Mahkota Para Bayangan (Bagian 2)

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan,jatimupdate.id
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan,jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Adrian Mahesa sudah berada di halaman sebuah sekolah dasar di pinggiran kota. Saat itu, tidak ada wartawan juga panggung. Hanya beberapa guru dan puluhan anak yang sedang mengikuti kegiatan membaca.

Adrian duduk bersila di antara mereka. Ia membacakan sebuah cerita, sesekali disambut tawa anak-anak.

Dari kejauhan, Elena memperhatikan semuanya dari balik kaca mobil. Ia tidak ikut mendekat, cuma melakukan pengamatan saja.

Setiap gerakan Adrian direkam oleh kamera kecil yang tersembunyi di balik tasnya. Ia tidak ingin mencari sensasi, namun membaca bahasa tubuh.

"Orang tidak mungkin berpura-pura terus-menerus. Pasti ada satu momen ketika topengnya terlepas." gumam Elena

Sayangnya hampir satu jam berlalu, Elena tidak menemukan apa pun.

Adrian tetap sama seperti yang ia lihat beberapa minggu terakhir. Sopan kepada petugas kebersihan, mengucapkan terima kasih kepada guru.

Bahkan sebelum meninggalkan sekolah, ia masih menyempatkan diri membantu seorang anak mengikat tali sepatunya.

Menurut Elena hal-hal kecil seperti itu sulit direkayasa.

Elena mulai memahami mengapa Damar begitu gelisah. Sebab lelaki seperti Adrian jauh lebih berbahaya dibanding politisi yang gemar berteriak di depan kamera.

                         ***

Malam harinya Elena menyusun laporan. Target masih bersih belum ditemukan penyimpangan finansial, juga hubungan pribadi yang dapat dimanfaatkan.

Laporan itu dikirim kepada Damar. Tak sampai lima menit, teleponnya berdering.

"Kamu sedang mengagumi targetmu?" suara Damar terdengar dingin.

"Saya hanya melaporkan fakta." bantah Elena, sambil melirik jam tangannya.

"Saya tidak membayar fakta." kata Damar dalam saluran seluler.

"Lalu?" sergah Elena.

"Saya membayar hasil." lalu sambungan telepon terputus. Elena mengembuskan napas panjang. Ia tahu, kesabaran Damar mulai habis.

                       ***

Dua hari kemudian Elena sengaja menghadiri seminar antikorupsi yang diisi Adrian sebagai pembicara. Usai acara, ia menghampiri Adrian dengan membawa beberapa lembar proposal.

"Pak Adrian, saya punya gagasan tentang pendidikan politik untuk generasi muda." kata Elena sambil menunjukkan proposal tersebut.

Adrian menerima proposal itu, kemudian memeriksa lembar per lembar kendati cuma membaca sekilas.

"Menarik." katanya.

"Kalau berkenan, saya ingin berdiskusi lebih lanjut." ujar Elena.

"Boleh." jawabnya singkat tidak ada kecurigaan di wajah Adrian.

Dari sudut pandangnya Elena hanyalah akademisi yang memiliki perhatian terhadap politik. Padahal sejak pertemuan pertama seluruh langkah telah dihitung. Mulai cara berpakaian, nada bicara hingga parfum yang digunakan.

Semuanya dirancang untuk membangun rasa nyaman, agar membuat target percaya semua pertemuan terjadi secara alami. Padahal setiap detiknya telah disusun sebelumnya.

                         ***

Seminggu berlalu pertemuan demi pertemuan mulai rutin terjadi. Adakalanya di sebuah kedai kopi, perpustakaan. Bahkan setelah seminar selesai pun perbincangan mereka hampir tidak pernah menyentuh urusan pribadi.

Justru itulah yang membuat Adrian merasa nyaman. Ia menganggap Elena berbeda dari kebanyakan orang yang selalu mendekatinya demi jabatan atau proyek.

Mereka lebih sering membahas buku, filsafat politik, hingga sejarah bangsa. Namun pada suatu suatu sore Elena memberanikan diri bertanya.

"Kenapa Anda memilih masuk politik?" kata Elena pelan, mendengar itu Adrian tersenyum kecil.

"Waktu kecil saya pernah melihat ayah saya dipersulit mengurus izin usaha. Sejak saat itu saya berpikir, kalau sistemnya buruk, jangan hanya mengeluh." bebernya.

"Lalu?" Elena melanjutkan pertanyaannya.

"Masuklah ke dalam sistem, dan memperbaikinya setidaknya mencoba," tutur Adrian. 

Elena terdiam, jawaban itu terdengar biasa namun ia tahu orang yang masih percaya pada idealisme merupakan tipe paling sulit dikendalikan.

Di sisi lain kota, Damar mulai menyusun rencana tahap berikutnya. Ia mengumpulkan tiga orang kepercayaannya.

"Sampai hari ini, tidak ada satu pun noda pada Adrian." gumam nya sambil berpikir untuk mencari celah pada diri Andrian.

"Apakah operasi dibatalkan?" tanya salah seorang. Namun Damar menggeleng.

"Justru sekarang dimulai." Ia membuka sebuah map berwarna merah. Di dalamnya terdapat puluhan foto Elena bersama Adrian.

Sebagian diambil saat seminar, sebagian lagi ketika mereka berdiskusi di kedai kopi. Semuanya tampak biasa. Kendati begitu Damar tersenyum seakan-akan menemukan sebuah celah.

"Foto tidak pernah berbicara yang berbicara adalah narasi." tukasnya sambil tersenyum.

Semua orang di ruangan itu saling berpandangan mulai memahami maksud Damar. Foto-foto itu akan dipotong lalu dipilih sudut yang paling tepat. Kemudian disebarkan dengan cerita yang telah disiapkan. Tidak perlu benar. Cukup meyakinkan. 

                        ***

Malam itu Elena menerima panggilan rahasia. Ia diminta datang ke sebuah rumah tua di pinggir kota, rumah itu gelap. Hanya satu lampu ruang tamu yang menyala, Damar sudah menunggu.

"Aku ingin operasi dipercepat."

"Masih terlalu dini."

"Tidak." Damar menggeser sebuah amplop cokelat. Di dalamnya terdapat uang muka tambahan, jumlahnya hampir dua kali lipat dari kesepakatan awal.

"Kalau target tidak punya skandal, buat dia jatuh cinta." Elena mengangkat wajah.

"Apa?"

"Dekati dia buat dia percaya, kalau perlu buat dia kehilangan akal sehat. Itulah arti sebenarnya honey trap." papar Damar. Ruangan mendadak sunyi.

Selama bertahun-tahun Elena memang menjalankan operasi semacam itu. Namun selalu ada batas, ia tidak pernah benar-benar melibatkan perasaan.

Sebab ia tahu orang pertama yang hancur dalam sebuah honey trap sering kali bukan targetnya. Melainkan operatornya sendiri. Elena menatap Damar beberapa detik.

"Kalau saya gagal?" Elena menatap Damar serius. Sementara Damar cum tersenyum tipis.

"Kamu tidak pernah gagal."

"Tidak." Elena membalas pelan.

"Yang belum pernah saya lakukan adalah mengkhianati hati nurani." tegas Elena.

Untuk pertama kalinya senyum Damar menghilang. Ia sadar operator terbaiknya mulai berubah.

Namun tanpa diketahui keduanya, di dalam mobil yang terparkir sekitar seratus meter dari rumah tua tersebut, seorang pria sedang memotret setiap orang yang keluar dari bangunan itu menggunakan kamera berlensa panjang.

Ia bukan anak buah Damar, bukan pula anak buah Elena. Melainkan seseorang yang selama ini diam-diam mengawasi mereka berdua.

Di dashboard mobil hanya terdapat secarik kertas bertuliskan satu kalimat.

"Operasi telah dimulai jangan percaya siapa pun." gumamnya.