Dari Ruang Kaderisasi Cak Muhlis Ali, Menyemai Generasi Intelektual dan Pemimpin Masa Depan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Mukhlis Ali (tengah) bersama MHR Shikka Songge (kanan) saat berdiskusi di Graha Yakusa terkait kaderisasi dan penyiapan generasi intelektual umat dan bangsa.
Mukhlis Ali (tengah) bersama MHR Shikka Songge (kanan) saat berdiskusi di Graha Yakusa terkait kaderisasi dan penyiapan generasi intelektual umat dan bangsa.

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Ada sebuah harapan besar yang tersimpan di balik pembangunan sebuah ruang sederhana: lahirnya generasi yang mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa pada zamannya.

Harapan itu disampaikan MHR Shikka Songge, senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 1992–1993, yang selama ini dikenal sebagai instruktur nasional dalam perkaderan HMI, khususnya dalam pengkajian Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Dalam refleksinya, MHR Shikka Songge melihat langkah sahabat seniornya, Muhlis Ali, menyiapkan fasilitas kaderisasi sebagai sebuah ikhtiar yang memiliki nilai strategis bagi masa depan kader HMI dan bangsa.

“Langkah ber-legacy dan bermartabat dari seorang sahabat senior Cak Muhlis Ali. Ia mempersiapkan fasilitas kaderisasi intelegensia ideologis untuk anak-anak HMI tumbuh menjadi pemimpin umat dan bangsa yang berkarakter di masa depan,” demikian pandangan MHR Shikka Songge.

Ia mengaku pernah bertandang langsung ke tempat tersebut. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat, diisi diskusi dan secangkir kopi. Namun, di balik kesederhanaan pertemuan itu, ia melihat sebuah gagasan yang jauh lebih besar: mempersiapkan manusia untuk masa depan.

Tempat tersebut, dalam pandangan MHR, layak disebut sebagai “pembenihan generasi umat dan bangsa.”

Ia berharap dari ruang tersebut kelak lahir tokoh-tokoh bangsa dan negarawan pada zamannya.

Harapan semacam itu, menurutnya, memiliki preseden dalam sejarah. Ia mengingat kembali sosok HOS Tjokroaminoto, yang rumahnya pernah menjadi ruang belajar dan pertemuan gagasan bagi sejumlah tokoh pergerakan Indonesia.

Bagi MHR, pelajaran penting dari sejarah tersebut bukan sekadar siapa saja tokoh yang pernah berada dalam satu ruang, melainkan bagaimana sebuah ruang dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, pembentukan karakter, dan tumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Kaderisasi Bukan Sekadar Melahirkan Aktivis

Dalam pandangan MHR Shikka Songge, kaderisasi HMI tidak semestinya berhenti pada proses melahirkan aktivis organisasi.

Kaderisasi harus menjadi proses panjang untuk membentuk manusia yang memiliki kedalaman intelektual, keteguhan nilai, kematangan spiritual, dan keberanian mengambil tanggung jawab sosial.

Pemikiran tersebut tidak terlepas dari perjalanan MHR sendiri dalam dunia perkaderan HMI. Ia dikenal luas di lingkungan HMI sebagai instruktur yang banyak membahas NDP, filsafat, keislaman, ideologi, serta arah perjuangan kader. Dalam sejumlah forum perkaderan nasional, namanya hadir sebagai pemateri dan penggerak diskursus tentang kualitas kader HMI.

Karena itu, ketika melihat fasilitas yang sedang dipersiapkan Cak Muhlis Ali, MHR tidak hanya melihat sebuah gedung.

Ia melihat kemungkinan lahirnya tradisi intelektual.

Sebuah tempat di mana kader muda dapat membaca, berdiskusi, meneliti, menguji gagasan, memperdalam keislaman, sekaligus belajar memahami persoalan masyarakat dan bangsa.

“Tidak berlebihan langkah Cak Muhlis ini tidak hanya melahirkan generasi ideologis, namun boleh jadi melahirkan ilmuwan, peneliti muslim yang hebat,” demikian refleksinya.

Dari Ruang Kaderisasi Menuju Tradisi Keilmuan

Pandangan tersebut membawa MHR pada sebuah analogi dengan Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad, yang dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan tradisi keilmuan pada masa kejayaan peradaban Islam.

Bagi MHR, bukan berarti fasilitas yang dibangun Cak Muhlis harus disamakan begitu saja dengan Bayt al-Hikmah.

Namun, ada sebuah pelajaran penting yang dapat diambil: peradaban besar membutuhkan ruang yang memungkinkan ilmu pengetahuan tumbuh dan gagasan berkembang.

Ruang fisik hanyalah awal. Yang jauh lebih penting adalah apa yang kemudian tumbuh di dalamnya.

Jika ruang-ruang tersebut dihidupkan dengan tradisi membaca, penelitian, diskusi, pengkajian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, bukan tidak mungkin ia menjadi embrio sebuah pusat intelektual yang memberikan manfaat lebih luas.

Dalam konteks inilah gagasan knowledge and spiritualism menjadi penting.

Membangun manusia, menurut perspektif tersebut, tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual. Ia membutuhkan fondasi spiritual dan nilai yang kuat agar pengetahuan tidak kehilangan arah.

Menyiapkan Pemikir, Ilmuwan hingga Negarawan

Karena itu, ruang kaderisasi yang sedang dipersiapkan Cak Muhlis Ali dapat dilihat sebagai investasi jangka panjang.

Bukan hanya untuk melahirkan kader yang mampu menjalankan roda organisasi, tetapi juga manusia yang mampu mengambil peran lebih luas sebagai pemikir, ilmuwan, peneliti, pemimpin, dan negarawan.

Sebab seorang kader tidak cukup hanya memiliki keberanian bergerak. Ia juga membutuhkan kemampuan membaca perubahan zaman.

Ia harus mampu memahami persoalan masyarakat, menguasai ilmu pengetahuan, memiliki kemampuan berpikir kritis, sekaligus memiliki komitmen moral untuk menggunakan pengetahuannya bagi kemaslahatan.

Dalam konteks itulah, tradisi kaderisasi menjadi sangat penting.

Generasi tidak lahir secara tiba-tiba. Ia lahir dari proses panjang, dari ruang belajar, diskusi, keteladanan, pergulatan pemikiran, dan keberanian untuk terus mencari jawaban atas persoalan zaman.

Dan ruang yang sedang dipersiapkan Cak Muhlis Ali, sebagaimana dilihat MHR Shikka Songge, dapat menjadi salah satu titik awal dari proses panjang tersebut.

Pada akhirnya, sebuah gedung tidak akan berarti banyak tanpa manusia yang menghidupkannya.

Namun, ketika sebuah ruang dipersiapkan dengan visi yang besar, diisi dengan tradisi ilmu, nilai, spiritualitas, dan kaderisasi yang konsisten, ia dapat menjadi lebih dari sekadar bangunan.

Ia dapat menjadi ruang tumbuh sebuah generasi.

Dari sana, mungkin saja kelak lahir kader-kader yang tidak hanya mampu berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Sukses Cak Muhlis Ali. Semoga ikhtiar ini menjadi legacy yang panjang dan bermartabat bagi generasi mendatang.

Redaksi JatimUPdate.id