Kisah Ignasius Jonan: Saat Proyek Raksasa Rel Kereta Diselesaikan Tanpa Konflik dan Ribuan Warga Justru Mendapat Pekerja

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Ignatius Jonan
Ignatius Jonan

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Di tengah maraknya pemberitaan tentang korupsi, proyek mangkrak, hingga birokrasi yang kerap mengecewakan masyarakat, ada satu kisah kepemimpinan yang hingga kini masih sering dikenang.

Kisah itu datang dari sosok Ignasius Jonan saat memimpin PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Kala itu, Jonan menghadapi tantangan besar dalam pembangunan jalur ganda (double track) kereta api lintas utara yang membentang dari Cirebon hingga Surabaya sepanjang sekitar 500 kilometer.

Proyek strategis tersebut mengharuskan penertiban lebih dari 20 ribu kepala keluarga yang tinggal di sepanjang jalur rel.

Di Indonesia, proyek infrastruktur berskala besar sering kali diwarnai penolakan warga, sengketa lahan, demonstrasi, hingga proses relokasi yang berlarut-larut. Namun yang terjadi pada proyek ini justru berbeda.

Selain memberikan kompensasi sesuai aturan yang berlaku, Jonan menerapkan pendekatan yang dinilai sederhana tetapi sangat menyentuh kebutuhan masyarakat.

Ia membuka kesempatan bagi setiap keluarga terdampak untuk mengusulkan satu anggota keluarganya mengikuti proses rekrutmen di KAI.

Kebijakan tersebut bukan sekadar bantuan sesaat. Bagi banyak keluarga, kesempatan bekerja di perusahaan negara menjadi jaminan masa depan yang jauh lebih bernilai dibandingkan kompensasi finansial semata.

Seorang ayah yang lahannya terdampak proyek bisa mengusulkan anaknya bekerja di KAI. Seorang ibu yang rumahnya harus direlokasi dapat mendaftarkan suaminya. Bahkan anggota keluarga lain dalam satu kartu keluarga juga memperoleh kesempatan yang sama.

Yang menarik, persyaratan yang diterapkan relatif sederhana. Pelamar cukup memenuhi syarat pendidikan minimal SMA, usia maksimal 40 tahun, serta lolos tes kesehatan.

Jika calon pertama tidak memenuhi syarat kesehatan, keluarga tersebut masih diberi kesempatan mengajukan anggota keluarga lain dari kartu keluarga yang sama.

Pendekatan ini membuat proses relokasi berjalan lebih manusiawi. Warga tidak hanya menerima ganti rugi, tetapi juga memperoleh peluang peningkatan kesejahteraan melalui pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan.

Hasilnya pun mengejutkan. Lebih dari 20 ribu kepala keluarga dapat direlokasi tanpa gejolak sosial besar yang biasanya menyertai proyek infrastruktur berskala masif.

Dalam berbagai kesempatan, Jonan menegaskan bahwa tujuan kebijakan tersebut bukan untuk mengusir masyarakat, melainkan memastikan mereka memperoleh masa depan yang lebih baik setelah proyek selesai.

Filosofi itu sejalan dengan gaya kepemimpinannya ketika membenahi KAI. Saat Jonan mulai memimpin pada 2009, perusahaan tersebut tengah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kerugian keuangan, pelayanan yang buruk, budaya disiplin yang lemah, hingga praktik-praktik yang dinilai tidak sehat dalam pengelolaan perusahaan.

Di bawah kepemimpinannya, KAI menjalani transformasi besar-besaran. Pembenahan layanan, peningkatan disiplin, perbaikan fasilitas, serta reformasi budaya kerja dilakukan secara bertahap hingga perusahaan mampu meningkatkan kinerja dan kepercayaan publik.

Kisah pembangunan jalur ganda lintas utara menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah proyek besar dapat dijalankan tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat.

Melalui kombinasi kreativitas, empati, dan keberanian mengambil keputusan, Jonan menunjukkan bahwa pembangunan dan kesejahteraan rakyat tidak selalu harus berada di dua sisi yang berseberangan.

Di tengah kebutuhan Indonesia akan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi nyata, kisah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah proyek tidak hanya diukur dari panjang rel yang dibangun atau target yang tercapai, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat yang terdampak di dalamnya.

Meski demikian, publik saat ini telah merasakan betapa transformasa ala Ignatius Jonan telah mampu membawa PT KAI bisa semakin diterima publik, bahwa kini layanan Kereta Api telah diminati dan dicintai publik nasional dimana peletak dasar perubahan itu adalah Jonan.

Layanan kereta api yang telat waktu telah jadi keseharian, sehingga seharusnya, penyanyi legendaris Iwan Fals, seharusnya kini membuat lirik lagu baru guna menjawab lagu lama yang sangat populer dan merusak citra PT KAI itu, lagu berjudul "Kereta Tiba Pukul Berapa?", dimana digambarkan secara sangat sarkasme bahwa keterlambatan Kereta Api dua jam itu sudah biasa. (ih/yh)