JatimUPdate.id - Hujan turun sejak menjelang dini hari. Basement apartemen masih lengang ketika Elena mematikan mesin mobilnya.
Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 01.19 WIB. Ia tidak langsung turun. Kedua tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus memutar percakapannya bersama Arman.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian III)
"Kadang yang paling berbahaya bukan orang yang membayarmu. Melainkan orang yang membuat semua orang saling membayar."
Kalimat itu belum juga lepas dari kepalanya.
Elena akhirnya keluar dari mobil. Langkahnya pelan, tetapi matanya terus menyapu setiap sudut basement.
Kebiasaan itu sudah melekat bertahun-tahun, ia selalu memastikan tidak ada orang yang mengikuti sebelum memasuki apartemen.
Sesampainya di dalam, ia tidak langsung menyalakan lampu. Ruangan dibiarkan gelap, beberapa detik kemudian matanya mulai terbiasa dengan keadaan.
Tidak ada suara, jendela yang terbuka. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, bingkai foto yang biasanya berada di sudut meja kini bergeser beberapa sentimeter. Sangat kecil, hampir tak terlihat.
Tetapi bagi Elena, perubahan sekecil apa pun adalah pertanda. Ia meyakini seseorang pernah berada di apartemennya.
Ia paham orang tersebut bukan untuk mencuri, membunuh. Namun orang itu sengaja meninggalkan jejak, seolah ingin mengatakan... "Aku bisa masuk kapan saja."
***
Keesokan paginya Adrian menghadiri kunjungan kerja di daerah pemilihannya. Ia menyapa warga tanpa panggung, tanpa pengeras suara, tanpa iring-iringan berlebihan.
Seorang pedagang tua menggenggam tangannya erat.
"Jangan berubah kalau nanti jabatanmu lebih tinggi." kata orang itu sambil menyalaminya, Adrian tersenyum.
"Kalau saya berubah, Ibu boleh datang ke kantor dan marahi saya." ujar Adrian, lalu disambut tawa warga pecah.
Tak jauh dari keramaian, seorang pria berkacamata hitam berdiri di balik halte bus. Tangannya memegang kamera kecil. Ia bukan wartawan, fotografer lepas, ia hanya memotret Adrian dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, foto-foto itu dikirim melalui aplikasi terenkripsi, pesan yang menyertainya sangat singkat.
"Target masih sesuai pola," gumamnya.
Di tempat lain, Damar mulai kehilangan kesabaran. Sudah dua bulan operasi berjalan, akan tetapi nama Adrian justru semakin kuat.
Survei demi survei masih menempatkannya sebagai salah satu legislator muda paling dipercaya publik. Damar melemparkan sebuah map ke atas meja.
"Apa yang dilakukan Elena?" katanya, sambil menyulut rokoknya. Tatapannya tajam ke depan, wajahnya merah menahan amarah. Tak berselang lama seorang asistennya menjawab pelan.
"Dia masih membangun kedekatan, targetnya tidak mudah." ucapnya pelan.
"Sudah terlalu lama, lalu jangan serang targetnya, serang kepercayaan publiknya," Damar berdiri, asisten itu mengangkat kepala.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 3: Secangkir Kopi di Ujung Kota
***
Sore harinya telepon Elena berdering, nama Adrian muncul di layar, tanpa basa-basi ia menyapa Elena.
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin mengingatkan," kata Adrian.
"Mengingatkan apa?" jawab Elena was-was.
"Hati-hati, saya mendapat kiriman foto kamu saat kamu bertemu seseorang. Ada yang sedang memainkan kita," mendengar perkataan itu jantung Elena berdetak lebih cepat.
Adrian tidak menyebut nama, ia juga tidak bertanya siapa orang dalam foto tersebut. Namun suaranya terdengar tenang.
"Saya belum tahu siapa, tapi saya yakin, bukan hanya saya yang sedang diawasi," Adiran langsung mematikan telepon.
Elena menatap layar ponselnya beberapa saat. Perasaannya mengatakan satu hal, permainan telah berubah.
***
Malam itu juga Elena memutuskan menemui Arman. Rumah tua di pinggir kota itu tampak lebih sunyi, pintu depan terbuka sedikit. Lampu ruang tamu masih menyala, cangkir kopi di atas meja belum sepenuhnya dingin.
"Pak Arman..." Tidak ada jawaban, Elena melangkah perlahan, lantai kayu berderit di setiap pijakan, semakin jauh ia masuk, suasana semakin ganjil.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 2: Bara di Ruang Tamu (Seri II)
Rak buku roboh, laci terbuka, berkas berserakan memenuhi lantai. Komputer yang biasa digunakan Arman sudah tidak ada.
Namun anehnya, tidak ada barang lain yang hilang. Seolah seseorang datang hanya untuk mengambil sesuatu yang sangat penting.
Tatapan Elena kemudian berhenti, di dekat kaki meja tergeletak selembar kartu remi. Tidak ada tulisan, pesan, tak ada lambang apa pun selain gambar yang memang tercetak pada kartu itu.
Jemari Elena mendadak membeku, wajahnya perlahan kehilangan warna. Ia tidak langsung memungut kartu tersebut, hanya menatapnya dalam diam. Napasnya terdengar semakin berat.
Ada sesuatu dalam ingatannya yang berusaha muncul, sesuatu yang selama bertahun-tahun ia paksa untuk dilupakan. Akhirnya Elena berjongkok, dengan hati-hati mengambil kartu remi itu.
Dibaliknya, kosong, tak ada sidik jari, kode, bekas tinta, hanya selembar kartu remi biasa. Namun justru itu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia menggenggam kartu itu erat. Tanpa sadar, pandangannya mulai kosong, seakan pikirannya sedang kembali ke masa lalu.
Belum sempat Elena menyusun potongan-potongan kejadian itu, suara derit ban terdengar dari luar rumah. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar, lampunya dimatikan. Namun, mesinnya tetap menyala.
Seseorang keluar dari kursi belakang, langkhnya pelan, tenang, dan langsung menuju pintu rumah. Elena buru-buru mematikan lampu ruang tamu, tubuhnya merapat ke dinding.
Ia menahan napas, gagang pintu perlahan bergerak, seseorang sedang mencoba masuk.
Elena menggenggam kartu remi itu semakin erat. Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa bukan lagi pemburu. Melainkan orang yang sedang diburu.
Editor : Yuris. T. Hidayat