Oleh: Didik P. Wicaksono
Anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Probolinggo Jawa Timur.
Baca juga: IBS PKMKK Gelar Workshop Academic Writing : Dorong Pemanfaatan AI Secara Etis
Surabaya, JatimUPdate.id - Apa kabar pembelajaran artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan coding diterapkan pada satuan pendidikan?
Di awal tahun pelajaran baru 2025 sempat viral pandangan berbeda tentang kecerdasan buatan. Satu pandangan mengatakan bahwa manusia tanpa kecerdasan buatan akan kalah dalam kompetisi global.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ethan Mollick dalam Co-Intelligence: Living and Working with AI (2024), yang menyebut AI sebagai mitra berpikir yang memperluas cakrawala dan kreativitas manusia.
Pandangan lainnya menilai kecerdasan buatan justru bisa melemahkan daya pikir dan memperkuat kebodohan alami manusia. Di sinilah muncul dilema mendidik sesuai zaman—antara menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang terus bergerak maju, atau menjaga kemurnian nilai kemanusiaan agar tidak tergerus oleh arus digital.
Dilema tersebut sebenarnya bukan tentang memilih manusia atau mesin, melainkan bagaimana keduanya saling melengkapi dalam menumbuhkan kebijaksanaan.
Sebagai pembelajar dan pengajar di Indonesia, saya percaya kecerdasan buatan adalah big data dari pena (tulisan) dan lisan (perkataan), merekam jejak tutur dan pikir manusia lintas generasi yang dalam hitungan detik dapat dihadirkan kembali.
Bertanya pada “teknologi cerdas” bukan berarti menyerahkan akal, melainkan mengasah, mengoreksi, dan mencari makna.
Tulisan ini pun lahir dari proses menggali, merenung, dan merangkai pemahaman, dengan bantuan mesin cerdas sebagai kawan dialog belajar.
Kecerdasan buatan pada hakikatnya adalah alat bantu teknis yang mempermudah tugas, memperluas wawasan, dan memicu kreativitas. Bahkan dalam ranah yang dianggap khas manusia—pembentukan karakter—kecerdasan buatan dapat hadir sebagai mitra inspiratif dalam memperkuat makna pendidikan karakter.
Dalam konteks pendidikan, penguatan karakter dilakukan melalui pembiasaan positif di sekolah dan adaptasi terhadap ekosistem digital. Kebijakan pemerintah terkini, seperti Surat Edaran Bersama Tahun 2025, mendorong delapan karakter utama bangsa: religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, kerja keras, disiplin, mandiri, dan bermanfaat.
Selain itu, program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menekankan pembiasaan beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Fokus utamanya adalah membentuk kepribadian yang tangguh dan relevan dengan tantangan zaman digital.
Dialog dengan mesin kecerdasan buatan bukanlah upaya mematikan akal. Sebaliknya, ia dapat menjadi pemicu lahirnya pemahaman baru. Saya memilih tetap hadir sebagai manusia yang berpikir, bertanya, dan bertanggung jawab, meski sebagian langkah ditempuh bersama kecerdasan buatan.
Baca juga: Ruang Berfikir Pasca Generasi Z
Ketika dunia pendidikan mendorong terwujudnya Pelajar Berkarakter Pancasila, para pengambil kebijakan dan pelaku pendidikan perlu berpandangan terbuka dan tidak terjebak pada sikap curiga terhadap teknologi. Kecerdasan buatan justru dapat menjadi instrumen pembelajaran, refleksi nilai, dan penguatan karakter Pelajar Pancasila.
Di ruang kelas, pendidik berhadapan dengan pelajar yang memiliki potensi kecerdasan beragam. Tantangannya adalah bagaimana membumikan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, yakni: (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) mandiri; (3) bernalar kritis; (4) gotong royong; (5) berkebinekaan global; dan (6) kreatif.
Salah satu pendekatan kreatif yang dapat dilakukan adalah melalui penugasan karya akrostik berbasis identitas atau tema yang dekat dengan kehidupan pelajar. Akrostik merupakan teknik sastra berupa rangkaian kata atau frasa yang disusun dari huruf awal suatu kata kunci.
Pada tataran praksis pembelajaran, dipilih akrostik “Jatim Update” sebagai analogi. Akrostik ini dipetakan sebagai representasi nilai dan dimensi Profil Pelajar Pancasila sebagai berikut: J–Jujur dan berakhlak mulia, A–Adaptif dalam kebhinekaan global, T–Tangguh dan mandiri, I–Inovatif dan kreatif, M–Mau bergotong royong dan bermusyawarah, U–Unggul dalam bernalar kritis, P–Peduli sesama dan lingkungan, D–Disiplin dan bertanggung jawab, A–Aktualisasi nilai-nilai Pancasila, T–Tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat, E–Etis dalam berpikir, bersikap, dan bermedia digital.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan simpul karakter yang saling terhubung. Kejujuran menjadi fondasi moral; adaptif membekali pelajar hidup di tengah perubahan global; ketangguhan dan kemandirian menguatkan daya juang; inovasi dan kreativitas mendorong solusi; gotong royong menumbuhkan kepedulian sosial; bernalar kritis melatih daya refleksi; disiplin dan tanggung jawab membentuk integritas; aktualisasi nilai Pancasila meneguhkan identitas kebangsaan; semangat belajar sepanjang hayat menjaga relevansi diri; sementara etika digital menjadi penyangga utama agar kecerdasan buatan dan teknologi dimanfaatkan secara bermartabat, manusiawi, dan bertanggung jawab.
Akrostik “Jatim Update” ini dikreasikan bersama kecerdasan buatan sebagai contoh. Pelajar selanjutnya dapat menyusun akrostik dari nama, cita-cita, atau tema pilihan mereka sendiri. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan melekat pada identitas personal pelajar.
Dalam proses ini, kecerdasan buatan berperan menyediakan alternatif diksi, struktur refleksi, serta pengayaan makna, dengan pendidik tetap memegang peran utama sebagai pembimbing nilai.
Baca juga: UB Launching Artificial Intelligence (AI) Center
Pelajar juga dapat ditugaskan menyusun buku pribadi berjudul “Aku Pelajar Pancasila” yang memuat keenam dimensi tersebut dalam bentuk kisah, refleksi, puisi, infografik, atau proyek digital lainnya. AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra diskusi, penyusun kerangka, dan pengolah ilustrasi.
Lebih lanjut, pelajar dapat menghasilkan video pendek nilai Pancasila, podcast refleksi mingguan, poster digital kampanye toleransi, vlog aktivitas harian, hingga majalah digital kolaboratif lintas kelas.
Pendekatan ini selaras dengan teori constructivist learning dari Piaget (1952) dan Vygotsky (1978), yang menekankan pentingnya pengalaman belajar aktif, sosial, dan bermakna. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan berfungsi sebagai scaffolding atau penopang belajar.
Teori social learning (Bandura, 1977) turut menguatkan bahwa identitas Pelajar Pancasila terbentuk melalui pengalaman, refleksi, dan keteladanan di ruang sosial maupun digital.
Dengan demikian, integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan karakter bukan hanya menyiapkan pelajar menghadapi revolusi digital, tetapi juga menumbuhkan manusia Indonesia seutuhnya—cerdas, berakhlak, mandiri, dan berdaya guna.
Kecerdasan buatan bukan ancaman, melainkan kesempatan. Di sanalah letak dilema mendidik sesuai zaman—antara menjaga nilai dan merangkul perubahan. Bila dibimbing dengan bijak, teknologi akan menjadi ladang subur bagi tumbuhnya karakter dan kebajikan di dunia digital yang terus bergerak. (red)
Editor : Redaksi