Tak Lagi Dianggap Mencekam, Astono Ubah Cara Pandang Jamaah Haji Bondowoso terhadap Armuzna
Bondowoso, JatimUPdate.id, – Di balik lancarnya pelaksanaan ibadah haji jemaah Bondowoso tahun ini, terdapat perubahan pendekatan pembinaan yang cukup menarik.
Jika selama ini fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) kerap digambarkan sebagai rangkaian ibadah yang berat dan melelahkan, kini cara pandang tersebut mulai diubah.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Bondowoso, Astono, menilai salah satu keberhasilan pembinaan haji tahun ini adalah mengubah persepsi jemaah terhadap Armuzna menjadi pengalaman spiritual yang membahagiakan.
"Salah satu bentuk keberhasilan pembinaan haji adalah bagaimana mengubah image bahwa pelaksanaan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina merupakan sesuatu yang membahagiakan, sesuatu yang menjadi pengalaman terindah dalam sejarah hidup mereka yang berhaji," ujarnya kepada JatimUPdate.id, Jumat (29/5/2026).
Menurut Astono, selama bertahun-tahun banyak calon jemaah menerima gambaran bahwa Armuzna adalah fase yang sangat berat, panas, melelahkan, bahkan menegangkan.
Kondisi itu secara tidak langsung memengaruhi kesiapan mental jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Karena itu, seluruh petugas haji asal Bondowoso, mulai ketua kloter, pembimbing ibadah hingga petugas kesehatan, diminta menyampaikan narasi yang lebih positif dalam setiap pembinaan.
"Saya sudah briefing seluruh petugas haji Bondowoso agar tidak lagi memberikan penjelasan yang mengesankan Armuzna sebagai sesuatu yang berat. Justru harus dipahami sebagai kegiatan yang bersejarah dan membahagiakan sehingga secara psikologis jamaah lebih siap," katanya.
Astono menilai kondisi fasilitas di Armuzna saat ini juga jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.
Gambaran tentang Arafah sebagai padang tandus yang panas tanpa fasilitas memadai, menurutnya, sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang.
"Dulu orang membayangkan Arafah itu tidak ada pepohonan dan sangat panas. Sekarang sudah banyak pohon dan fasilitas yang jauh lebih baik. Tenda-tenda permanen juga sudah tersedia sehingga kenyamanan jamaah jauh meningkat," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar aktivitas jemaah selama berada di Armuzna sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan banyak orang.
"Di Arafah jamaah lebih banyak beribadah, berdoa, duduk, istirahat, dan makan. Di Muzdalifah juga demikian. Yang membutuhkan tenaga lebih adalah saat menuju dan melaksanakan lontar jumrah," ujarnya.
Menurut Astono, faktor psikologis memiliki pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan jemaah. Karena itu, menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap Armuzna menjadi bagian penting dalam pembinaan.
"Kadang jamaah sakit bukan karena menjalani Armuzna, tetapi karena pikirannya sudah lebih dulu dihantui berbagai bayangan negatif tentang Armuzna," katanya.
Perubahan pendekatan tersebut, lanjut Astono, mulai menunjukkan hasil. Hal itu terlihat dari semangat dan keceriaan jemaah Bondowoso saat menjalani lontar jumrah di Mina.
"Wajah jamaah terlihat ceria. Semua semangat dan semua happy. Jamaah happy, petugas pun happy," ungkapnya.
Ke depan, Astono berencana mengajak seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) serta narasumber manasik untuk menyamakan persepsi agar pembinaan haji lebih berorientasi pada kesiapan mental dan pengalaman spiritual yang positif.
"Harapan kami, jamaah yang berangkat pada tahun-tahun berikutnya memiliki kesiapan mental yang lebih baik sehingga dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji dengan tenang, sehat, dan bahagia," pungkasnya. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat