Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)

Reporter : Ibrahim
ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id - Hujan sore turun pelan di lereng Merbabu. Jalanan menuju kawasan Kopeng basah dan berkilau seperti kaca. Di sebuah vila kecil di tepi tebing, enam orang duduk melingkar di ruang tengah, di depan perapian yang menyala tenang. Aroma kopi hitam bercampur kayu terbakar memenuhi udara.

Mereka sudah lama tak bertemu. Enam orang yang dulu hidup di bawah satu panji, dalam organisasi yang menuntut kesetiaan mutlak dan kerja nyaris tanpa batas. Mereka terbiasa berjibaku dengan waktu, keakuratan data, dan risiko kehilangan nyawa. Hidup mereka dulu seperti ditentukan oleh misi, bukan oleh waktu pribadi.

Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang

Kini, setelah bertahun-tahun berpisah, mereka kembali bertemu: Arman, Mira, Riko, Galih, Damar, dan Nanda. Semuanya menua dengan caranya masing-masing. Beberapa mulai beruban, beberapa sudah kehilangan gairah hidup seperti dulu. Tapi malam itu, tawa mereka berusaha menembus batas masa lalu.

“Masih inget waktu kita nyamar di pelabuhan Tanjung Mas?” celetuk Riko, menahan tawa.

“Kau, Damar, hampir jatuh ke laut waktu itu.”

Damar mengangkat alis. “Aku bukan hampir jatuh. Aku sengaja nyemplung buat ngelindungin barang bukti, kau lupa?”

Tawa pun pecah. Nanda yang duduk di ujung sofa ikut tersenyum. Ia dan Arman lebih muda dibandingkan mereka dulu, sering jadi bahan olok-olok karena wajahnya yang kelewat polos. Kini wajah itu lebih dewasa, tapi matanya masih menyimpan cahaya lama campuran trauma dan kebanggaan.

“Waktu itu kita gila, ya,” kata Nanda lirih. “Tidur cuma dua jam, makan nggak tentu. Tapi entah kenapa, aku kangen suasananya.”

“Karena dulu kita masih punya tujuan,” jawab Galih, suaranya berat. “Sekarang, yang kita punya cuma kenangan.”

Semua terdiam sejenak. Hanya suara hujan di luar yang terdengar, menetes di genting, jatuh di tanah basah.

Arman menatap bara api. Wajahnya keras, tapi matanya lembut seperti menyimpan banyak luka yang belum sempat sembuh. Dialah yang pertama kali keluar dari organisasi itu. Setelah kontraknya habis, ia menolak memperpanjang. Alasan resminya sederhana: ingin hidup normal, ingin menikah, ingin berhenti hidup di bawah bayang-bayang kematian.

Dan ia benar melakukannya. Ia menikah dengan Dina, rekan satu organisasi. Mereka berdua sama-sama mundur dan memulai hidup baru di pinggiran ibu kota . Hidup mereka sederhana, bahagia, hingga suatu hari semuanya hancur. Dina meninggal dalam kecelakaan tunggal di jalan, mobil yang ia kendarai tergelincir di tikungan basah.

Arman kehilangan arah. Dulu, sebelum Dina, ia juga pernah menikah. Tapi karena sering pergi bertugas, rumah tangganya gagal. Ia terlalu sibuk membela idealisme, dan lupa cinta butuh kehadiran. Ketika akhirnya ia ingin menebus semuanya lewat Dina, takdir justru mencabut kesempatan itu.

Malam itu di vila, Arman tak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan. Sesekali meneguk kopi, sesekali mengangguk. Sampai Mira yang duduk di seberangnya mulai bicara dengan nada berbeda.

“Aku nggak nyangka kita bisa kumpul lagi begini,” katanya pelan. “Aku pikir nggak bakal ada momen kayak gini lagi.”

“Kenapa?” tanya Riko. “Kau yang paling susah dihubungi, padahal.”

Mira tersenyum kecut. “Aku punya alasan. Dan mungkin... malam ini saatnya aku ceritakan.”

Udara di ruangan seketika berubah. Riko menegakkan duduknya, Damar melirik ke Arman, Nanda menggigit bibir. Mereka tahu nada itu, nada sebelum sesuatu yang besar terungkap.

“Aku pernah bertemu Dina,” ujar Mira. “Setelah kalian berdua keluar dari organisasi.”

Arman menoleh perlahan. Pandangannya tajam tapi tenang. “Maksudmu, bertemu di mana?”

“Di dekat “rumah perlindungan”. Sekitar setahun setelah kalian berhenti. Waktu itu aku baru aja selesai kontrak, masih... belum bisa move on dari kehidupan lama. Aku dengar Dina hari itu akan di sana, jadi aku datang. Tapi niatku bukan baik, Arman.”

Mira menarik napas panjang, tangannya bergetar di atas gelas kopi yang hampir kosong. “Aku datang karena cemburu. Aku... dulu mencintai kamu. Lama sekali. Tapi kamu nggak pernah lihat aku. Kamu cuma lihat Dina meskipun dia statusnya janda. Dan aku bodoh, aku pikir kalau aku hadapi dia langsung, semuanya akan selesai.”

Nanda menutup mulutnya, terkejut. Riko bersandar ke kursi, menatap Mira tanpa percaya.

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Damar hati-hati.

Mira memejamkan mata. “Kami bertengkar. Awalnya cuma adu mulut. Tapi Dina keras kepala, dan aku juga. Kami berkelahi. Dia menantangku di gudang kosong. Aku sempat nyaris mati. Dia pukul lututku, aku jatuh, lalu kami saling serang. Aku kena bahu kiri, tapi aku juga berhasil melukai bahu kirinya. Setelah itu aku kabur, berdarah-darah. Sejak malam itu aku nggak pernah dengar kabarnya lagi... sampai aku tahu dia meninggal karena kecelakaan.”

Suasana membeku. Bara di perapian sesekali meletup, seperti menegaskan keheningan.

Arman menunduk. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bicara. Semua tahu betapa rapuhnya Arman ketika mendengar nama Dina.

Mira melanjutkan dengan suara yang hampir tak terdengar, “Aku tahu aku salah. Aku nggak datang buat nyari pembenaran. Aku cuma mau minta maaf. Selama bertahun-tahun aku simpan ini sendiri. Aku nggak bisa tidur. Setiap lihat bekas luka di lutut dan bahuku, aku ingat malam itu. Aku ingat tatapan Dina sebelum aku kabur. Dia nggak marah. Dia cuma... kecewa. Dan itu jauh lebih menakutkan dari kematian.”

Air mata menetes di pipinya.

Galih menatap Arman dengan khawatir. “Man, kau nggak apa-apa?”

Arman diam. Tatapannya kosong, entah ke arah mana. Lalu perlahan, ia berdiri. Kursinya berderit pelan. Ia berjalan ke arah Mira, langkahnya berat, tapi wajahnya tenang.

Riko bersiap menahan jika Arman tiba-tiba amarahnya meledak, mereka semua tahu temperamennya dulu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Arman menepuk bahu Mira pelan.

“Sudahlah,” katanya dengan suara datar tapi hangat. “Itu masa lalu, Mir. Aku memaafkan kamu.”

Mira menatapnya dengan mata merah basah. “Kau... sungguh?”

Arman mengangguk. “Dina pernah bilang, kalau suatu hari dia pergi lebih dulu, aku jangan dendam sama siapa pun. Termasuk masa lalu. Mungkin ini yang dia maksud.”

Ia kembali duduk. Suaranya lebih tenang saat berkata, “Waktu itu, bahu kiri Dina memang terluka. Katanya jatuh, tergelincir. Tapi setiap malam dia mengeluh nyeri, terutama kalau hujan. Sekarang aku tahu kenapa. Aku curiga dulu dia habis berkelahi, tapi dia nggak pernah cerita.”

Keheningan kembali turun, kali ini lebih lembut.

Nanda menatap api, lalu berkata pelan, “Kadang kita nggak tahu, orang yang kita sayang juga sedang berperang dengan luka yang tak kita pahami.”

Ucapan itu seperti menutup lingkaran. Semua menatap api tanpa kata. Bara merah menari, membentuk bayangan di dinding.

Arman meneguk kopinya lagi, kali ini tanpa gemetar. Ia tampak lebih tenang, seolah beban bertahun-tahun perlahan turun dari punggungnya.

“Mir,” katanya kemudian, “kau nggak perlu terus nyalahin dirimu. Dina juga keras kepala. Kalau dia masih hidup, mungkin dia udah nyamperin kau duluan, marah, lalu malah ngajak kau minum teh.”

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Tawa kecil muncul, masih canggung tapi tulus.

Riko menepuk paha. “Yah, reuni kita akhirnya bener-bener reuni. Ada tawa, ada tangis, ada pengakuan.”

“Dan ada maaf,” tambah Damar.

Mira menyeka air matanya. “Terima kasih, kalian. Aku nggak tahu gimana rasanya bisa ketemu kalian lagi. Aku pikir... aku bakal dihukum malam ini.”

Galih tertawa kecil. “Kita udah cukup banyak dihukum waktu masih aktif, Mir. Sekarang saatnya menebus hidup.”

Mereka pun bicara lagi. Kali ini lebih ringan. Tentang keluarga, tentang pekerjaan sekarang, tentang rasa sepi yang kadang datang tanpa alasan.

Arman bercerita sedikit tentang hidupnya setelah Dina. Tentang bagaimana ia mencoba memaafkan dirinya sendiri. Tentang rumah mungil yang ia isi dengan tanaman, dan surat-surat lama yang masih ia simpan di laci kayu.

“Dina selalu bilang, hidup itu bukan soal siapa yang kita pilih, tapi siapa yang tetap kita doakan meski sudah pergi,” ucapnya lirih.

Mira menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya campuran antara rasa lega dan kehilangan yang baru saja disembuhkan.

Di luar, hujan makin deras. Tapi di dalam vila itu, hangat terasa sampai ke dada.

Beberapa jam berlalu. Riko dan Galih sudah tertidur di kursi. Nanda sibuk membuat cokelat panas di dapur kecil. Damar duduk di tangga, menatap keluar jendela yang berembun.

Arman dan Mira masih di ruang tengah. Api di perapian mulai meredup, menyisakan bara.

“Aku masih ingat malam itu,” kata Arman tiba-tiba. “Malam saat Dina meninggal. Ia sempat menelponku, tapi aku lagi di luar rumah. Pesannya cuma satu: Kalau aku nggak pulang, tolong jangan salahkan siapa pun. Aku pikir dia cuma bercanda. Sekarang aku tahu... mungkin dia sudah tahu ajalnya dekat.”

Mira menggigit bibir. “Man, aku...”

“Sudah,” potong Arman lembut. “Kau nggak perlu minta maaf lagi. Kau tahu? Waktu Dina masih hidup, dia sering bercerita tentangmu. Katanya, Mira orang yang kuat, tapi kesepian. Dia bilang, aku sebaiknya nggak terlalu keras sama kau. Ironis ya, ternyata dia tahu semuanya.”

Air mata kembali menetes di pipi Mira.

“Dia baik sekali,” ucapnya serak. “Aku nggak layak dapat maaf darinya.”

Arman menatap bara api yang mulai padam. “Tapi dia tetap memaafkanmu, Mir. Lewat aku malam ini.”

Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya bunyi hujan di luar yang mengiringi detik-detik itu.

Lalu Nanda datang membawa dua cangkir cokelat panas. “Masih ada waktu buat hangatkan badan sebelum api padam,” katanya, mencoba mencairkan suasana.

Arman tersenyum. “Terima kasih, Nanda. Kau masih sama kayak dulu selalu tahu kapan harus datang.”

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Nanda tertawa kecil. “Beda sama Riko, yang datangnya selalu telat.”

Dari kursi, Riko yang setengah tidur bersuara malas, “Hei, aku masih dengar itu, tahu.”

Tawa kecil kembali memenuhi ruangan. Kali ini tanpa beban.

Pagi menjelang. Hujan berhenti. Kabut turun pelan-pelan dari bukit. Vila itu terasa damai.

Satu per satu mereka berkemas. Galih paling dulu pamit karena harus mengejar kereta. Riko dan Damar menyusul, masih setengah mengantuk.

Nanda memeluk Mira lama-lama. “Aku senang kau datang, Mir. Kadang keberanian paling besar adalah berani muncul kembali.”

Mira mengangguk, suaranya hampir bergetar. “Aku pikir aku nggak akan pernah punya kesempatan ini.”

Arman berdiri di beranda, menatap kabut yang mulai tersibak cahaya matahari.

Mira berjalan mendekat. “Terima kasih, Man.”

Arman menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk tidak membenciku.”

Arman tersenyum kecil. “Benci nggak akan menghidupkan siapa pun, Mir. Tapi maaf bisa menyelamatkan dua orang kau, dan aku.”

Mira menunduk, menahan tangis.

Ketika mereka turun dari vila, matahari muncul dari balik kabut, memantulkan cahaya ke arah timur. Jalanan masih basah, tapi langit perlahan biru.

Arman menoleh sekali lagi ke arah vila. Api di perapian sudah padam, tapi di dadanya masih tersisa hangat hangat yang bukan dari bara, tapi dari sesuatu yang lebih dalam, memaafkan.

Ia tahu, luka di bahu kiri Dina tak akan pernah hilang, sama seperti luka di hati mereka semua. Tapi setidaknya, malam itu mereka berhasil menutupnya dengan cara yang paling manusiawi, dengan saling memaafkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arman bisa tersenyum tanpa merasa bersalah.

Di ujung jalan, kabut perlahan terangkat, meninggalkan langit bersih.
Seperti luka yang akhirnya menemukan caranya sendiri untuk sembuh.

Setelah memastikan teman-temannya menuju tujuannya masing-masing, Arman dan Nanda lalu menuju ke Yogyakarta. 

*)Oleh: Roy Arudam

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru