catatan tangan kanan _wiedmust-280426_

Penitipan Atau Penyiksaan Bayi

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh widodo, ph.d.,

pengamat keruwetan sosial

Baca juga: Nahas, Pekerja Perusahaan Pengolahan Kayu Tewas Akibat Alami Kecelakaan Kerja

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Di Yogyakarta, kita lagi dipaksa menatap satu kenyataan yang nggak enak:
negara ini jago bikin aturan, tapi payah menjaga anak-anaknya.

Kasus daycare ini bukan sekadar tragedi.

Ini cermin telanjang dari sistem yang longgar, lalai, dan baru panik kalau sudah viral.

Negara Kita Itu Reaktif, Bukan Protektif

Polisi turun.
Kementerian bergerak.
DPR ikut ngomong.

Tapi semuanya satu pola:

setelah viral.

Artinya apa?

Kalau kasus ini nggak naik ke permukaan,
besar kemungkinan semuanya masih berjalan seperti biasa.
Anak-anak tetap dititipkan.
Dan mungkin… tetap disakiti.

Ini bukan perlindungan.

Ini PR yang dikerjakan setelah kebakaran.

Regulasi Ada, Tapi Kayak Pajangan

Kita punya aturan perlindungan anak.
Kita punya standar pendidikan anak usia dini.

Kita punya lembaga pengawas.

Tapi realitanya:

- Daycare bisa jalan tanpa pengawasan ketat

- Pengasuh bisa bekerja tanpa seleksi serius

- Tempat penitipan bisa buka tanpa standar transparansi

Jadi pertanyaannya bukan:

“Kenapa ini bisa terjadi?”

Pertanyaan yang lebih jujur:

“Kenapa ini bisa dibiarkan terjadi?”

Bayi Itu Bukan Data Statistik

Setiap angka korban itu bukan angka.

Itu:

- anak yang nangis tanpa dipeluk

- bayi yang mungkin ketakutan tanpa ngerti kenapa

- balita yang pulang dengan trauma, bukan cerita

Dan yang paling menyakitkan
mereka disakiti di tempat yang orang tuanya bayar untuk keamanan.

Baca juga: Sakit Hati Dengan Tuduhan Suami, Seorang Ibu Tega Bakar Bayinya Di Madiun

Ironisnya lengkap.

Orang Tua Dipaksa Percaya Sistem yang Rapuh

Realita pahitnya: Banyak orang tua menitipkan anak karena terpaksa, bukan pilihan ideal.

Mereka kerja.
Mereka cari nafkah.
Mereka percaya sistem akan menjaga anak mereka.

Tapi sistemnya? Kosong.

Nggak ada kontrol real-time.
Nggak ada transparansi wajib.
Nggak ada jaminan kualitas pengasuh.

Jadi yang terjadi: orang tua menitipkan anak…
ke tempat yang sebenarnya tidak pernah benar-benar diawasi.

Ini Bukan Kecelakaan. Ini Kegagalan Terstruktur.

Kalau kekerasan terjadi berulang,
melibatkan banyak orang,
dan berlangsung lama…

Itu bukan salah satu orang.
Itu bukan emosi sesaat.

Itu: 👉 sistem kerja yang rusak
👉 budaya yang dibiarkan
👉 pengawasan yang tidak pernah serius

Dan negara, dalam hal ini,
gagal hadir sebelum semuanya hancur

Kita Harus Jujur: Ini Bisa Terjadi di Mana Saja

Yang bikin kasus ini viral bukan karena paling kejam.

Tapi karena ketahuan.

Dan itu yang bikin banyak ibu sekarang ngerasa:

“Jangan-jangan tempat lain juga sama… cuma belum terbongkar.”

Kalimat itu bukan paranoia.
Itu refleksi dari ketidakpercayaan publik yang mulai runtuh.

Kalau Serius Mau Beres, Ini yang Harus Dilakukan

Bukan konferensi pers.
Bukan janji evaluasi.
Tapi tindakan nyata:

- Audit nasional semua daycare (bukan cuma yang viral)

- Wajib CCTV transparan ke orang tua

- Sertifikasi psikologis pengasuh (bukan formalitas)

- Inspeksi mendadak berkala

- Hukuman pidana maksimal tanpa kompromi

Kalau tidak?

Kasus ini cuma akan jadi:

headline → lupa → ulang lagi.

Negara sering bilang:
anak adalah masa depan bangsa.

Tapi dari kasus ini, yang terlihat jelas:
masa depan itu dititipkan… tanpa penjagaan yang layak.

Dan kalau kita masih butuh viral dulu baru bergerak,
maka jujur saja
yang gagal bukan cuma pelaku.

Yang gagal itu sistem yang seharusnya melindungi sejak awal.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru