Tembok Baru Setelah di Pucuk Kursi Kekuasaan 

Reporter : Redaksi
Ilustrasi,jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Ada ironi yang jamak terlihat dalam dinamika politik pasca seseorang berhasil meraih pucuk kursi kekuasaan. 

Sebelum jauh melangkah ke hitungan tahun, ketika ruang komunikasi begitu cair dan terbuka luas. Saat itu akses komunikasi aktif. Pesan singkat dibalas, diskusi mengalir spontan dan konfirmasi atas berbagai isu penting bisa didapatkan dengan sangat mudah. 

Baca juga: Pemimpin yang Kita Butuh, Bukan yang Mereka Jual

Mungkin saat itu, mitra strategis dianggap sebagai elemen paling vital penyambung lidah sekaligus jembatan gagasan menyampaikan pesan-pesan politiknya ke ruang publik. 

Namun, begitu kursi kekuasaan berhasil diduduki, ilusi kedekatan itu lambat laun buyar.

Nomor kontak yang dulu akrab, kini seolah berubah menjadi barang mewah yang dijaga ketat oleh pihak ketiga. 

Akses langsung diputus dan digantikan oleh sekat birokrasi bernama asisten pribadi. 

Hubungan yang dulunya bersifat dialogis saat ini dipaksa menjadi monolog satu arah. 

Baca juga: Menakar Welas Asih Pemimpin: Antara Megahnya Pesta Kota dan Sunyinya Penggusuran

Pragmatisme hubungan yang dingin ini menjadi pemandangan yang sangat realistis di lapangan. 

Fenomena ini menunjukkan pesan implisit yang arogan. kemudahan akses kemarin hanyalah sebuah komoditas kepentingan, dan begitu target politik tercapai, tembok pembatas harus segera dibangun demi menegaskan kasta baru kekuasaan.

Menutup diri di balik punggung asisten pribadi bukanlah tanda profesionalisme kerja, melainkan indikasi ketidaksiapan mental dalam mengelola akuntabilitas publik. 

Seorang pemimpin harusnya paham mitra bukan ancaman yang harus disaring, melainkan early warning system yang menjaga agar tidak buta terhadap realitas sosial yang berkembang di lapangan. 

Baca juga: Mencari Ruh Kepemimpinan Daerah

Memelihara sekat komunikasi hanya akan menjebak sang pejabat dalam cangkang ilusi. Seolah hanya ingin mendengar laporan yang menyenangkan dari lingkaran terdekatnya saja. 

Sebelum jarak yang sengaja diciptakan ini berubah menjadi jurang pemisah yang permanen, para pejabat publik harus berani meruntuhkan tembok birokrasi tersebut.

Kembalilah membuka pintu dialog yang setara, karena kualitas kepemimpinan tidak diukur dari seberapa ketat asisten pribadi menjaga Anda. Namun dari seberapa besar keberanian Anda tetap dapat dijangkau publik.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru