Panggung politik Surabaya mulai bergetar. Golkar dan Gerindra sudah bergerak, menandai babak baru persaingan kekuasaan yang tidak menunggu aba-aba kampanye resmi.
Keduanya melakukan manuver terukur, mengisi ruang yang terbuka lebar buntut PDIP terjebak dalam pusaran konflik internal yang terus dipelihara oleh faksi-faksi lama.
Baca juga: Armuji Bantah PAW Ketua DPRD Surabaya Mengerucut Tiga Nama: “Jare Sopo?”
Di saat partai lain memacu konsolidasi, PDIP justru sibuk memadamkan api di dapurnya sendiri. Dan politik memiliki hukum besi ruang yang kosong tidak akan pernah dibiarkan kosong terlalu lama.
Ketika sebuah partai kehilangan fokus, lawan tidak hanya masuk mereka mengambil alih panggung.
Dominasi PDIP di Surabaya tidak lagi berada pada posisi aman. Retak internal yang dibiarkan tanpa penyelesaian hanya akan mempercepat pergeseran kekuatan.
Baca juga: Bantah Bukan Karena Lalai, Bahtiyar Atribut Gerindra di Surabaya Dicopot Hari Ini
Loyalitas akar rumput cepat berubah ketika melihat siapa yang bekerja, bukan siapa yang merasa berhak.
Hari ini, Golkar memainkan momentum. Gerindra memperkuat basis data dan struktur. Mereka tidak membuang waktu.
Jika PDIP masih terus larut dalam drama faksi dan perebutan kendali, maka risiko jatuhnya tahta politik hanya soal waktu, bukan kemungkinan.
Baca juga: Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan
Redaksi menilai, peringatan ini nyata. Surabaya memasuki fase di mana kekuatan politik ditentukan oleh kecepatan membaca situasi dan keberanian mengambil alih ruang yang ditinggalkan. Tinggal menunggu siapa yang akan berdiri paling akhir.
Tidak ada partai yang abadi di puncak. Yang abadi hanya perubahan.
Editor : Yuris. T. Hidayat