Ketua PDM Bondowoso: Dakwah Jangan Hanya untuk yang Sudah di Masjid
Jember, JatimUPdate.id – Dakwah jangan berhenti di lingkaran orang-orang yang sudah taat. Islam harus hadir menyapa yang belum paham, bukan sibuk menghakimi apalagi merasa paling benar.
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan
Pesan itu ditegaskan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bondowoso, M. Malik, M.Ag., saat mengisi sesi Kuliah Subuh dalam rangkaian Kajian Ramadan 1447 H yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Minggu (22/2/2026).
Di hadapan jamaah Masjid Al-Qolam, M. Malik menyoroti tantangan dakwah modern yang dinilainya masih terlalu nyaman bergerak di wilayah internal umat.
“Dakwah kita jangan hanya kepada orang yang sudah khusyuk di masjid. Kita harus mulai mengenalkan nilai Al-Qur’an kepada mereka yang belum paham, membangun kawan, dan menghindari sikap mudah mengkafirkan sesama,” tegas M. Malik. M. Ag.
Meluruskan Kesalahpahaman terhadap Islam
Mengawali kajiannya, M. Malik mengutip pemikiran Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Islam yang Disalahpahami.
Ia menilai, banyak kritik terhadap Islam lahir bukan karena kebencian semata, tetapi karena ketidaktahuan terhadap konteks sejarah dan ajaran yang utuh.
Salah satu yang kerap dipersoalkan adalah pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy.
Menurut M. Malik, peristiwa itu tidak bisa dipahami secara parsial, apalagi dengan sudut pandang modern yang terlepas dari konteks sosial saat itu.
Ia menjelaskan, pernikahan tersebut merupakan perintah Allah untuk meruntuhkan tradisi jahiliyah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam persoalan nasab dan waris.
“Ini salah satu ujian terberat bagi Rasulullah. Beliau menghadapi kritik tajam dari masyarakat demi menegakkan hukum Allah bahwa status anak angkat tidak sama dengan anak kandung dalam syariat,” jelasnya.
Menurutnya, di sinilah pentingnya dakwah berbasis literasi dan argumentasi ilmiah, agar umat tidak gagap ketika berhadapan dengan tudingan atau distorsi sejarah.
Kritik untuk Internal Umat
Tak hanya menjawab kritik eksternal, M. Malik juga menyampaikan evaluasi terhadap persoalan internal umat Islam.
Ia menyinggung fenomena pengkultusan nasab secara berlebihan yang berpotensi melahirkan sikap eksklusif bahkan diskriminatif. Padahal, tegasnya, Islam menempatkan kemuliaan seseorang pada ketakwaannya, bukan garis keturunan.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan kebersihan yang sering dianggap sepele.
“Kalau kita membuang sampah sembarangan, seolah-olah kita menganggap seluruh muka bumi ini adalah tempat sampah. Ini bentuk pelecehan terhadap upaya menjaga lingkungan yang seharusnya menjadi cerminan iman,” ujarnya.
Baca Juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat
Pesan itu sekaligus menjadi refleksi bahwa dakwah tidak hanya soal ceramah, tetapi juga keteladanan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Dakwah Inklusif dan Rahmatan Lil ‘Alamin
Menutup tausiyahnya, Ketua PDM Bondowoso itu mendorong warga Muhammadiyah memperluas jaringan dakwah secara inklusif. Interaksi dengan kelompok di luar Muhammadiyah maupun masyarakat lintas agama harus dibangun dengan pendekatan santun, dialogis, dan edukatif.
Baginya, dakwah yang kuat bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling luas jangkauannya dan paling meneduhkan dampaknya.
Kajian yang berlangsung khidmat tersebut menjadi bagian dari rangkaian Kajian Ramadan 1447 H PWM Jawa Timur, sekaligus penguatan komitmen untuk menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. (ries/mmt)
Editor : Miftahul Rachman