Tiga Ruang Asmuni : Organisasi, Kepemimpinan Dan Intelektual
Oleh: Rio Rolis
Jurnalis JatimUPdate.id, Pernah Tinggal Di Tegal Boto Jember
Blitar, JatimUPdate.id - Asmuni berasal dari Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura yang kerap dipandang sebagai salah satu simpul kebudayaan paling tua di pulau itu.
Di antara jejak sejarah kerajaan, tradisi yang masih terjaga, dan kehidupan sosial yang relatif tenang, Sumenep juga dikenal melalui satu hal yang paling mudah dikenali oleh orang luar: logat bahasa Madura yang terdengar lebih halus dibandingkan daerah lain di sekitarnya.
Dalam keseharian warganya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin tata nilai—tentang cara seseorang menempatkan hormat, kesantunan, dan jarak sosial dalam percakapan.
Dari ruang budaya seperti itulah Asmuni tumbuh, membawa jejak lingkungan yang membentuk cara ia berbicara, bersikap, dan menata diri di ruang-ruang sosial yang berbeda.
Namun saya tidak mengenalnya pertama kali dari Sumenep. Saya mengenalnya di ruang kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember, ketika ia menjabat Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) di Komisariat FISIPOL Universitas Jember.
Saat itu saya masih anggota baru—lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih sering duduk di barisan belakang daripada mengambil peran di depan.
Di titik itulah Asmuni saya kenal bukan sebagai latar daerah atau budaya, tetapi sebagai senior dalam ruang organisasi yang tenang, terukur, dan tidak berlebihan.
Di lingkungan kampus saat itu, Madura bukan sekadar penanda asal daerah, tetapi juga sering menjadi bahan percakapan tersendiri.
Ada yang benar-benar berasal dari Madura, ada pula yang oleh teman-teman disebut secara bercanda sebagai “Madura swasta”—mahasiswa dari kawasan Tapal Kuda yang logatnya kerap terdengar lebih medok dibanding sebagian mahasiswa Madura asli, terutama dari Sumenep.
Di tengah keberagaman itu, Asmuni hampir tidak pernah diperdebatkan asal-usulnya. Satu-satunya cara paling sederhana untuk mengenalinya sebagai orang Madura justru muncul ketika ia berbicara cukup lama di forum.
Di situlah logat itu pelan-pelan muncul, tanpa dibuat-buat.
Ia juga aktif dalam organisasi pers mahasiswa selain HMI. Dari ruang inilah cara berpikirnya terbentuk: argumentatif, tajam, dan cenderung menguasai forum ketika diskusi mulai menghangat.
Ia tidak sekadar menyampaikan pendapat, tetapi membangun alur berpikir yang runtut dan meyakinkan.
Namun di mata kami para junior, ada jeda kecil yang selalu muncul dalam forum—hal-hal manusiawi yang tidak disengaja.
“UNEJ”—Universitas Jember—kadang meluncur menjadi “UNIJ” ketika ia berbicara cepat.
Hal-hal kecil seperti itu tidak mengurangi ketajaman argumen, tetapi justru membuatnya terasa lebih nyata: seorang senior yang kuat dalam gagasan, tetapi tetap manusia dalam cara berbicara.
Asmuni kemudian menjabat Ketua Bidang PTKP HMI Komisariat FISIPOL Universitas Jember pada periode 2001–2002, di bawah kepemimpinan Ketua Umum Muhammad Taufiqurrohman—yang kini dikenal sebagai wartawan senior MNC Group wilayah Bangkalan.
Penunjukan itu tidak banyak menimbulkan kejutan. Ia memang sudah dikenal memiliki kapasitas yang sesuai dengan bidang tersebut. Gaya berpikirnya logis, retorikanya rapi, dan posisinya relatif berada di tengah.
Kombinasi itu membuatnya mudah diterima di berbagai spektrum mahasiswa dan kelompok pemuda. Ditambah pengalaman di pers mahasiswa, ia terbiasa membaca situasi secara analitis.
Namun dinamika organisasi tidak selalu berjalan tenang. Suatu ketika, kami—anggota baru di Komisariat FISIPOL Universitas Jember—terlibat dalam gelombang kritik terhadap kepengurusan saat itu.
Situasinya berkembang menjadi semacam “somasi organisasi” yang menuntut Ketua Umum Muhammad Taufiqurrohman mundur dari jabatannya.
Tekanan itu cukup besar hingga akhirnya forum hearing digelar. Di forum itu, Asmuni hadir sebagai salah satu pengurus yang berupaya menjaga agar diskusi tetap berada dalam koridor yang terkontrol.
Di tengah suasana yang memanas, ia mengucapkan kalimat yang hingga kini masih saya ingat:
“Kalau kalian meminta ketua umum turun, maka saya juga akan turun dari jabatan saya sebagai Kabid PTKP.”
Kalimat itu mengubah suasana forum. Ada jeda. Ada kegelisahan. Bagi kami yang masih junior, itu bukan sekadar sikap politik, tetapi konsekuensi yang belum sepenuhnya kami pahami. Bisik-bisik muncul: jika semua mundur, siapa yang akan melanjutkan organisasi?
Namun forum akhirnya berakhir lebih tenang dari perkiraan. Dialog terjadi, klarifikasi disampaikan, dan pada akhirnya tidak terjadi perpecahan.
Sebagian anggota yang sebelumnya keras justru memilih bertahan dan melanjutkan peran dalam periode berikutnya.
Dari jarak waktu sekarang, momen itu terlihat sebagai fase pendewasaan organisasi: bahwa konflik tidak selalu berakhir dengan perpisahan, tetapi juga bisa menjadi ruang belajar tentang konsekuensi.
Setelah masa-masa itu, relasi kami tidak berhenti di ruang organisasi. Ada periode ketika kami kembali bertemu dalam ruang yang lebih sederhana: sebuah rumah kontrakan. Saya bersama beberapa mantan pengurus—Deny Ardiansyah, Yoyok Tri Wahono, Priyo Utomo, dan Dwi Priyo Atmojo—tinggal bersama setelah masa kepengurusan selesai.
Kontrakan itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang transisi dari dunia organisasi menuju kehidupan yang lebih cair.
Dalam beberapa kesempatan, rumah itu juga menjadi markas kegiatan Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Ruang tamu, kamar, dan terasnya berubah fungsi sesuai kebutuhan kerja.
Ada juga masa di kontrakan itu yang jika diingat sekarang terasa agak menjengkelkan, tetapi juga khas anak kos pada zamannya. Kami sering saling memakai baju tanpa terlalu banyak memikirkan kepemilikan.
Kadang karena baju itu yang paling bagus, tetapi sering kali lebih sederhana dari itu: karena hanya itu yang masih bersih dan bisa dipakai. Entah milik siapa, tidak selalu penting untuk dipastikan. Yang penting saat itu adalah fungsi. Jika cocok dipakai, maka dipakai saja. Situasi-situasi kecil seperti itu, yang kini terasa sepele, justru menjadi bagian dari keseharian yang membentuk kedekatan kami di ruang kontrakan itu.
Di fase ini, Asmuni kembali hadir dalam keseharian kami, tetapi dalam posisi yang berbeda. Ia saat itu bekerja sebagai tenaga pemasar buku di Lumajang. Ketika berada di Jember, kontrakan itu menjadi tempat singgahnya—bukan lagi sebagai senior forum, tetapi sebagai bagian dari lingkar pertemanan yang sudah melewati banyak fase.
Setelah kemudian dipercaya menjadi Koordinator Area LSI Jawa Timur, kontrakan itu berubah fungsi sekali lagi: menjadi pusat koordinasi kerja, markas informal survei politik yang tersebar di lapangan.
Dinamika kerja di lembaga survei seperti LSI tidak pernah sederhana. Metodologi ketat, tenggat waktu, dan sistem kontrol berlapis membuat setiap kesalahan kecil bisa berdampak besar. Tidak jarang suasana kontrakan menjadi tegang ketika laporan lapangan bermasalah: kuesioner yang tidak lengkap, kesalahan pengisian, atau prosedur yang baru terlihat saat proses cleaning data.
Dalam situasi seperti itu, sebagian asisten koordinator bisa bersuara keras kepada petugas survei. Namun Asmuni justru tampil berbeda. Ia cenderung tenang, tidak meledak-ledak, dan lebih memilih menjaga ritme agar tetap stabil. Sebagai koordinator area, ia tampaknya sadar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal ketegasan, tetapi juga kemampuan menjaga agar emosi tidak mengambil alih keputusan. Dan sejauh yang saya alami, pekerjaan itu tetap berjalan dan selesai.
Setelah periode tersebut, Asmuni melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut hingga ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Jember pada awal 2026, dengan bidang keilmuan yang tetap sejalan dan berkesinambungan.
Sementara itu, jarak waktu membawa kami ke arah yang berbeda. Sejak sekitar 2016 hingga kini, saya nyaris tidak lagi sering bertemu dengannya. Saya menetap di Blitar, sementara ruang-ruang perjumpaan yang dulu rutin kini hanya tersisa sebagai ingatan.
Asmuni tetap melekat dalam ingatan saya. Ia pernah menjadi lawan sekaligus teman berdialektika yang tidak ringan; sosok yang membuat forum tidak pernah datar, tetapi juga tidak kehilangan arah.
Dalam konteks itu, ia memiliki jejak yang jelas: aktivis HMI, pemimpin di ruang organisasi yang dinamis, lalu bekerja di lembaga survei yang bersentuhan langsung dengan dinamika politik.
Namun perjalanan hidup selalu memiliki arah yang tidak selalu dapat ditebak.
Apa pun posisinya hari ini, ia tetap bagian dari proses panjang yang kami lalui bersama dalam ruang-ruang organisasi dan kerja kolektif.
Dan kini, Bang Mumun mengemban amanah sebagai Ketua STIA Pembangunan Jember. Orang-orang mengenalnya dengan gelar akademik lengkap: Dr. Asmuni, S.Sos., M.A.P.
Dan mungkin, pada titik ini, tugas yang lebih besar bukan lagi soal politik dalam pengertian sempit, tetapi soal menjaga batasnya tetap pada tempatnya—agar tidak melampaui ruang yang seharusnya dijaga.
Sebab pada akhirnya, ada tanggung jawab lain yang lebih sunyi namun lebih penting: menjaga marwah pendidikan dan ruang akademik tetap berdiri tegak pada tempatnya.
Editor : Redaksi