Penjaga Pohon Pisang Itu Telah Pergi
Oleh Rio Rolis
Jurnalis JatimUPdate
Blitar, JatimUPdate.id - Beberapa hari lalu saya menulis tentang pohon pisang yang menjadi filosofi Gobel Group. Saya tidak pernah membayangkan, sebelum tulisan itu selesai menemukan pembacanya, salah seorang penjaga pohon itu lebih dahulu meninggalkan kita.
Jumat dini hari, kabar duka itu datang dari akun resmi Gobel Group. H. Rachmat Gobel bin H. Thayeb Mohammad Gobel, Chairman Gobel Group, wafat pada usia 64 tahun.
Bagi banyak orang, Rachmat Gobel dikenal sebagai pengusaha, mantan Menteri Perdagangan, dan tokoh nasional. Namun setelah beberapa pekan menelusuri jejak ayahnya, saya melihatnya sebagai sosok yang menjalankan tugas yang lebih sunyi: memastikan pohon yang ditanam Thayeb Mohammad Gobel tujuh puluh tahun lalu tidak mati ketika batang utamanya tumbang.
Dari Garasi ke Generasi
Pada 1954, Thayeb Mohammad Gobel memulai perjalanan dari sebuah garasi kecil di Jakarta. Dari sana lahir radio TJAWANG, radio pertama yang dirakit di Indonesia. Yang ditanam Thayeb bukan sekadar perusahaan, melainkan keyakinan bahwa Indonesia bisa membuat sendiri.
Rachmat Gobel lahir delapan tahun kemudian, pada 1962—tahun ketika Gobel memproduksi 10.000 televisi untuk Asian Games IV Jakarta. Ia tumbuh bukan di tengah cerita tentang kemewahan, melainkan di tengah cerita tentang keberanian memulai.
Dalam banyak perusahaan keluarga, generasi kedua sering menghadapi dua pilihan sulit: menjadi bayang-bayang pendiri atau memutuskan hubungan dengan warisan lama. Rachmat Gobel memilih jalan yang berbeda. Ia menjaga akar, tetapi membiarkan cabang tumbuh mengikuti zamannya.
Filosofi Pohon Pisang
Barangkali karena itu, saya kembali membuka catatan yang saya kumpulkan ketika menulis feature tentang Thayeb Mohammad Gobel. Di sanalah saya menemukan kembali alasan mengapa pohon pisang dipilih sebagai filosofi Gobel Group.
Gobel Group memiliki filosofi resmi yang unik: Filosofi Pohon Pisang. Filosofi itu berbicara tentang kebersamaan, rela berkorban, semangat melayani manusia, dan kewajiban mempersiapkan generasi penerus. Laba bukan tujuan akhir, melainkan ukuran seberapa baik perusahaan memenuhi kewajibannya kepada masyarakat.
Saat pertama kali membaca filosofi itu, saya teringat masa kecil di Sungai Kelingi, Lubuklinggau. Gedebog pisang kami jadikan rakit. Kadang satu batang, kadang tiga batang yang disambung dengan bilah bambu agar mampu menahan tubuh anak-anak yang sedang belajar menaklukkan arus. Setelah selesai dipakai, gedebog itu membusuk di tepi sungai. Tetapi dari pangkal pohon yang sama, tunas baru sudah bersiap tumbuh.
Mungkin di situlah saya memahami mengapa keluarga Gobel memilih pohon pisang sebagai simbol. Yang penting bukan batangnya bertahan selamanya. Yang penting adalah kemampuannya melahirkan kehidupan berikutnya.
Menjaga yang Dititipkan
Di bawah kepemimpinan Rachmat Gobel, Gobel Group tidak berhenti sebagai perusahaan elektronik. Bisnis berkembang ke berbagai sektor, kemitraan internasional dipertahankan, dan filosofi perusahaan diterjemahkan ke dalam struktur korporasi modern.
Yang menarik, ia tidak sekadar mewarisi perusahaan. Ia mewarisi cara berpikir. Dalam Tujuh Prinsip Gobel Group—dedikasi, kejujuran dan keadilan, kerja sama harmoni, perbaikan berkesinambungan, kesopanan dan kerendahan hati, kemampuan beradaptasi, serta rasa syukur—terlihat upaya menjaga nilai agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Itulah pekerjaan yang sering tidak terlihat. Membangun perusahaan memang sulit, tetapi menjaga ruh perusahaan agar tidak berubah menjadi sekadar mesin keuntungan sering kali jauh lebih sulit.
Warisan yang Berlanjut
Kini, ketika ucapan duka mengalir dari berbagai tokoh nasional, publik mungkin akan mengingat jabatan-jabatannya: pengusaha, menteri, anggota DPR, pemimpin organisasi. Namun ada warisan lain yang barangkali lebih penting.
Rachmat Gobel meninggalkan contoh bahwa generasi penerus tidak harus lebih keras bersuara daripada pendirinya. Kadang tugas terbesar adalah memastikan nilai yang diwariskan tetap hidup, lalu menyerahkannya lagi kepada generasi berikutnya.
Di tepi Sungai Kelingi, pohon pisang yang batangnya tumbang tidak pernah benar-benar mati. Selama bonggolnya masih hidup, tunas baru akan menemukan jalan untuk tumbuh.
Hari ini, salah seorang penjaga bonggol itu telah pergi. Pohon memang kehilangan satu penjaganya. Namun selama akar nilai yang ditanam Thayeb Mohammad Gobel masih dirawat oleh generasi berikutnya, pohon itu belum selesai berbuah. Dan mungkin, begitulah cara terbaik mengenang Rachmat Gobel: bukan dengan menghitung jabatan yang pernah disandangnya, melainkan dengan memastikan pohon yang ia jaga tetap hidup untuk orang-orang yang belum lahir hari ini.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan obituari yang ditulis Rio Rolis, jurnalis JatimUpdate. Beberapa hari sebelumnya, penulis menyelesaikan feature "Sisakan Bonggol Akarnya: Thayeb Mohammad Gobel, Pohon Pisang, dan 70 Tahun Regenerasi" untuk Kompetisi Jurnalistik Anugerah Pena Gobel 2026.
Wafatnya H. Rachmat Gobel menjadikan obituari ini sebagai kelanjutan alami dari ikhtiar mendokumentasikan warisan nilai keluarga Gobel.
Editor : Redaksi