Oleh : Tamita Wibisono
Pengamat Literasi Digital- Pemerhati Lingkungan Sosial Budaya dan Ekonomi Sirkular Warga Kota Madiun - Tinggal di Jakarta Selatan
Baca juga: Tahun 2026, Prabowo Targetkan Pembangunan 1.000 Desa Nelayan
Jakarta Selatan, JatimUPdate.id - Redaksi JatimUPdate.id pada Senin Malam (20/10/2025), mendapatkan kiriman artikel dari penulis sekaligus pegiat literasi asli Madiun Jawa Timur yang kini tinggal di Jakarta Selatan, yang pada beberapa saat lalu bertemu kru JatimUPdate.id di kawasan Perkantoran Harian Kompas, kala itu Mbak Tamita bersama temannya tengah asyik larut dalam paparan Jimmy S. Harianto, Penulis Buku Margono Djojohadikusumo, Pejuang Ekonomi, Pendiri BNI 46 itu.
Saat itu Kru JatimUPdate.id diundang senior ex jurnalis Harian Kompas pada acara yang dihadiri Menteri Kebudayaan, Fadly Zon itu, Mbak Tamita terlihat sudah sangat jatuh hati terhadap sosok Bangsawan Miskin asal Banyumas, RM Margono Djojohadikusumo itu. Dan artikel ini kini dipersembahkan kepada publik, agar semakin banyak pihak mengerti tentang sosok Margono yang pokok-pokok pikirannya itu menjadi garis kebijakan dari Cucunda-nya Prabowo Subianto, yang kini menjadi Presiden RI Ke-8 itu.
Selamat Menikmati....
Pada tanggal 20 Oktober 2024, setahun yang lalu Prabowo resmi dilantik sebagai Presiden RI yang ke 8 didampingi oleh wakilnya Gibran Rakabuming Raka. Cucu Margono Djojohadikusumo ini meraih posisi putra terbaik bangsa tidak dengan cara instan.
Bagi Prabowo Subiyanto,” Kegagalan adalah Keberhasilan” yang tertunda bukanlah sebatas slogan terlebih jargon. Ia telah membuktikan dan menyuguhkan fakta keberhasilan meraih kemenangan telak pada pilpres 2019 setelah 3 musim Pilpres sebelumnya pulung belum berpihak sepenuhnya.
Saat dirinya berada di Pondok Pesantren Mambaul Ulum – Pamekasan – Jawa Timur (26 Februari 2019), Prabowo seolah menggenapkan niat dihadapan para tokoh ulama dan santri yang hadir. Bahwa ia hendak mewakafkan sisa hidupnya untuk mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Niat sekaligus janji tersebut terkesan sederhana, namun bobotnya 1000 x lipat dibandingkan dengan janji-janji politik lain dalam siklus pemilihan presiden lima tahunan.
Prabowo bukanlah sosok yang kerap membanggakan garis keturunan keluarganya. Baginya bangsa Indonesia yang sedemikian multikulture tak sekedar butuh telusur figur.
Ia dengan segala kurang dan lebihnya lebih fokus pada orkestrasi pembangunan yang mengedepankan garis kesejahteraan rakyat melalui program-program yang dinilai mampu memperbaiki kualitas hidup generasi emas Indonesia 2024.
Wajar saja pada tahun pertama masa kepemimpinannya Prabowo senantiasa mengedepankan program-program ekonomi serta sektor yang menopang pertumbuhan sektor riil dari hulu ke hilir.
Sebut saja memperkuat Pertanian, Penanggulangan Kemiskinan, Pendidikan, Kesehatan. Dan yang tak kalah penting adalah pemberantasan penyakit mental korupsi tanpa pandang bulu.
Seperti halnya pepatah jawa menyebut “Trahing Kusuma Rembesing Madu”, ada silsilah keluarga Prabowo Subiyanto yang tidak bisa dipisahkan bergitu saja. Selain Sang Ayah, Soemitro Djojohadikusumo yang memiliki nama besar dalam sejarah perekonomian bangsa, adalah Margono Djojohadikusumo yang Kakek yang tak kalah punya nama baik di wilayah lokal Banyumas hingga ke Benua Eropa sejak sebelum Indonesia merdeka.
Mengenal Margono Djojohadikusumo, Kakek Presiden Prabowo
Lahir di Purbalingga (masih karasidenan Banyumas) pada 16 Mei 1894 Margono Djojohadikusumo kemudian bertumbuh menjadi kusuma bangsa yang menorehkan rangkaian jejak kisah tak hanya di wilayah Banyumas saja.
Pada 131 tahun yang lalu lahir seorang ekonom sekaligus pendiri BNI 1946 sebagai bank sentral pertama pasca kemerdekaan RI melalui serangkaian proses yang out of the box. Meski terlahir sebagai kalangan priyayi, Margono tumbuh menjadi pribadi yang ramah lagi rendah hati.
Margono Djojohadikusumo meski berdarah Banyumas namun jika dirunut terdapat garis keturunan Paku Buwono III - Solo melalui Raden Tumenggung Kertanegara IV.
Tak sebatas itu, trah Margono juga memiliki keterkaitan dengan Sultan Hamengku Buwono II - Yogyakarta. Hingga Margono sendiri merupakan cucu dari Raden Kartoatmojo - seorang patih di Banjarnegara yang masuk dalam wilayah karasidenan Banyumas.
Dari Margono, kita belajar bahwa hidup tidak semata tentang trah bangsawan, atau tokoh penting. Dibalik semua itu yang terpenting adalah sifat baik dan memiliki sikap yang memberi nilai manfaat kepada masyarakat luas.
Seperti halnya tetesan madu yang manisnya mengandung banyak kebaikan.
Membaca Margono ibarat membuka catatan sejarah lokal sekaligus nasional dalam alur maju mundur. Foto hitam putih sosok Margono di halaman awal buku memancarkan karisma sekaligus karakter orang Banyumas yang apa adanya.
Margono tumbuh di lingkungan Desa Dawuhan, terletak di Kecamatan Banyumas – Jawa Tengah, jarak tempuhnya hanya berkisar 30 - 40 menit ke arah barat dari pusat kota Purwokerto.
Desa yang berada diantara perbukitan kawasan lereng Gunung Slamet itu juga cukup dekat dengan Sungai Serayu.
Saksi Lilitan Hutang Rentenir dan Tidak Pelit Terhadap Keluarga hingga Negara
Margono kecil banyak mengenyam asam garam kehidupan. RM. Hendrakusumo - Ayah dari Margono - Kakek Buyut Prabowo dikisahkan bukanlah sosok yang kaya. Ia hanyalah mandor irigasi hingga menjadi asisten wedana (pegawai kecamatan).
Kekerabatan dalam keluarga besarnya menjadi kaca benggala kehidupan bagi Margono kecil. Bahwa tanggung jawab Ayahnya dalam menghidupi keluarga besar bahkan mencapai 40 orang.
Hingga Sang Ayah terlilit hutang rentenir.
Dan Margono kecil bukanlah anak yang berpakaian bagus saat sekolah di Eurepese Lagere School Banyumas . Itu semua dijabarkan dalam Memoar yang ditulis oleh Margono, yang ditulis dalam bahasa belanda tahun 1951. (Buku Autobhiographi : Kenang-kenangan dari tiga zaman : Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis)
Jiwa dan mental Margono sudah ditempa sejak kecil.
Pada usia 13 tahun (akhir 1907), ia melanjutkan pendidikan ke Magelang di OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren).Untuk sementara waktu ia meninggalkan Banyumas dan masuk sekolah yang mendidik calon pegawai pribumi untuk pekerjaan administrasi kolonial Belanda.
Empat tahun kemudian ia bekerja sebagai pembantu juru tulis Dinas Pamong Praja hingga wafatnya Ibunda (1912) yang disusul kemudian Sang Ayah.Setahun setelah menjadi pembantu juru tulis di Banyumas, Margono pindah ke Cilacap menjadi juru tulis di Kantor kejaksaan.
Tak sebatas itu, ia bahkan merambah ke dunia kerja di bidang ekonomi kerakyatan dengan menjalani kerja volkscredietwezen/perkreditan hingga jawatan koperasi.
Semua itu Margono lakukan karena tanggung jawab untuk menopang kehidupan keluarga besarnya.
Margono memang tidak tercatat dalam arus besar dan elit bergerakan nasional sekelas Budi Utama. Meski demikian, Margono tercatat sebagai anggota dan pernah aktif didalam Budi Utomo, Banyumas.
Namun demikian, Margono mengikuti rentetan peristiwa hingga pergulatan pemikiran kebangsaan melalui langganan surat kabar dengan menyisihkan sebagian gajinya.
Ia pelanggan setia harian De Express tanpa menjadi anggota partai besutan Dowes Dekker. Margono menyebutnya sebagai Perang Pena. Hingga pada kongres Kebudayaan Jawa di Solo tahun 1918, ia mengaku untuk kali pertama mendengar pidato RM Tjipto Mangunkusumo di hadapan publik.
Dari Cilacap, Margono sempat mengikuti latihan menjadi pejabat volkscredietwezen di Purworejo.
Melalui perkenalannya dengan RMA Kusumo Yudo, Margono seolah mendapat guru hingga anak bangsa yang berproses di Banyumas itu kemudian mampu melintas Benua berlayar menuju Eropa setelah sebelumnya sempat menjejak peran di tanah pendekar- Madiun sebagai Pejabat Bumiputra (1926)
Baca juga: Kebijakan Baru Dana Desa 2026: Fokus Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih
Babak baru kehidupan Margono Djojohadikusumo kian membentang.
Dari pernikahannya dengan Siti Katoemi lahir Soemitro Djojohadikusomo yang kelak di kemudian hari menjadi penerus rekam rejak perekenomian yang sudah dia bangun untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta.
Soemitro anak pertama yang lahir di Kebumen pada tahun 1917. Soemitro kecil menjadi saksi perpindahan ruang gerak ayahnya dari karasidenan Banyumas ke Madiun Jawa Timur.
Hingga peran ekonomi -perbankan dari Margono terus bertumbuh ke tingkat nasional.
Zaman berganti dari kebangkitan nasional hingga perang kemerdekaan. Margono tetap teguh berjuang di jalur ekonomi dari lingkup lokal-regional namun terus memperkuat posisi gerakan Nasionalisme ekonomi kerakyatan.
Puncaknya sesaat setelah kemerdekaan RI. Margono yang sudah kenyang makan asam garam perekonomian hadir sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) saat sidang kabinet pertama RI yang menjadi penasihat Soekarno-Hatta selaku Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama.
Peran Margono di DPA tidaklah lama, oleh sebab ia ditugasi untuk membina Bank Negara milik Republik .
Ia mengemban tugas itu karena rekam jejaknya yang lama bekerja sebagai pamong praja di lembaga perkreditan rakyat Hindia Belanda (1919- 1942).
Jejak Sejarah Bank Negara Indonesia 46 di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta (Dok.Pri)
Soerat Koeasa tertanggal 16 September 1945 yang menunjuk R.M Margono Djojohadikusumo menjadi tonggak sejarah pendirian Bank Negara Indonesia.
Bala bantuan yang mendukung Margono dalam penggalangan modal awal melalui pembentukan yayasan.
Bahkan uang modal senilai 100 Rupiah Jepang tak tanggung-tanggung diambilnya dari uang keperluan rumah tangganya.
Margono tak pernah pelit untuk urusan keluarga terlebih untuk kepentingan negara.
Persiapan pendirian Bank Negara Indonesia pada mulanya dipusatkan di Jakarta. Namun Situasi politik yang kurang kondusif berakibat pada peristiwa pemindahan ibukota sementara ke Yogyakarta.
Segala persiapan mendapat dukungan penuh Sultan HB IX. Pada 1 Desember 1945 Pemerintah RI (termasuk didalamnya Presiden-Wakil presiden beserta Kabinet) pindah ke Yogyakarta.
Tak terkecuali Pusat Bank Indonesia yang semula direncanakan berada di kawasan Menteng.
Tanggal 5 Juli 1946 melalui Keppres no 2, Pusat Bank Indonesia kemudian sah menjadi Bank Negara Indonesia dan pada 17 Agustus 1946 R.M. Margono Djojhadikusumo remi diangkat menjadi Presiden direktur pertama.
Jejak sejarah BNI 46 di Yogyakarta masih bisa kita lihat hingga sekarang sebagai salah satu bangunan cagar budaya di kawasan titik Nol kilometer Yogyakarta.
Pertempuran Lengkong dan Gugurnya Dua Patriot Kusuma Bangsa
Baca juga: 10 Tahun Penggunaan Dana Desa Masih Belum Tepat Sasaran, Prabowo Subianto Bakal Rombak Kebijakan
Suasana Monumen Palagan lengkong di Kawasan Serpong (dok.pri)
Soemitro Djojohadikusumo bukanlah anak semata wayang Margono. Adalah Subianto dan Sujono yang gugur menjadi patriot kusuma bangsa di saat Margono tengah mengemban tampuk amanah pendirian BNI 46 di Yogyakarta.
Dua anak laki-laki yang merupakan adik dari Soemitro Djojohadikusumo (Ayah Prabowo) gugur pada 25 Januari 1946 di pertempuran lengkong - Tangerang. Usia Subianto saat itu masih 21 tahun sementara Sujono adik bungsunya merupakan remaja berusia 16 tahun.
Tak hanya mewariskan darah ekonom pada anaknya. Jiwa Patriotik memantik jejak perjuangan yang hingga kini abadi dan bisa dilihat di area monumen Palagan Lengkong atau yang lebih dikenal dengan monumen Daan Mogot di kawasan Serpong.
Dua putra kusuma bangsa dari Margono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tangerang secara berdampingan.
Jejak patriotik Putra Margono sebagai pahlawan kusuma bangsa menjadi peristiwa yang memberi kesan mendalam.
Wajar hingga kemudian Soemitro sebagai anak pertama Margono Djojohadikusomo menjadikan nama tersebut menjadi sebuah pertalian nama yang dilekatkan pada dua anaknya.
Dua cucu Margono Djojohadikusumo mengemban nama besar pahlawan Lengkong, Yakni Subianto yang dilekatkan pada nama Prabowo Subianto dan Sujono yang dilekatkan pada Hashim Sujono Djojohadikusumo.
Bukan semata trah, melainkan nama yang menyimpan harum kisah perjuangan yang belum semua orang mengetahui tentang sepenggal kisah heroik di tanah Lengkong - selemparan jarak dari Serpong.
Demikianlah, intisari dari membaca Margono Djojohadikusumo. Tentu tulisan ini bukanlah rangkuman lengkap. Hanya noktah yang merangkai benang merah.
Bahwa nama Margono memiliki tafsir tersendiri bagi orang Jawa, seperti yang dinukil dalam buku.
Menurut Sang Ibu, Margono : Margane Ono ( Jalannya ada- atau bisa dibilang selalu ada jalan).
Wajar jika kelak di kemudian hari, tepatnya saat ini kita mengenal Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia setelah jalan panjang yang ia lewati.
Dikenal sebagai Perwira dengan segala sepak terjang dan rekam jejaknya, hingga menjadi pengusaha meski bukan ekonom.
Semangat pantang menyerah saat mengalami kegagalan dalam setiap pemilihan Presiden membuat kita paham bahwa bukan semata trah, melainkan rembesing madu /kebaikan dari para pendahulu yang turut menjadi saksi perjalanan anak cucu keturunan mereka terlepas apapun peran mereka.
Membaca Margono Djojohadikusumo ibarat menyelami oase peradaban budaya, Nasionalisme kebangsaan, Perekonomian kerakyatan dan kompleksitas pengelolaan Negara dan Bangsa di awal kemerdekaan.
Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto eksklusif dengan nuansa vintage. Bahkan terdapat rekam lensa arsip kliping tulisan asli - buah pemikiran Margono Djojohadikusumo yang dimuat di koran Kompas era tahun 70-an.
Adapun tulisan ini menjadi bingkisan sederhana kepada Presiden Prabowo Subianto saat ulang tahun ke 74 sekaligus 1 tahun Kepemimpinan Republik . Meski sejatinya ada karya sederhana berupa Kayon dengan Aksara Jawa bertuliskan nama Prabowo yang semoga bisa sampai ke tangan beliau secara langsung.
(Sumber: Margono Djojohadikusumo Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46, Karya Jimmy S Harianto & HMU Kurniadi, Penerbit Buku Kompas 2025). (yh/ya)
Editor : Yoyok Ajar