Catatan Redaksi – Ada paradoks yang menggelikan sekaligus mencemaskan dalam potret kepemimpinan modern hari ini.
Seorang pemimpin, yang baru saja menduduki kursi kekuasaan atas nama mandat publik, tiba-tiba membangun benteng tinggi di sekeliling dirinya.
Baca juga: Tembok Baru Setelah di Pucuk Kursi Kekuasaan
Bentuk komunikasi, koordinasi, bahkan ruang dialog dengan mitra strategis dialihkan melalui satu pintu sempit Asisten Pribadi (Aspri).
Dari kacamata redaksi pola ini sering kali dibungkus rapi dengan eufemisme "efisiensi birokrasi" atau "protokoler".
Namun, dalam realitas kekuasaan, gejala akut dari lahirnya pemimpin menara gading. Model kepemimpinan elitis, defensif, dan perlahan-lahan kehilangan pijakan pada realitas.
Mitra strategis sedianya untuk memajukan institusi melaui pesan-pesan politik kepada publik. Jika memilih bersembunyi di balik punggung asprinya, lantas dengan logika apa publik mempercayai mampu mengurusi berbagai problematika masyarakat bawah?
Apalagi persoalan di akar rumput atau wong cilik tidak pernah berjalan linier, rapi, apalagi administratif.
Masalah masyarakat bawah mulai dari jeritan nelayan, nasib petani, hingga karut-marut ekonomi wong cilik merupakan persoalan yang acak, emosional, dan sering kali meledak-ledak.
Baca juga: Pemimpin yang Kita Butuh, Bukan yang Mereka Jual
Masalah-masalah itu menuntut kehadiran pemimpin yang berani kotor, berani mendengar caci maki secara face to face, dan memiliki kapasitas mental untuk mengurai benang kusut tanpa perantara.
Ketika seorang pemimpin membiarkan informasinya disaring, diubah, atau disesuaikan dengan selera "asal bapak senang" oleh lingkaran asistennya. Itu membiarkan disandera oleh ilusi. Hanya akan melihat potret masyarakat yang "indah-indah saja" di atas kertas laporan keuangan atau rilis seremonial.
Sementara di lapangan, jarak antara kebijakan yang diambil dengan kebutuhan riil masyarakat justru semakin menganga lebar.
Sikap membatasi diri dari mitra strategis ini menguak sebuah tabir kepemimpinan yang rapuh, cuma jargon-jargon "merakyat", "terbuka", atau "siap melayani" yang digaungkan saat berburu simpati.
Baca juga: Jangan Tumbalkan "Wong Cilik" Demi Ambisi Berburu Piala
Itu tak ubahnya hanya kosmetik politik kedaluwarsa begitu kursi kekuasaan berhasil diraih.
Transformasi kepemimpinan tidak akan pernah lahir dari balik meja kerja yang dijaga ketat oleh sekretaris atau asisten pribadi.
Jika sang pemimpin masih memiliki iktikad baik menyelamatkan legitimasi kepemimpinannya, dinding birokrasi artifisial itu harus segera diruntuhkan.
Sebab, bagaimana mungkin pemimpin bisa mendengar bisikan wong cilik yang tak terdengar, jika ruang dialog dengan mitra strategis disumbat
Editor : Redaksi