Warkop Ekspektasi Bagian 2: Bara di Ruang Tamu (Seri 1)

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspektasi
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspektasi

JatimUPdate.id - Malam mulai turun ketika Bahar Khan meninggalkan Warkop Ekspektasi. Satu per satu koleganya berpamitan setelah pembahasan yang sejak sore berlangsung berakhir. 

Pertemuan itu tidak menghasilkan keputusan yang bersifat mengikat. Mereka hanya saling bertukar pandangan mengenai kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Bahar Khan memilih pulang lebih dahulu. Sepanjang perjalanan ia memikirkan berbagai usulan yang sempat mengemuka. 

Baginya, persoalan ekonomi tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan pemerintah. Masyarakat juga harus memiliki keberanian untuk bangkit dan saling menguatkan.

Motor tuanya melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu. Sesekali ia berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. 

Wajahnya tampak tenang sama sekali tidak terlintas dalam benaknya seseorang telah lebih dulu menunggunya di rumah.

Beberapa menit kemudian, Bahar Khan tiba di halaman rumah. Ia mematikan mesin motor, lalu melepas helm yang sedari tadi menempel di kepalanya. Suasana rumah terlihat lebih lengang dari biasanya. Lampu ruang tamu masih menyala, sementara pintu depan tidak terkunci.

"Assalamu'alaikum." salam itu menggema pelan. Tak lama kemudian Bahar Khan melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju ke arah ruang tamu. 

Ayu Chen duduk seorang diri di atas sofa. Kedua tangannya saling menggenggam. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sejak tadi berusaha ia tahan.

"Sudah lama di sini?" tanya Bahar Khan sambil meletakkan kunci motor di atas meja.

Ayu Chen tidak menjawab. Ia hanya menatap Bahar Khan tanpa berkedip. Sikap itu membuat Bahar Khan menghentikan langkahnya. 

Ia mengenal perempuan itu cukup lama. Kendati begitu diamnya Ayu Chen sering kali lebih menakutkan daripada kemarahannya.

"Ada apa?" tanyanya lagi. Namun Ayu Chen masih tidak mau jawaban. Beberapa saat kemudian Ayu Chen berdiri. 

Ia berjalan mendekati Bahar Khan dengan langkah perlahan. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari wajah lelaki yang berdiri di hadapannya.

"Kamu habis dari mana?" tanya dia.

"Dari Warkop Ekspektasi." jawab Bahar Khan.

"Bersama siapa?"

"Beberapa teman lama."

Ayu Chen menganggukkan kepala pelan.

"Aku tahu." Bahar Khan mengernyitkan dahi.

"Kamu tahu?"

"Aku melihat sendiri." Kalimat itu membuat Bahar Khan mulai memahami arah pembicaraan. Ia terdiam sejenak lalu menarik sebuah kursi.

"Duduk dulu. Biar aku jelaskan." mendengar penjelasan Bahar Khan, Ayu Chen cuma menggeleng.

"Aku tidak ingin duduk." kata Ayu Chen cuek.

"Bukankah lebih baik kita bicara baik-baik?"

"Yang aku butuhkan bukan penjelasan."

"Lalu?"

"Kejujuran."

Suasana ruang tamu kembali sunyi. Bahar Khan menghela napas pelan. Ia tidak menyangka pertemuan yang menurutnya biasa saja justru menimbulkan kecurigaan sebesar itu.

"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" tanyanya dengan nada tenang.

Ayu Chen tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah sesaat sebelum kembali menatap Bahar Khan.

"Pertemuan itu bukan hanya minum kopi." Bahar Khan tersenyum tipis.

"Memang bukan."

"Nah, akhirnya kamu mengaku."

"Kami membahas keadaan ekonomi."

"Ekonomi?"

"Iya."

"Jangan anggap aku bodoh." Bahar Khan cuma bisa mengusap wajahnya dengan perlahan.

Ia mulai menyadari apa pun penjelasan yang disampaikan belum tentu mampu mengubah prasangka yang sudah telanjur tumbuh di hati Ayu Chen.

Bagi Bahar Khan, rasa curiga yang dibiarkan berkembang memang sering kali lebih kuat daripada kenyataan. Sekali seseorang mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasan, setiap kata yang keluar sesudahnya akan dianggap sebagai pembelaan.

Namun ia masih mencoba bersabar. Sebab dari sudut pandangnya kemarahan tidak akan pernah selesai jika dibalas dengan kemarahan pula.

Sebaliknya, Ayu Chen semakin sulit mengendalikan pikirannya. Bayangan pertemuan di Warkop Ekspektasi terus berputar di kepalanya.

Wajah-wajah yang duduk satu meja dengan Bahar Khan kembali bermunculan dalam ingatannya. Mereka bukan orang asing. Sebagian pernah dikenal sebagai orang-orang yang lantang mengkritik kekuasaan.

Kini mereka kembali berkumpul. Ayu Chen, memandang pertemuan itu terlalu sulit dipercaya jika hanya membahas persoalan ekonomi.

Bahar Khan memandang perempuan di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia mengenal Ayu Chen sebagai sosok yang tegas. Namun ketegasan itu acap kali berubah menjadi kecurigaan ketika sesuatu tidak sesuai dengan jalan pikirannya.

Malam itu ia kembali merasakan hal yang sama. Dan ia mulai khawatir, pembicaraan mereka akan berakhir bukan dengan saling memahami melainkan saling melukai.