Jombang, JatimUPdate.id — Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyampaikan klarifikasi terkait polemik yang akhir-akhir menguncang Nahdhatul Ulama (NU).
Klarifikasi disampaikan Gus Yahya di hadapan para Mustasyar dan Kyai Sepuh, di Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (6/12).
Baca juga: PCNU Surabaya Masa Khidmat 2024-2029 di Lantik, Masduki Toha: Soliditas dan Sinergi Jadi Kunci Utama
Gus Yahya menyampaikan jawaban lengkap atas tuduhan yang diarahkan kepada dirinya beserta setumpuk dokumen pembuktian.
Gus Yahya menegaskan sejumlah keputusan yang diambil oleh pihak Rais Aam dan rapat harian Syuriyah dianggap menyimpang dari prosedur, menyalahi kewenangan, dan merusak tatanan organisasi.
“Rapat harian Syuriyah melakukan penghakiman tanpa memberi saya kesempatan klarifikasi. Itu pelanggaran fundamental. Bahkan sampai hari ini saya dicegah untuk menjawab langsung. Keputusan yang lahir dari proses bermasalah otomatis menimbulkan masalah beruntun: surat edaran bermasalah, rapat pleno bermasalah, bahkan pengambilalihan jabatan pun bermasalah,” tegas Gus Yahya.
Gus Yahya mengingatkan para muassis, utamanya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, membangun NU dengan kesadaran pengaruh personal tidak boleh mengalahkan aturan organisasi.
“Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari itu supreme kiai, pengaruhnya luar biasa. Tapi beliau tetap membuat AD/ART yang membatasi wewenangnya sendiri sebagai Rois Akbar. Itu pesan jelas: tatanan harus dijaga, bukan dipreteli seenaknya,” ujar Gus Yahya.
Baca juga: PT Puspa Agro Jajaki Peluang Kerjasama Dengan Yayasan Jagat Nutrisi Utama naungan PBNU.
Ia menyebut jika NU dikelola berdasarkan keputusan sepihak tanpa prosedur. Menurutnya NU dibawa mundur 100 tahun ke belakang, ke situasi sebelum organisasi ini berdiri.
Merespons klaim pergantian struktural dan rapat pleno tanggal 9 Desember adalah sah, Gus Yahya menjawab:
“Kalau dasar keputusannya saja cacat dan diambil lewat mekanisme yang tidak sah, semua turunannya otomatis cacat. Ini logika elementer organisasi. Menutup mata terhadap ini sama saja pura-pura.” tegasnya
Baca juga: UNU Sebagai Daya Ungkit Kemajuan Bangsa
Gus Yahya menegaskan sikap terbuka terhadap rekonsiliasi, tetapi menolak segala bentuk pengabaian terhadap konstitusi NU.
Ia menegaskan akan berkordinasi dengan para kiai sepuh, PWNU dan PCNU seluruh Indonesia untuk memastikan NU tetap berada pada rel konstitusional.
“Kami siap islah kapan saja. Tapi jangan paksa kami menerima proses yang menyalahi konstitusi jam’iyah. NU ini bukan milik perseorangan, bukan alat kuasa. Ini tanzim yang dibangun dengan darah dan akal para pendiri,” demikian Yahya Cholil Staquf. (roy/mmt)
Editor : Miftahul Rachman