Oleh widodo, ph.d.,
pengamat keruwetan sosial
Baca juga: Nahas, Pekerja Perusahaan Pengolahan Kayu Tewas Akibat Alami Kecelakaan Kerja
Surabaya, JatimUPdate.id - Di Yogyakarta, kita lagi dipaksa menatap satu kenyataan yang nggak enak:
negara ini jago bikin aturan, tapi payah menjaga anak-anaknya.
Kasus daycare ini bukan sekadar tragedi.
Ini cermin telanjang dari sistem yang longgar, lalai, dan baru panik kalau sudah viral.
Negara Kita Itu Reaktif, Bukan Protektif
Polisi turun.
Kementerian bergerak.
DPR ikut ngomong.
Tapi semuanya satu pola:
setelah viral.
Artinya apa?
Kalau kasus ini nggak naik ke permukaan,
besar kemungkinan semuanya masih berjalan seperti biasa.
Anak-anak tetap dititipkan.
Dan mungkin… tetap disakiti.
Ini bukan perlindungan.
Ini PR yang dikerjakan setelah kebakaran.
Regulasi Ada, Tapi Kayak Pajangan
Kita punya aturan perlindungan anak.
Kita punya standar pendidikan anak usia dini.
Kita punya lembaga pengawas.
Tapi realitanya:
- Daycare bisa jalan tanpa pengawasan ketat
- Pengasuh bisa bekerja tanpa seleksi serius
- Tempat penitipan bisa buka tanpa standar transparansi
Jadi pertanyaannya bukan:
“Kenapa ini bisa terjadi?”
Pertanyaan yang lebih jujur:
“Kenapa ini bisa dibiarkan terjadi?”
Bayi Itu Bukan Data Statistik
Setiap angka korban itu bukan angka.
Itu:
- anak yang nangis tanpa dipeluk
- bayi yang mungkin ketakutan tanpa ngerti kenapa
- balita yang pulang dengan trauma, bukan cerita
Dan yang paling menyakitkan
mereka disakiti di tempat yang orang tuanya bayar untuk keamanan.
Baca juga: Sakit Hati Dengan Tuduhan Suami, Seorang Ibu Tega Bakar Bayinya Di Madiun
Ironisnya lengkap.
Orang Tua Dipaksa Percaya Sistem yang Rapuh
Realita pahitnya: Banyak orang tua menitipkan anak karena terpaksa, bukan pilihan ideal.
Mereka kerja.
Mereka cari nafkah.
Mereka percaya sistem akan menjaga anak mereka.
Tapi sistemnya? Kosong.
Nggak ada kontrol real-time.
Nggak ada transparansi wajib.
Nggak ada jaminan kualitas pengasuh.
Jadi yang terjadi: orang tua menitipkan anak…
ke tempat yang sebenarnya tidak pernah benar-benar diawasi.
Ini Bukan Kecelakaan. Ini Kegagalan Terstruktur.
Kalau kekerasan terjadi berulang,
melibatkan banyak orang,
dan berlangsung lama…
Itu bukan salah satu orang.
Itu bukan emosi sesaat.
Itu: 👉 sistem kerja yang rusak
👉 budaya yang dibiarkan
👉 pengawasan yang tidak pernah serius
Dan negara, dalam hal ini,
gagal hadir sebelum semuanya hancur
Kita Harus Jujur: Ini Bisa Terjadi di Mana Saja
Yang bikin kasus ini viral bukan karena paling kejam.
Tapi karena ketahuan.
Dan itu yang bikin banyak ibu sekarang ngerasa:
“Jangan-jangan tempat lain juga sama… cuma belum terbongkar.”
Kalimat itu bukan paranoia.
Itu refleksi dari ketidakpercayaan publik yang mulai runtuh.
Kalau Serius Mau Beres, Ini yang Harus Dilakukan
Bukan konferensi pers.
Bukan janji evaluasi.
Tapi tindakan nyata:
- Audit nasional semua daycare (bukan cuma yang viral)
- Wajib CCTV transparan ke orang tua
- Sertifikasi psikologis pengasuh (bukan formalitas)
- Inspeksi mendadak berkala
- Hukuman pidana maksimal tanpa kompromi
Kalau tidak?
Kasus ini cuma akan jadi:
headline → lupa → ulang lagi.
Negara sering bilang:
anak adalah masa depan bangsa.
Tapi dari kasus ini, yang terlihat jelas:
masa depan itu dititipkan… tanpa penjagaan yang layak.
Dan kalau kita masih butuh viral dulu baru bergerak,
maka jujur saja
yang gagal bukan cuma pelaku.
Yang gagal itu sistem yang seharusnya melindungi sejak awal.
Editor : Redaksi