Oleh Ocit Abdurrosyid Siddiq
Baca juga: Bertemu Britishpedia, Wamen Viva Yoga Ceritakan Menjadi Kolomnis
Alumnus LK 1 HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung 1992
Bandung, JatimUPdate.id - Angin pesisir Binuangeun berhembus pelan malam ini, membawa aroma garam yang khas dan ketenangan yang selalu sukses memancing lamunan panjang.
Di tengah heningnya waktu, saya tengah asyik menikmati secangkir kopi hitam sembari merenungkan berbagai dialektika kehidupan sosial. Sebagai seorang alumni jurusan Aqidah Filsafat, keheningan semacam ini sungguh merupakan kemewahan tersendiri untuk membedah eksistensi manusia. Namun tiba-tiba saja, layar gawai menyala terang memecah konsentrasi, disusul bunyi notifikasi WhatsApp yang cukup nyaring. Mata ini langsung tertuju pada layar, mengamati sebuah pesan masuk dari nomor asing yang sama sekali tidak tersimpan.
Dengan dahi yang sedikit berkerut, jari ini perlahan mengusap layar untuk membuka pesan misterius yang baru saja mendarat. Kalimat pembukanya sungguh luar biasa sopan, bernada sangat heroik, dan langsung menyentuh relung terdalam sanubari organisatoris: "Assalamualaikum, Abangda. Izin melaporkan, Adinda..." Kalimat sapaan ini sungguh sebuah mahakarya semiotika yang sangat luar biasa.
Tiba-tiba saja, tanpa adanya proses ta'aruf biologis maupun sosiologis, saya mendadak memiliki seorang adik baru. Fenomena ini sungguh menarik untuk dibedah secara epistemologis; bagaimana nomor tak dikenal bisa berani mendaulat dirinya sebagai kerabat hanya bermodalkan salam pergerakan.
Membaca pesan itu lebih lanjut, saya akhirnya menemukan inti dari segala basa-basi yang panjang dan berbunga-bunga di awal kalimat. Di paragraf kedua, tertulis dengan sangat diplomatis nan rapi: "Adinda mohon petunjuk dan arahan dari Abangda, sehubungan dengan keberangkatan mengikuti Latihan Kader..." Mari kita bedah secara jujur makna filosofis dari frasa "mohon petunjuk dan arahan" tersebut. Dalam kamus besar persaudaraan hijau-hitam, kalimat ini bukanlah permintaan nasihat spiritual atau bimbingan akademik. Petunjuk yang dimaksud adalah bukti transfer rekening, sedangkan arahan yang diharapkan adalah lembaran rupiah untuk biaya transportasi.
Tentu saja, sebuah senyum simpul tak bisa disembunyikan dari wajah ini, bahkan sesekali terdengar tawa kecil yang lumayan jenaka. Sebagai seseorang yang kini bernaung tenang di bawah bendera KAHMI, saya sadar betul bahwa inilah siklus sejarah yang berulang.
Dulu, sewaktu masih menjadi aktivis mahasiswa yang lapar namun dipenuhi idealisme, kelakuan kita semua pun kurang lebih persis sama. Kita perlahan bertransformasi dari para junior tukang minta sumbangan menjadi para senior yang berfungsi layaknya mesin ATM berjalan. Hukum karma organisatoris ini sungguh sangat nyata dan berputar presisi setiap tahunnya.
Meskipun demikian, ada satu hal yang acap kali membuat saya merasa sedikit "kesal" sekaligus tergelitik melihat kelakuan anak-anak sekarang. Kalau meminjam istilah lazim dalam masyarakat Sunda Banten, kelakuan mereka ini sering kali terlalu gurung gusuh (tergesa-gesa) dan ujug-ujug (tiba-tiba). Bayangkan saja realitasnya; tidak pernah ada silaturahmi, tidak pernah silih wawuh (saling kenal) di warung kopi, tahu-tahu mengirim proposal via pesan singkat. Ibarat orang yang baru pertama kali berpapasan di jalan, belum sempat berjabat tangan, namun sudah berani meminjam uang saku. Ini jelas anomali tata krama yang lucu.
Sebagai sosok yang dipercaya menjadi Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya merasa memikul kewajiban moral untuk meluruskan lema tentang adab.
Baca juga: Wakil Menteri Desa: Anggota KAHMI Jadilah Kepala Desa
Relasi persaudaraan, apalagi yang selalu mengatasnamakan Nilai Dasar Perjuangan, seharusnya tidak boleh direduksi menjadi sekadar hubungan pragmatis belaka.
Di manakah letak falsafah silih asah, silih asih, silih asuh jika pendekatannya murni berbasis kebutuhan finansial mendadak?
Sebuah hubungan sosial yang sehat senantiasa membutuhkan tahapan dialektika, bukan sekadar logika potong kompas tanpa basa-basi. Ada etika kultural luhur yang sengaja dilompati ketika junior langsung menodong seniornya tanpa perkenalan yang layak.
Padahal dalam bayangan idealnya, alangkah eloknya jika para junior bersedia mempresentasikan kompetensi dan kapasitas intelektualnya sebelum menyodorkan nomor rekening.
Datanglah bertamu secara jantan, ajak para senior berdiskusi membedah relevansi pemikiran Nurcholish Madjid, atau tunjukkan kepiawaian dalam merumuskan gagasan. Tunjukkanlah kepada khalayak bahwa kalian memang kader tangguh yang pantas didukung, bukan sekadar rombongan penggembira yang mencari biaya jalan-jalan.
Jika kinerja sudah terbukti dan kualitas nalar tampak mumpuni, jangankan sekadar memberi "petunjuk dan arahan", dompet ini rasanya akan sangat ikhlas dibuka lebar demi merawat regenerasi peradaban masa depan.
Posisi psikologis para senior saat menerima pesan semacam ini sebenarnya sangat dilematis, nyaris mirip dengan posisi seorang Pimpinan Sidang.
Baca juga: Hikayat Prof Lafran Pane, Jujur Sejak dari Fikiran
Jika pesan WhatsApp misterius itu sengaja kita abaikan, ada perasaan berdosa yang terus menghantui karena merasa telah mengkhianati proses perkaderan. Namun sebaliknya, jika kita langsung mentransfer sejumlah dana tanpa edukasi, kita merasa konyol karena membiarkan mentalitas pragmatis tumbuh subur.
Kita hanya bisa menggerutu panjang di dalam hati, mengetik balasan berisi petuah moralitas, tetapi ujung-ujungnya jari tetap saja menekan tombol send di aplikasi mobile banking dengan kepasrahan paripurna.
Mungkin para pembaca esai naratif ini, khususnya mereka yang kini telah sukses bermigrasi ke alam KAHMI, sedang tersenyum kecut. Anda pasti sedang sibuk menertawakan kelakuan masa lalu diri sendiri sembari mengingat berapa banyak nomor asing yang mensponsori agenda Anda.
Kita semua rupanya telah terjebak di dalam pusaran romantisme masa lampau yang senantiasa membuat kita tidak berdaya. Kita sering kali berpura-pura marah pada pragmatisme adik-adik kita, tetapi kita sendirilah yang terus-menerus memupuk kelestarian "semiotika anggaran" ini demi menjaga agar nyala api pergerakan tidak padam ditelan oleh zaman.
Hembusan angin malam di pesisir Binuangeun ini kembali menutup perenungan dengan sebuah konklusi yang sangat mendamaikan. Para junior yang gemar datang ujug-ujug itu mungkin memang menyebalkan, minim adab, dan masih perlu banyak diajari tata krama. Akan tetapi, dari rahim keluguan dan keberanian nekat merekalah, denyut nadi eksistensi organisasi ini terus berdetak melintasi zaman. Sembari perlahan menyeruput sisa kopi hitam yang telah mendingin, saya hanya tertawa dan berdoa; semoga pesan WhatsApp berikutnya diawali dengan ajakan ngopi, bukan langsung diakhiri deretan angka rekening bank kebanggaan.
Baru saja saya akan mengakhiri tulisan ini, tetiba ada pesan masuk, “Abangda, mohon petunjuk, arahan, dan anggaran!”. Oke Adinda. Lalu buka aplikasi embengking, ketik nominal, dan kirim. Dari HP terdengar notifikasi khas “Brimo…!”. Skrinsut bukti transfer sudah dikirim. Namun masih centang satu. Belum dibaca. Mungkin tidak ada sinyal. Atau habis pulsa. Saya yakin, usaha dia sampai. Wallahualam.***
😀😀😀
Editor : Redaksi