau skenario yang dibayangkan.

Baca juga: Yuhronur: HMI Dapat Menjadi Transformasi Generasi Muda Mewujudkan Good Society

Bagi Gen Z, generasi yang menghadapi kecemasan iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan tekanan hiperkonektivitas, kesederhanaan yang terkurasi dari dekade-dekade lalu menawarkan sebuah pelarian.

Mereka mencari kenyamanan pada hal-hal familiar dan “aman” dari masa lalu—meski hanya melalui lensa romantisasi budaya pop.

Banyak dari mereka yang menghadapi ketidakpastian dalam hidup mereka, terutama setelah masa pandemi, Mereka merasa tertarik kepada nilai-nilai serta gaya hidup di masa lalu yang tampak lebih stabil dan tidak terlalu membebani.

Hal ini menunjukkan bagaimana nostalgia dapat menjadi cara untuk mencari ketenangan di tengah kekacauan zaman sekarang.

Selain berfungsi sebagai pelarian, kebangkitan kembali tren dari tahun 90-an juga merefleksikan bentuk dari digital escapism, yaitu usaha untuk menjauhkan diri dari dunia yang terlalu terhubung.

Tekanan sosial yang ada di dunia digital, notifikasi yang terus-menerus, dan tuntutan untuk eksis secara online membuat sebagian generasi muda mencari sebuah "ruang tenang".

Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan BBC Worklife (2022), banyak Gen Z yang kembali mengadopsi kebiasaan-kebiasaan dari masa lalu sebagai reaksi terhadap kelelahan digital (digital fatigue) dan kerinduan akan kehidupan yang lebih otentik.

Selain itu, kebutuhan untuk menemukan identitas dan komunitas juga menjadi faktor yang penting. Di tengah era yang serba cepat dan global ini, banyak anak muda merasa kehilangan akar atau keunikan diri mereka.

Sehingga lewat menghidupkan kembali budaya dari era 90-an—baik melalui musik, mode, maupun gaya hidup—mereka menciptakan identitas baru yang tetap terhubung dengan masa lalu, tetapi disesuaikan dengan konteks zaman sekarang.

Baca juga: Polda Jatim Gelar Road Show, Generasi Emas Produktif Tanpa Narkoba

Nostalgia yang dipinjam memungkinkan kita membayangkan dunia yang terasa lebih aman dan terkendali. Dekade 80-an dan 90-an, misalnya, sering digambarkan sebagai masa-masa individualitas yang semarak dan hidup yang bebas dari kekhawatiran – sebuah kontradiksi yang mencolok dengan kebisingan digital yang konstan dan ketidakstabilan sosial seperti yang terjadi saat ini.

Tentu saja, nostalgia yang dipinjam juga memiliki kelemahan. Dengan fokus hanya pada aspek-aspek menarik atau estetis dari dekade-dekade lalu, kita berisiko menyederhanakan sejarah secara berlebihan. Misalnya, dekade 80-an bukan hanya tentang pita kaset ataupun lampu disko; dekade tersebut juga mencakup perubahan sosial dan politik yang signifikan.

Demikian pula, era awal 2000-an (Y2K) bukan hanya tentang baju berkilau dan drama serial TV komedi romantis seperti F.R.I.E.N.D.S; namun era tersebut juga ditandai dengan tahap awal perkembangan teknologi dan ketidakstabilan global. Pandangan ini tanpa disadari dapat membuat kita mudah memuja masa lalu sambil mengabaikan kelemahannya.

Namun, hal ini juga menyoroti keinginan manusia yang mendalam untuk mempertahankan hal-hal baik dan meninggalkan yang buruk. Dalam hal ini, nostalgia yang dipinjam menjadi cara untuk memandang masa lalu sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar sebuah beban (coping mechanism).

Henry Jenkins, dari University of Southern California pun menyebut fenomena ini sebagai remix culture—di mana generasi baru tidak hanya meniru masa lalu, tetapi menciptakan ulang versi mereka sendiri yang lebih personal.

Tren ini bukan sekadar fase sesaat, melainkan refleksi dari perubahan sosial yang lebih dalam. Seiring Gen Z yang kini masif dan terus membentuk budaya, nostalgia yang dipinjam tidak akan pudar. Sebaliknya, ia mungkin akan berkembang seiring munculnya teknologi baru.

Namun, saat kita meminjam dari masa lalu untuk menciptakan makna di masa kini, patut dipertanyakan: Bagaimana kita menghargai realitas era-era tersebut sambil tetap menghargai daya tarik estetika dan emosionalnya? Mungkin jawabannya terletak pada keseimbangan – mengakui kompleksitas sejarah sambil memberi diri kita kebebasan kreatif untuk membayangkannya kembali.

Demikianlah sebuah “keindahan“ dari kenangan yang dipinjam. Ia memungkinkan kita untuk menggabungkan yang lama dengan yang baru, menciptakan narasi yang terasa unik dan khas bagi kita.

Di dunia yang sering terasa menakutkan, ada sesuatu yang menenangkan dalam meminjam dari masa lalu untuk menancapkan diri kita di masa kini dan mungkin itu semua sudah lebih dari cukup. (sof/mmt)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru