Ramdansyah, Alumni Kriminologi FISIP UI – Sekjen Partai Idaman 2015–2018
JatimUPdate.id - Ketika datang Hari Raya Idul Adha, Rhoma Irama kerap menjadi khotib sholat Id di Masjid Khusnul Khotimah dekat rumahnya maupun di sejumlah masjid lain yang mengundangnya. Usai sholat, Rhoma menyerahkan hewan kurban, bahkan menyembelihnya sendiri sebelum dagingnya dibagikan kepada warga kurang mampu di kawasan Mampang Prapatan dan sekitar Studio Soneta, Depok. Praktik kurban yang dilakukan Rhoma bukan sekadar pencitraan selebritas, melainkan telah menjadi praktik etik dan solidaritas sosial yang konsisten dijalankannya.
Di era industri hiburan modern yang semakin dikuasai logika pasar, popularitas sering kali berhenti pada pencitraan semata. Selebritas dipuja bukan karena keberpihakan moralnya, melainkan karena kemampuannya memproduksi sensasi dan viralitas. Musik akhirnya kehilangan dimensi etiknya dan berubah menjadi komoditas konsumsi belaka. Dalam lanskap budaya seperti itu, kehadiran Rhoma Irama menjadi menarik karena ia tidak sekadar menjadikan musik sebagai hiburan, melainkan juga ruang dakwah, kritik sosial, dan pendidikan moral.
Musik Bersih Rhoma
Perubahan Soneta menjadi “Voice of Moslem” pada 13 Oktober 1973 memperlihatkan bentuk pengorbanan kultural Rhoma Irama. Pada masa itu, dangdut sering dipandang sebagai musik pinggiran yang identik dengan hiburan profan. Namun Rhoma justru membawa pesan-pesan Islam ke dalam ruang budaya populer.
Langkah tersebut semakin menguat setelah kepulangannya dari ibadah haji pada 1975. Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Stories (2010) menjelaskan bahwa identitas haji memberi legitimasi religius yang memperkuat posisi Rhoma sebagai pendakwah melalui budaya populer. Yang menarik, Rhoma tidak memilih jalur kasidah atau gambus yang sejak awal identik dengan dakwah. Ia tetap mempertahankan dangdut sebagai musik rakyat sambil menyisipkan pesan spiritual Islam di dalamnya.
Persepsi negatif terhadap dunia musik dan pertunjukan sebenarnya telah direspons Rhoma sejak awal 1970-an melalui gagasan “musik bersih”. Pada periode yang hampir sama, Cat Stevens—yang kemudian dikenal sebagai Yusuf Islam—juga memperlihatkan kecenderungan serupa dengan menghadirkan musik yang lebih etis dan spiritual. Tradisi “musik bersih” ini kemudian berlanjut pada figur seperti Maher Zain dan Sami Yusuf. Dalam konteks Indonesia, pengorbanan kultural Rhoma melahirkan generasi baru musisi yang berusaha menjaga dimensi moral di tengah kerasnya industri hiburan.
Dari sinilah pengorbanan kultural Rhoma mulai tampak. Ia tidak hanya mengubah wajah dangdut, tetapi juga mempertaruhkan popularitasnya untuk membawa pesan moral ke ruang budaya populer yang selama ini dianggap jauh dari agama.
Pengorbanan Modern Rhoma
Di tengah arus besar komersialisasi budaya populer, Rhoma tampil sebagai anomali. Ia tidak menjadikan musik semata alat hiburan, melainkan medium dakwah, kritik sosial, sekaligus pembelaan terhadap wong cilik. Karena itu, Rhoma tidak cukup dibaca hanya sebagai “Raja Dangdut”, tetapi juga sebagai figur kebudayaan yang menjalani bentuk pengorbanan modern.
Di sinilah letak pengorbanan kulturalnya. Rhoma mengambil risiko sosial dengan membawa agama ke dalam musik populer dan membawa musik populer ke dalam ruang dakwah. Dalam masyarakat modern, pilihan semacam itu tidak mudah karena industri hiburan cenderung menuntut netralitas moral demi kepentingan pasar yang lebih luas.
Jean-Paul Willaime (2005) dalam berbagai kajian sosiologi agama modern menjelaskan bahwa sekularisasi tidak pernah sepenuhnya menghapus kebutuhan manusia terhadap yang sakral. Modernitas hanya memindahkan spiritualitas ke medium-medium baru, termasuk budaya populer. Dalam konteks inilah dangdut Rhoma menjadi menarik: musik tidak lagi sekadar hiburan, tetapi ruang pencarian makna spiritual dan solidaritas sosial.
Rhoma membaca kegelisahan sosial itu melalui lagu-lagunya. Musiknya tidak berhenti pada tema percintaan atau hiburan ringan, tetapi berbicara tentang kemiskinan, perjudian, narkoba, ketimpangan sosial, dan penderitaan rakyat kecil. Lagu seperti “Rupiah”, “Indonesia”, dan “135 Juta” memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi alat pendidikan publik sekaligus kritik sosial.
Dalam masyarakat modern yang semakin individualistis, pengorbanan menjadi cara manusia menjaga hubungan moral dengan komunitasnya. Rhoma melakukan hal itu melalui musik. Popularitas yang dimilikinya tidak diarahkan semata untuk akumulasi kekayaan atau pencitraan personal, melainkan untuk mendistribusikan kesadaran moral kepada masyarakat. Dalam konteks ini, Rhoma sesungguhnya sedang melawan logika industri hiburan modern yang cenderung menjauh dari realitas sosial rakyat kecil.
Baca juga: Jelang Iduladha, Armuji Tekankan Hewan Kurban di Surabaya Harus Lolos Tes Kesehatan
Karena itu, dangdut di tangan Rhoma tidak dipoles menjadi musik elite yang terputus dari pengalaman rakyat. Musik itu tetap tumbuh dari terminal, pasar, kampung urban, dan ruang-ruang pinggiran tempat rakyat kecil ngobrol, bekerja, dan bertahan hidup.
Kritik Rhoma karena itu bukan hanya kritik politik, tetapi juga kritik kebudayaan. Ia memperlihatkan bahwa budaya populer tidak harus tunduk sepenuhnya pada kapitalisme hiburan. Musik masih mungkin menjadi ruang etis untuk menyuarakan solidaritas sosial.
Islamisasi Dangdut Rhoma Irama
Ketika banyak selebritas menjadikan popularitas sebagai alat akumulasi kekayaan dan pencitraan, Rhoma justru memilih menjadikannya medium dakwah dan kritik sosial. Dalam dunia yang semakin individualistis dan materialistis, pilihan itu menjadi semakin langka.
Rhoma memperlihatkan bahwa musik rakyat masih mungkin menjadi ruang moral di tengah modernitas yang kehilangan kedalaman spiritual. Dangdut yang sebelumnya dipandang sebagai budaya pinggiran diubahnya menjadi medium refleksi sosial dan religius.
Sonja van Wichelen dalam Religion, Politics and Gender in Indonesia (2010) menyebut bahwa Rhoma Irama berhasil mengislamkan dangdut melalui simbol, bahasa, dan moralitas Islam yang dimasukkan ke dalam budaya populer nasional. Upaya tersebut perlahan mengubah citra dangdut dari sekadar hiburan pinggiran menjadi bagian dari ekspresi budaya Islam modern di Indonesia.
Baca juga: Jelang Idul Adha 1447 H, Pemkab Sidoarjo Pastikan Hewan Kurban Bebas PMK
Dalam perspektif Islam, inti pengorbanan tidak terletak pada darah hewan kurban, melainkan pada proses pelepasan ego demi nilai yang lebih tinggi. Jika dibaca secara simbolik, Rhoma sesungguhnya menjalankan “qurban sosial” melalui musik dan kebudayaan populer.
Pengorbanan dengan demikian tidak semata dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi juga kesediaan manusia melepaskan ego pribadi demi nilai moral, solidaritas sosial, dan makna spiritual yang lebih dalam.
Karena itu, Rhoma Irama sesungguhnya lebih dari sekadar penyanyi dangdut. Ia adalah simbol bagaimana budaya populer dapat menjadi jalan spiritual sekaligus ruang perjuangan sosial. Ia memperlihatkan bahwa pengorbanan tidak selalu hadir di altar ritual agama, tetapi juga di panggung musik rakyat.
Pengorbanan Rhoma sebagai Jalan Moral Kebudayaan
Pada akhirnya, pengorbanan Rhoma Irama bukanlah pengorbanan darah sebagaimana ritual kurban klasik. Pengorbanannya adalah kesediaan melepaskan kenyamanan popularitas demi nilai yang diyakininya lebih tinggi: agama, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Di tengah dunia modern yang semakin kehilangan kedalaman spiritual, musik Rhoma justru lebih sering hadir dibanding pidato-pidato politik. Hal itu memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak semestinya berhenti sebagai hiburan semata. Kebudayaan juga dapat menjadi suara moral yang menjaga manusia agar tidak kehilangan nurani.
Di tengah industri hiburan yang semakin bising oleh sensasi dan viralitas, jejak “musik bersih” Rhoma Irama mengingatkan bahwa kebudayaan masih mungkin menjadi jalan moral. Bahwa musik tidak hanya dapat menghibur manusia, tetapi juga menjaga nuraninya. (*)
Editor : Redaksi