Resensi Novel: Sengsara Membawa Nikmat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sampul cover Novel Sengsara Membawa Nikmat. Insert foto penulis.
Sampul cover Novel Sengsara Membawa Nikmat. Insert foto penulis.

 

Oleh: Septivan Wismo Pratama

NPM: 23046010010, Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Jawa Timur. Jurnalis magang Redaksi Jatim Update

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Secara khusus Redaksi JatimUPdate.id memberikan arahan agar mahasiswa yang sedang magang mengembangkan diri dengan membuat ulasan atas sejumlah Novel dan karya sastra lama Indonesia.

Alhamdulillah telah direspon, yang pertama membahas tentang K'Tut Tantri dan autobiografinya berjudul Revolusi di Nusa Damai.

Kini, mahasiswa UPN yang magang tersebut melakukan resensi, selamat menikmati.

Resensi Novel Sengsara Membawa Nikmat

Identitas Buku
•    Judul: Sengsara Membawa Nikmat
•    Penulis: Sutan Sati
•    Penerbit: Balai Pustaka
•    Tahun Terbit Pertama: 1929
•    Genre: Fiksi Klasik Indonesia / Roman

Pendahuluan 
Sastra Angkatan Balai Pustaka selalu memiliki pesona tersendiri dalam memotret realitas sosial, benturan budaya, dan moralitas masyarakat Nusantara di masa kolonial.

Salah satu mahakarya yang lahir dari era keemasan tersebut adalah novel Sengsara Membawa Nikmat karya Sutan Sati.

Tidak sekadar menyuguhkan drama kehidupan picisan, novel ini hadir sebagai jendela historis yang merekam jejak ketimpangan feodalisme, budaya merantau, hingga ketangguhan mental seorang pemuda dalam menghadapi pusaran fitnah yang tiada henti.

Sinopsis 

Berlatar belakang alam Minangkabau yang kental dengan adat istiadat, novel ini menceritakan lika-liku kehidupan seorang pemuda bernama Midun.

Ia merepresentasikan idealisme pemuda Nusantara masa itu: sosok yang tampan, berbudi pekerti luhur, taat beragama, dan pandai bersilat. Sifat-sifat baiknya ini secara wajar membuat Midun sangat disukai dan dihormati oleh warga kampungnya.

Namun, pepatah mengatakan bahwa pohon yang tinggi akan selalu diterpa angin kencang. Kepopuleran Midun memicu kebencian, rasa iri, dan dengki dari Kacak.

Kacak bukanlah pemuda sembarangan; ia adalah sosok arogan yang berstatus sebagai kemenakan Tuanku Laras (kepala desa bentukan pemerintah kolonial).

Mengandalkan kekuasaan pamannya dan sifat gila hormatnya, Kacak merasa eksistensinya tersaingi. Ia pun berulang kali merencanakan niat jahat dan melontarkan berbagai fitnah keji untuk mencelakai Midun.

Puncak dari konspirasi Kacak membuat Midun harus mendekam di penjara dan dibuang ke Padang, lalu berlanjut menjadi pekerja paksa di tanah rantau, Batavia (Jakarta).

Di tanah rantau inilah, penderitaan (sengsara) Midun diuji hingga batas maksimal, mulai dari perkelahian di penjara, intrik sesama narapidana, hingga penyiksaan fisik.

Namun, berkat kesabaran, kejujuran, dan ketangguhan mentalnya, perlahan roda nasibnya berputar. Ia berhasil menyelamatkan seorang gadis cantik bernama Halimah dari cengkeraman ayah tirinya yang jahat, kemudian menikahinya. Kegigihannya juga membawanya meraih kedudukan terhormat di kepolisian Hindia Belanda.

Pada akhirnya, semua penderitaan Midun berbuah kebahagiaan (nikmat), dan ia dapat kembali ke kampung halamannya dengan kepala tegak.

Kupas Tuntas Karakter: Filosofi Pendekar Sejati

Salah satu kekuatan terbesar novel ini terletak pada penokohan Midun. Sebagai seorang pesilat, karakter Midun mencontohkan filosofi luhur seni bela diri Nusantara. Ilmu silat yang dikuasainya tidak pernah digunakan untuk memprovokasi, menindas, atau memamerkan arogansi. Sebaliknya, Midun mewujudkan konsep pendekar sejati: ketangguhan fisik yang diimbangi dengan kedalaman spiritual dan pengendalian emosi tingkat tinggi.

Ketika Kacak terus-menerus memancing amarahnya, Midun memilih jalan kesabaran. Ia sadar bahwa pertarungan sesungguhnya bukanlah melawan Kacak secara fisik, melainkan melawan hawa nafsu dan menjaga kehormatan diri di tengah penderitaan yang bertubi-tubi.

Tinjauan Sosiolinguistik dan Realitas Sosial 

Dari kacamata sosiolinguistik, Tulis Sutan Sati sangat apik dalam mendeskripsikan latar belakang sosial, adat istiadat, dan tradisi masyarakat Minangkabau. Novel ini merupakan artefak kebahasaan yang merekam dialek Melayu-Minang masa itu, di mana dialog antartokoh sering kali disisipi oleh pepatah-petitih yang penuh kiasan.

Penggunaan bahasa dalam novel ini juga secara cerdas membedakan kelas sosial; kesombongan linguistik Kacak sangat kontras dengan kesantunan berbahasa Midun.

Lebih jauh, novel ini merekam secara tajam benturan kelas sosial. Sutan Sati secara implisit mengkritik sistem feodalisme—diwakili oleh kekuasaan absolut Tuanku Laras dan Kacak—yang berlindung di balik payung hukum kolonial Belanda untuk menindas rakyat jelata.

Kelebihan dan Kekurangan Karya
Buku ini sangat kaya akan nilai-nilai kehidupan dan sarat pesan moral. Pembaca disuguhkan tesis bahwa kesabaran, kejujuran, dan keimanan adalah perisai utama dalam menghadapi cobaan.

Pesan didaktis bahwa "kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan" tersampaikan dengan sangat kuat dan menginspirasi.

Sosok Midun ditulis dengan sangat solid sebagai teladan pemuda yang tidak mudah menyerah pada nasib yang buruk.
Namun, karena ditulis pada era Balai Pustaka di awal abad ke-20, gaya bahasa Melayu klasik yang digunakan mungkin terasa kaku atau sedikit sulit dipahami oleh pembaca modern.

Perlu sedikit adaptasi dan kesabaran saat membaca di bab-bab awal. Selain itu, alur yang disajikan terkadang klise. Konflik antara "Si Baik" (Midun) dan "Si Jahat" (Kacak) digambarkan terlalu hitam-putih.

Beberapa insiden kebetulan yang secara tiba-tiba menyelamatkan Midun dari mara bahaya di akhir cerita terasa sangat tipikal untuk roman pada zamannya, sehingga sedikit mengurangi nuansa realisme narasi.

Kesimpulan 

Novel Sengsara Membawa Nikmat adalah karya sastra klasik yang tak lekang oleh waktu.

Meski dibalut dengan gaya bahasa lawas, inti cerita dan pesan moralnya tentang resiliensi manusia sangat relevan hingga kini. Di tengah era modern yang serba instan ini, perjalanan hidup Midun menjadi pengingat yang keras bahwa tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa keringat, air mata, dan keimanan.

Novel ini sangat direkomendasikan dan cocok dibaca oleh siapa saja yang menyukai sejarah sastra Indonesia, serta mereka yang mencari kisah inspiratif tentang ketangguhan mental dalam menghadapi badai cobaan hidup. (red)

Opini

Kupatan

Kupatan adalah salah satu tradisi islam yang berkembang di Jawa khususnya di pesisir utara Jateng dan sebagian besar Jatim, di lokasi walisongo berdakwah.