KAI Siapkan Proyek Trans Sumatera, Rel Aceh-Lampung Ditargetkan Pangkas Biaya Logistik Nasional

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Dirut KAI Bobby Rosyidin (kiri) dan rangkaian Kereta Api.
Dirut KAI Bobby Rosyidin (kiri) dan rangkaian Kereta Api.

 

Jakarta, JatimUPdate.id, – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menyiapkan proyek strategis Trans Sumatera yang akan menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

Jalur kereta lintas pulau ini diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi logistik sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi di Sumatera.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan transportasi berbasis rel.

Menurutnya, tingginya biaya logistik masih menjadi tantangan besar yang menghambat daya saing Indonesia.

"Kalau kita lihat, biaya logistik Indonesia itu tinggi sekali. Dari PDB sekitar 15 persen, sementara kalau dihitung terhadap harga pokok produk bisa mencapai 30 persen. Indonesia tidak bisa bersaing kalau kondisi ini terus berlanjut," ujar Bobby saat berbincang dengan wartawan di Kereta Wisata rute Yogyakarta–Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan jaringan Trans Sumatera masih berada pada tahap awal berupa studi kelayakan. Tahapan tersebut meliputi kajian teknis, pembebasan lahan, penentuan trase, hingga penyusunan fase pembangunan.

"Presiden memerintahkan kami untuk mulai melakukan studi. Ini proyek jangka panjang, tidak seperti revitalisasi stasiun yang bisa selesai dalam waktu singkat," katanya.

Menurut Bobby, seluruh proses perencanaan harus dilakukan secara matang agar pembangunan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

"Kami mulai dari kajian, pembebasan lahan, hingga penentuan fase pembangunan," imbuhnya.

Dua Koridor Utama

Dalam perencanaannya, jaringan Trans Sumatera akan dibangun melalui dua koridor, yakni jalur timur dan jalur barat. Koridor timur diprioritaskan karena akan terkoneksi dengan sejumlah pelabuhan utama yang diproyeksikan menjadi pusat distribusi logistik nasional.

"Arahan Presiden jelas, sambungkan Banda Aceh sampai Bandar Lampung. Jalurnya tidak hanya satu, tetapi ada jalur timur dan jalur barat," ungkap Bobby.

Ia menilai konektivitas antara jalur kereta dan pelabuhan akan menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien sehingga dapat memangkas biaya distribusi barang.

"Jalur timur penting karena pelabuhan-pelabuhan besar nantinya berada di kawasan itu sehingga aksesnya harus terhubung dengan kereta," jelasnya.

Tak hanya melayani angkutan barang, jaringan Trans Sumatera juga dirancang untuk mengakomodasi transportasi penumpang.

"Jadi nanti sifatnya mix, melayani angkutan barang sekaligus penumpang. Dengan begitu konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah bisa berjalan beriringan," katanya.

Fokus Awal Aceh–Besitang

Sebagai tahap awal, KAI akan memprioritaskan pembangunan jalur Aceh–Besitang sepanjang sekitar 380 kilometer.

Ruas tersebut dinilai menjadi mata rantai penting untuk menghubungkan jaringan rel di wilayah utara Sumatera.

"Yang kami sinkronkan lebih dulu adalah Aceh–Besitang. Kalau ruas ini tersambung, jaringan rel di bagian utara Sumatera akan semakin terhubung," ujar Bobby.

Sementara itu, jaringan rel di Sumatera bagian selatan dinilai telah memiliki fondasi melalui lintasan Lampung–Palembang.

Ke depan, pemerintah menargetkan koneksi tersebut dapat diteruskan menuju Jambi hingga Riau.

"Dari selatan sudah ada jalur Lampung–Palembang, sehingga ke depan tinggal menyambungkan Palembang, Jambi, hingga Riau. Tetapi sekali lagi, ini merupakan perencanaan jangka panjang," tegasnya.

Dengan tersambungnya jaringan kereta dari ujung utara hingga selatan Sumatera, pemerintah berharap efisiensi distribusi logistik meningkat, biaya transportasi menurun, dan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah dapat terdorong secara lebih merata. (ries/yh)