Surabaya,JatimUPdate.id - Hujan deras mengguyur kawasan Medokan Semampir saat itu. Tanah becek, licin, dan berlumpur. Namun kondisi itu tak menyurutkan langkah para kader PDI Pro Megawati untuk berkonsolidasi.
Di tengah situasi itu, Baktiono dan Armuji ikut terpeleset.
Baca juga: DPRD Surabaya Terima Surat PAW, Anas Karno Gantikan Almarhum Adi Sutarwijono
“Hujan-hujan kita kepleset semua, di tanggul sungai Medokan Semampir, jembrot semua kena lumpur, tapi tetap jalan,” kenang Baktiono, dalam sesi wawancara khusus dengan Jatimupdate, Selasa (7/4).
Momen itu menjadi satu dari sekian banyak cerita yang menandai panjangnya persahabatan Baktiono dan Armuji.
Kisah ini jauh sebelum keduanya duduk di kursi DPRD hingga kini memegang jabatan publik.
Baktiono mengisahkan, kebersamaan itu bermula saat keduanya berada di barisan PDI Pro Megawati di tengah konflik dualisme partai pada era Orde Baru.
“Kita berangkat bersama-sama. Mas Armuji waktu itu Ketua Komisaris Kecamatan Sukolilo, saya Wakil Ketua DPC PDI Pro Megawati,” ujarnya.
Saat itu, kata dia, PDI terbelah antara versi pemerintah yang dipimpin Suryadi dan kubu Pro Megawati yang lahir dari Kongres Luar Biasa 1993 di Asrama Haji Sukolilo.
“Yang versi pemerintah itu PDI Suryadi. Kita di Pro Megawati yang sah secara konstitusional,” tegasnya.
Perjuangan tak berhenti di situ. Pada 1998, Baktiono dan Armuji juga menjadi bagian dari momen penting perubahan nama partai.
Bersama sejumlah kader lain, keduanya hadir sebagai utusan dalam kongres di Bali.
“Kita bertiga dari Surabaya, saya, Mas Armuji, dan Mas Budi Haryono, ikut Kongres di Grand Bali Beach, Sanur. Di situ kita ikut mengusulkan dan menetapkan nama PDI berubah menjadi PDI Perjuangan,” ungkapnya.
Memasuki era reformasi, keduanya tak hanya mengurus partai, tetapi juga turun ke jalan.
“Kita sama-sama demonstran, sama-sama membubarkan kampanye PDI Suryadi,” ujarnya.
Perjuangan juga berlanjut di ruang pengadilan. Hampir setiap pekan mereka menghadapi sidang melawan pemerintah Orde Baru.
“Setiap minggu dua kali sidang. Kita melawan pemerintah Soeharto dan PDI Suryadi,” ungkapnya.
Di momen itu pula, mereka turut membackup aktivis yang berhadapan dengan hukum, termasuk dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), seperti M. Soleh, Coen Husain Pontoh, dan Dita Indah Sari.
Baca juga: Koalisi yang Selalu Gagal: Siapa yang Sebenarnya Tidak Cocok?
“Kita backup juga teman-teman PRD. Waktu itu mereka masih diborgol, kita ada di situ karena pengacaranya sama, dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia,” kenangnya.
Seiring perjalanan waktu, perjuangan politik itu membawa keduanya masuk ke parlemen.
Pada Pemilu 1999, PDI Perjuangan meraih 22 kursi di DPRD Surabaya. Di fase itu, Armuji dipercaya menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan.
Sementara Baktiono bertugas di Komisi C yang membidangi keuangan, pajak, dan retribusi.
“Mas Armuji jadi Ketua Fraksi, saya anggota Komisi C yang ketuanya Musyafak Rouf, PKB, saat ini Ketua DPRD Jatim,” ujarnya.
Bagi Baktiono, perjalanan panjang itu membuat komunikasi dengan Armuji terbangun tanpa sekat.
Ia mengibaratkan hubungan mereka seperti pelawak senior atau pemain sepak bola yang sudah saling memahami.
“Tanpa latihan, tanpa rundingan, sudah nyambung,” katanya.
Hal itu juga ia rasakan saat memimpin Komisi C DPRD Surabaya dan harus memanggil Armuji dalam kasus brand gang.
Baca juga: PDIP Ajukan PAW ke KPU, Anas Karno Jadi Kandidat Kuat
“Saya undang, ‘ayo bahas kasus ini’, langsung datang dan nyambung,” ujarnya.
Tanpa perlu persiapan panjang, komunikasi berjalan lancar karena keduanya sudah terbiasa menghadapi berbagai situasi bersama sejak lama.
“Tanpa latihan, tanpa rapat dulu, ya sudah bisa nyambung karena sudah dibangun puluhan tahun,” tegasnya.
Kendati begitu, perbedaan pendapat tetap terjadi dalam perjalanan mereka.
“Selisih sedikit itu biasa, tapi kita tetap di jalur konstitusi partai,” katanya.
Kini, puluhan tahun berlalu sejak masa konsolidasi di jalan berlumpur, demonstrasi, hingga persidangan.
Namun ikatan itu tak berubah, bahkan meluas hingga keluarga.
“Bukan hanya kami, keluarga, anak sampai cucu kalau ketemu ya guyonan,” urai Baktiono. (Roy)
Editor : Yuris. T. Hidayat