Menu MBG Ramadan di SPPG Dadapan 2 Bondowoso Disorot Wali Murid, Kepala SPPG: Silakan Dibandingkan
Bondowoso, JatimUPdate.id – Menu Makan Bergizi (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Bondowoso menjadi sorotan sejumlah wali murid. Mereka menilai porsi dan variasi menu yang dibagikan kepada siswa perlu dievaluasi.
Baca Juga: Dialog Terbuka sebagai Jalan Kepemimpinan yang Kuat: Sebuah Pandangan untuk Presiden Prabowo
Beberapa wali murid menyampaikan bahwa menu yang diterima siswa selama Ramadan berbeda dari hari-hari biasa, baik dari segi jenis maupun komposisi makanan.
Hal ini menimbulkan beragam tanggapan di kalangan orang tua, khususnya di salah satu sekolah dasar yang dilayani Dapur SPPG Dadapan 2 Kecamatan Grujugan, Bondowoso.
Beberapa wali murid menilai komposisi menu kering yang didominasi roti dan buah kurang bervariasi serta belum sesuai ekspektasi terhadap standar program yang selama ini dikenal senilai sekitar Rp10 ribu per porsi.
“Bukan soal tidak bersyukur, tapi kami berharap kualitasnya bisa lebih baik dan sesuai standar yang disampaikan,” ujar salah satu wali murid.
Selain kualitas menu, mekanisme pengambilan juga menjadi sorotan. Pada Senin dan Selasa (23–24 Februari 2026), siswa kelas 1, 2, dan 3 menjalani pembelajaran dari rumah karena kelas 4, 5, dan 6 mengikuti kegiatan pesantren Ramadan di sekolah.
Meski belajar dari rumah, siswa kelas rendah tetap harus datang ke sekolah untuk mengambil jatah MBG.
Sebagian orang tua mengaku keberatan harus datang setiap hari dalam kondisi berpuasa, terlebih jika jarak rumah cukup jauh. Mereka mengusulkan agar pembagian menu kering dapat dirapel dua hingga tiga hari sekali agar lebih efisien.
“Kalau bisa dirapel beberapa hari, mungkin lebih ringan bagi orang tua,” ungkap wali murid lainnya.
Baca Juga: Separuh Badan Jalan Ambrol, Jembatan Sentong Ditutup Total; Perbaikan Diperkirakan 8 Bulan
“Tidak apa-apa jika dibagikan beberapa hari sekali, yang penting benar-benar dikonsumsi anak-anak,” tambah wali murid lain.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Dadapan 2 menjelaskan bahwa perbedaan porsi disesuaikan dengan kebutuhan jenjang kelas siswa.
“Memang beda menu kelas atas dengan kelas rendah atau porsi kecil. Itu disesuaikan kebutuhan masing-masing jenjang,” jelasnya.
Terkait kualitas menu, ia mempersilakan masyarakat untuk membandingkan dengan layanan SPPG lainnya.
“Bisa dibandingkan dengan SPPG yang lainnya nggih untuk menu harian,” ujarnya kepada tim JatimUPdate, Senin (23/2/2026).
Sejumlah wali murid berharap adanya peningkatan variasi menu agar siswa tetap mendapatkan asupan gizi seimbang meskipun dalam suasana Ramadan.
Mereka juga menginginkan penjelasan lebih rinci mengenai standar komposisi dan evaluasi mekanisme distribusi. Komunikasi yang transparan dinilai penting agar program MBG tetap berjalan optimal dan menjaga kepercayaan publik.
Isu penyesuaian menu MBG selama Ramadan juga menjadi perhatian di sejumlah daerah lainnya, khususnya terkait variasi menu dan mekanisme distribusi.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari upaya pemenuhan gizi bagi siswa yang bertujuan mendukung kesehatan dan konsentrasi belajar. (ries/mmt)
Editor : Miftahul Rachman