Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Reporter : Ibrahim
Ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id - Waktu sudah menunjukkan jam 01.OO WIB aku dan Nanda masih duduk di beranda rumah, diskusi tentang sosial kehidupan, sesekali tentang kenangan masa lalu saat masih menjadi rekan kerja. 

Nanda menjabarkan, masih banyak menemukan ketimpangan sosial yang ia lihat, misalnya kehidupan keluarga anak didiknya yang hidup dalam garis kemiskinan. Sehingga masih banyak menunggak menunggak SPP sekolah. 

Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang

Realitas itu diketahui setelah dirinya terjun langsung ke lapangan, silaturahmi ke rumah sebagian orang tua muridnya. Melihat kenyataan itu, Nanda mengaku sebagian honornya kerapkali buat bayar SPP murid-muridnya yang tidak mampu.

"Aku rutin silaturahmi ke orang tua murid-muridku, utamanya siswa baru. Aku terenyuh, melihat kondisi mereka. Tapi mereka tetap kuat, berjuang agar masa depan anaknya cerah." 

"Kadang sampai aku tidak pernah menikmati gaji ku, habis untuk membayar SPP anak didik ku. Namun aku bersyukur tindakanku disuport oleh suami. Bahkan ia mengaku bangga, mengganggap langkah ku bagian dari bakti sosial yang langka dimiliki oleh orang lain." urai Nanda.

Ia menambahkan, suaminya juga menggelontorkan dana yang tak sedikit, untuk membantu murid-muridnya yang kurang mampu. Bahkan ia juga menemaninya saat keliling silaturahmi ke rumah mereka. 

Sebab, suami Nanda awalnya dari keluarga yang sederhana, sehingga ia juga mempunyai jiwa sosial yang cukup tinggi.

Nanda menjelaskan, bakti sosialnya itu tak pernah ia ceritakan ke guru di sekolahnya

Pun ia juga meminta agar orang tua dan muridnya tidak menceritakan ke siapapun, agar tak menimbulkan kecemburuan sosial dan kegaduhan di sekolah.

Nanda lebih menekankan agar mereka tidak putus sekolah, melanjutkan pendidikannya untuk mendapatkan kesempatan yang sama mengenyam ilmu pengetahuan.

"Tak ku sangka, jiwa sosial mu benar-benar kuat Na, polanya seperti saat kita kerja dulu, bergerak senyap tapi tujuannya jelas."

"Sekarang kamu mempraktikkan dalam dunia pendidikan, membantu anak sekolah dari anak yang tidak mampu, tanpa diketahui oleh siapapun. Aku kagum, terus terang aku belum bisa melakukan hal itu," kata ku. 

Nanda memandangku, ia tersenyum lembut sambil menuangkan air putih ke gelas yang kosong.

"Itu butuh tekat, keyakinan, dan dukungan, sama seperti pekerjaan kita dulu, ketika punya tekat, solid dan dukungan, kita bisa melewatinya sesulit apapun tugas itu. Karena di situ ada penopong dan berjuang tidak sendirian," kata Nanda menepuk bahuku. 

Malam terus bergulir, namun aku dan Nanda belum ada tanda mengantuk, kami masih sepakat melanjutkan diskusi di beranda rumah kendati dingin semakin mencekam.

Terus terang aku banyak belajar dari Nanda, tentang solidaritas, kebersamaan dan lainnya. Ia tidak pernah menyimpan dendam meskipun diremehkan. Sebab Nanda menganggap mereka belum belajar arti solidaritas. 

Mereka tambah Nanda hanya ingin tampil paling depan, ingin dipuji, sok pahlawan. Padahal ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan perut mereka sendiri. 

"Cara itu tidak baik, kotor, yang tak sepaham disingkirkan untuk memuluskan kepentingan perutnya agar selalu kenyang. Tapi secara tidak sadar, dia rela menjadi penjilat pantat," kata Nanda keras kala itu. 

"Ketika melihat realistis itu, yang perlu kita lakukan bekerja, tunjukkan kompetensi kita, tanpa harus menjatuhkan, juga harus menjaga kekompakan demi kepentingan bersama,". 

Sejak saat itu, pemikiranku sepaham dengan nya. Akhirnya Aku, Nanda, dan mendiang istriku, ibunya Lucyana Li intens berkomunikasi bertiga. Namun tetap menjaga kebersamaan dengan teman-teman lain yang lain. Tapi sebenarnya kami waspada, karena kami tidak paham siapa kawan dan lawan. 

Kami sadar waktu itu, seoarng kawan akan menjadi seorang pengkhianat, musuh, dan pecundang. 

Dan hingga kini persahabatanku dengan Nanda kokoh melebihi gedung pencakar langit, meskipun kini menekuni pekerjaan berbeda, dan terbentang jarak antar propinsi.

***

Kedekatan kami bertiga terendus oleh atasan kami saat itu. Namun ia tidak pernah mempermasalahkan, lalu ia pun mendapatakan pemikiran baru, agar dalam tim ini, terdapat tim kecil untuk memudahkan tugas.

Sebelum itu, kami ditugaskan dalam tim secara acak, akibatnya adakalanya menuai ketidaksingkronan di lapangan, saling menyalahkan meskipun tugas yang kami laksanakan selesai dengan mulus.

Nah sejak itu pula, aku sering ditugaskan dengan mendiang istriku, juga Nanda. Hingga memantik protes keras dari Mira. 

Bahkan Mira sempat bersitegang dengan Nanda, ia dianggap sebagai biang kerok, mempengaruhi atasan kami dan mengubah kebijakan tugas dengan pola yang baru. 

"Aku tidak pernah mengusulkan itu ke atasan, Mir, atasan sendiri yang memutuskan, jadi tuduhanmu tidak benar. Lalu apa yang memberatkanmu, kalau kami dibentuk tim kecil?" tukas Nanda 

"Itu tidak fair, tidak memberikan kesempatan diantara kita untuk dapat bertugas bersama seperti dulu. Dan kami curiga, kamu mencari muka ke atasan kami," ucap Mira Sarkas. 

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Ucapan Mira memantik amarah mendiang istriku, ia mengepalkan tangan, siap membungkam Mira. Namun dicegah oleh Nanda. 

Setalah itu, kami meninggalkan Mira tak perduli dia mengoceh dan menghina kami. Lagi-lagi mendiang istriku tidak terima, ia berbalik arah siap bergerak ke arah Mira yang masih berdiri dengan amarahnya.

Langkahnya pun dicegah oleh Nanda, menarik lengannya agar tidak terprovokasi. Namun sebelum kami pergi mendiang istriku mengacungkan jari tengah ke Mira. 

Mira naik pitam, ia berlali ke arah kami untuk bikin perhitungan, akan tetapi Nanda menyuruh kami berlari tidak usah meladeni dia.

Kami kejar-kejaran di gang kecil, setelah beberapa menit kami pun lolos dari kejaran dia, karena Mira tidak paham tempat ini. 

"Kenapa kita harus lari, harusnya kamu memberikan kesempatan bagi saya untuk membungkam mulutnya," kata mendiang istriku. 

"Sesama teman tidak boleh berkelahi apapun masalahnya, kita selesaikan dengan baik-baik. Kalaupun kita harus meminta maaf dulu, kita lakukan, itu tidak merugikan," tegas Nanda.

"Lalu bagaimana jika masalah ini berlanjut, dia juga nanti akan membicarakan kita buruk di depan atasan. Bukankan mereka sering begitu, sering membicarakan kita dengan citra negatif, kepada teman sendiri, atauapun atasan." kataku.

"Tak usah dipikirkan, kita atasi bersama-sama, apapun konsekuensinya. Tapi percayalah atasan kita menyaring infromasi dua sisi, tidak membedakan-bedakan, apalagi mendiskreditkan," beber Nanda.  

***

Tak berselang lama, tampak Lucyana Li nongol di beranda, ia tersenyum menyapi kami, lantas duduk di antara aku dan Nanda. 

Wajahnya tampak ceria, innerbeauty nya memancarkan aura positif yang menambah keanggunannya.

"Kenapa kamu belum tidur Nak?" tanya Nanda. 

"Baru bangun tidur, bi..., terus mandi dan meditasi," katanya dengan nada yang jujur. 

"Bagus, kamu sering meditasi?" 

Baca juga: Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)

"Iya bi, sudah lama, diajari ibu, kadang bersama-sama, kami bertiga dengan Ayah."

Lucyana menjelaskan ia tidak hanya diajari ilmu beladiri agar insiden masa lalu ibunya tidak alaminya. Tapi ibunya, saudara tua mendiang istriku, yang merawatnya sejak kecil mengajarkan Lucy spritual. 

Lucy menambahkan, pembelajaran yang diterimanya step by step menyesuaikan dengan tingkat kematangan rohaninya. Sehingga pembelajarannya mampu diterima dengan baik.

Lucy mengaku, ia sering digembleng di tengah malam, bahkan di tengah turun hujan sekalipun, untuk memupuk kematangan, keteguhan, dan ketagguhan jiwanya. 

Atas gemblengan itu, diusianya yang remaja ia sudah mulai berpikir dewasa, disiplin, tanggug jawab, tanpa harus melalaikan kewajabannya untuk menempa ilmu di sekolah. 

"Kamu ingat kata Ayah kemarin?" Lucy memandungku, seolah penasaran, ia coba menebak.

"Sparing sama Bibi Nanda," katanya ketawa, dari sorot matanya ia sebenarnya ingin melakukan hal itu. Tapi ia khawatir dimarahi sama Ibunya. 

Ia bilang kemampuannya tidak boleh digunakan untuk pamer, apalagi menyakiti orang. Ia hanya diminta untuk melakukan pembelaan diri ketika terdesak atau diserang. 

Lucy diminta rendah hati, tidak menonjolkan kemampuannya, sehingga di tengah teman-temannya, ia dikenal remaja yang sederhana, punya solidaritas yang kuat, dan dermawan. 

"Kalau nanti diperbolehkan sparing sama ibu mu kamu bersedia," Lucy cuma menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sepetinya malu, kemudian menggelengkan kepala.

"Enggak Yah, aku sungkan, Bibi orang hebat, pengalamannya banyak." tutup Lucy menunduk. Sementara Nanda tersenyum, ia tahu apa yang dikatakan sahabatnya itu cuma guyonan, dan tak mungkin sparing.

Ia sudah berhenti latihan dan fokus mengurus keluarga dan anak didiknya di sekolah. Kalaupun latihan, hanya sebulan sekali. 

"Ya sudah, nanti saya bilang ke Mbak, kamu ingin sparing sama Bibi mu..." Mendegar itu Lucy cemberut, menatapku, lalu memukul bahuku dengan manja.

*)Oleh: Roy Arudam

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru