*Oleh: Dr. Agus Andi Subroto,
Dosen Manajemen FHB ITB Yadika Pasuruan
Surabaya, JatimUPdate.id -
Di dalam sebuah gawai jadul milik penulis, tersimpan puluhan grup WhatsApp.
Dari grup semasa sekolah menengah, alumni kampus, organisasi profesi, hingga grup pedagang kaki lima di Surabaya yang tak pernah absen membagikan informasi bazar dan peluang lapak.
Gawai itu bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah ruang lalu lintas gagasan, tempat riuh rendah informasi berseliweran tanpa jeda.
Di sanalah jejak perjalanan penulis tersimpan. Dari seorang pegiat PKL dengan produk Nasi Goreng Mbah Joyo dan camilan Mister Kentang Kriwul, hingga kini kembali ke ruang-ruang akademik sebagai pendidik. Semua fase itu seperti tidak pernah benar-benar pergi—ia hidup dalam percakapan-percakapan digital yang terus berdenyut.
Namun dari sekian banyak grup itu, penulis lebih sering menjadi silent reader. Diam, membaca, menyimak. Bukan karena tak punya suara, melainkan karena memahami bahwa dalam diam pun, ada proses menyerap realitas. Dan tanpa disadari, setiap potongan informasi yang melintas itu perlahan tersusun rapi di dalam kepala.
Begitulah watak seorang penulis. Ia mungkin tampak diam, tetapi pikirannya bekerja tanpa henti.
Pada suatu siang yang lengang seperti hari ini, setelah menuntaskan urusan domestik, penulis melangkah ke emperan Omah Rungkut. Duduk di kursi tua yang setia menjadi saksi waktu, gawai jadul kembali digenggam. Jari-jemari pun mulai menari di atas papan ketik. Menulis, Tanpa risau pada diksi, tanda baca, atau struktur. Sebab menulis, pada mulanya, adalah soal keberanian mengeluarkan isi kepala.
Di tengah derasnya arus informasi itu, dunia sedang tidak baik-baik saja. Geopolitik global memperlihatkan wajah yang kian telanjang. Negara besar denĺĺgan mudah menunjukkan arogansinya, menganeksasi yang lemah tanpa banyak basa-basi. Realitas itu terasa begitu dekat, seolah menonton adegan film Mission: Impossible, tetapi tanpa skenario fiksi.
Namun dunia juga memberi pelajaran penting. Tidak semua yang kecil akan selamanya tunduk. Ketika sebuah negara memiliki nilai, karakter, dan daya tawar yang kuat, bahkan kekuatan adidaya pun tidak bisa bertindak semena-mena. Di titik ini, kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada ukuran, melainkan pada value dan bargaining power yang dimiliki.
Pelajaran ini tidak hanya berlaku dalam relasi antarnegara. Ia juga berlaku pada setiap individu. Bahwa tanpa nilai, tanpa kapasitas, tanpa daya tawar, manusia mudah sekali terpinggirkan.
Dalam sebuah obrolan ringan, seorang kawan tua, Mbah Darmo, pernah berujar, “Barang ketok kabeh, sesok dipelajari.” Apa pun yang terlihat hari ini, pelajarilah esok hari. Sebuah nasihat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Dunia berubah cepat, dan hanya mereka yang mau belajar yang mampu bertahan.
Kembali ke ruang-ruang kampus, realitas itu terasa semakin nyata. Seorang pendidik hari ini tidak hanya dihadapkan pada Tridharma Perguruan Tinggi dan tumpukan administrasi akreditasi. Lebih dari itu, ia juga harus berhadapan dengan gelombang informasi yang datang seperti tsunami. Dari grup WhatsApp hingga linimasa media sosial, algoritma bekerja tanpa henti, menyodorkan realitas baru setiap detik.
Di era kecerdasan artifisial, diam bukan lagi pilihan. Seorang pendidik dituntut untuk terus belajar, memperkuat nilai diri, dan membangun daya tawar—baik dalam aspek ekonomi, intelektual, maupun penguasaan teknologi.
Di sinilah relevansi prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Sebuah sikap yang tidak berpihak, tetapi tetap memiliki posisi. Tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mampu berdiri dengan nilai sendiri. Pertanyaannya, di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan hari ini, apakah semangat itu masih terjaga, atau justru perlahan terkikis?
Pertanyaan itu mungkin belum memiliki jawaban pasti. Namun satu hal yang jelas, setiap individu—termasuk mahasiswa di ruang-ruang kelas—harus mulai membangun nilai dirinya. Sebab di masa depan, yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling relevan.
Sebagai pendidik di Pasuruan, penulis memilih tetap berada di jalur itu. Menjadi teman diskusi bagi mahasiswa dalam mata kuliah kewirausahaan dan kepemimpinan. Menanamkan kesadaran bahwa nilai diri tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui proses panjang: belajar, jatuh, bangkit, dan terus mencoba.
Pada akhirnya, tulisan ini hanyalah catatan kecil dari sebuah gawai jadul. Namun jika ia sampai ke tangan pembaca yang budiman, semoga dapat ditangkap maknanya.
Bahwa hidup bukan sekadar menjalani, tetapi juga memberi arti.
Urip iku urup.
Hidup itu menyala. Dan setiap kata, jika ditulis dengan kesadaran, adalah cahaya yang bisa menerangi jalan bersama.
Editor : Yuris. T. Hidayat