Oleh: Hadipras
Artikel ini adalah tentang sebuah perenungan rasional, jejak kebangsaan, dan asa yang tak boleh padam.
JatimUPdate.id - Setiap hari, ketika kaki ini melangkah menelusuri sudut-sudut kota, menyapa kawan lama, atau sekadar duduk meriung mendengarkan perbincangan warga di warung kopi, ada satu nada yang terngiang kian nyaring. Bukan lagi sekadar keluhan eceran tentang naik turunnya harga beras atau himpitan tagihan bulanan, melainkan sebuah kelelahan eksistensial. Sebuah kegelisahan mendalam dari mereka yang berada di relung menengah ke bawah:
"Pak, ketika sistem ini sudah begitu rumit, berkelindan, dan seolah tak berpihak... apakah masih ada harapan?"
Pertanyaan itu menggantung tebal di udara, menuntut jawaban jujur. Memang, jika kita menyaksikan dinamika hari-hari ini, rasa skeptis itu begitu wajar meluap. Regulasi bertumpuk bagai jerawat busuk yang muncul satu demi satu sebelum yang lama sempat sembuh. Birokrasi kerap kali terasa serba menekan ke bawah, namun tumpul dan ramah ketika berhadapan dengan kepentingan di aras atas. Rakyat dituntut untuk terus tertib, fleksibel, dan pandai bersyukur, sementara di panggung lain, pamer kekuasaan dan kebocoran sumber daya terus dipertontonkan tanpa rasa canggung.
Kini, yang terganggu bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan akal sehat. Bahkan pada level yang paling terendah sekalipun, banyak kebijakan dan tindakan elit yang sudah tidak masuk di nalar dan melampaui batas kepatutan moral. Ketika aturan dibuat asal berbunyi dan keberpihakan pada rakyat tergerus habis, masyarakat merasa tak lagi sedang dikelola oleh tata negara yang rasional, melainkan dijebak dalam labirin kebebalan yang dipaksakan.
Kesabaran warga yang selama ini dianggap sebagai fondasi kebangsaan, sebenarnya bukanlah penanda bahwa mereka sepenuhnya ridho. Kesabaran itu adalah mekanika bertahan hidup (survival mechanism)—sebuah ikhtiar menjaga dapur tetap ngebul di tengah badai kebijakan yang sering kali mengalami kebangkrutan logika emosional dan logika berpikir sekaligus.
Refleksi 1978: Menjaga Api dalam Kesunyian
Menghadapi situasi semacam ini, ingatan saya melayang kembali pada tahun 1978. Kala itu, di tengah hegemoni rezim Orde Baru yang berada di puncak kekuatannya, gelombang perlawanan mahasiswa ITB dihantam tindakan represif. Dalam lingkaran konsolidasi internal mahasiswa saat itu—di mana saya hadir dan menjadi bagian langsung di dalamnya—sebuah kesadaran jernih lahir di tengah kehampaan:
"Secara fisik dan struktur, kita memang tidak mungkin melawan mesin kekuasaan ini. Namun, kita akan terus melawan dengan gerakan moral—a moral force."
Kala itu, informasi dibungkam ketat. Pers dibreidel, jaringan digital belum ada, dan narasi kritis harus menyusup secara sunyi dari mulut ke mulut, lewat pamflet bersetensil sederhana. Membutuhkan waktu 20 tahun yang panjang dan sunyi hingga gerakan moral itu mengecambahkan hasilnya dalam Reformasi 1998.
Sejarah membuktikan: perubahan besar tidak selalu lahir dari ledakan instan, melainkan dari konsistensi merawat kesadaran moral yang diuji oleh waktu.
Sistem—sekompleks, seotoriter, dan se-tidak masuk akal apa pun—hanyalah bentukan mekanis yang berjalan di atas kepatuhan yang terdistribusi. Namun, ketika nalar dan moralitas publik dilanggar hingga batas paling bawah, sistem itu sebenarnya sedang menabur benih kerapuhannya sendiri.
Gusti Akeh Owah-Owahane, Nanging Ora Owah Kusumaning Ati
Lantas, bagaimana kita menjawab keraguan rakyat hari ini? Haruskah kita menyodorkan hiburan manis nan artifisial? Tentu tidak. Menjejali orang yang sedang berjuang dengan jargon-jargon motivasi kosong adalah bentuk ketidakpekaan yang lain. Namun, membiarkan keputusasaan menang secara mutlak juga merupakan kekalahan fatal. Sebab, ketika masyarakat dibuat benar-benar apatis dan mati rasa, di situlah kebebalan sistem meraih kemenangan sempurnanya.
Harapan itu tidak sedang bersembunyi di dalam janji-janji politik yang tertera di atas kertas panggung pemilu. Harapan itu justru hidup dan berdenyut di akar rumput. Ia hadir pada warga biasa yang tetap merawat akal sehat, saling menopang, dan menolak untuk menjadi culas. Ini adalah manifestasi dari kearifan “Memayu Hayuning Bawana” dalam skala paling mikro: keberanian untuk tetap menjadi manusia yang beradab dan berilmu di tengah tatanan yang sedang krisis nalar.
Merawat Api Kesadaran
Maka, tugas kita hari ini—khususnya bagi siapa saja yang pernah menempa diri dalam sejarah dan masih diberikan kejernihan berpikir—bukanlah menyebarkan pesimisme beracun, melainkan merawat api kesadaran. Memotivasi kawan dan tetangga di sekitar kita bukan berarti mengajak mereka pasrah pada nasib, melainkan menegakkan martabat: bahwa kita menolak untuk ikut-ikutan culas, menolak untuk mati rasa, dan menolak membodohkan diri.
Sebab pada akhirnya, ketika malam terasa paling pekat, itulah tanda bahwa fajar sedang menyiapkan terbitnya. Di atas segala kerumitan regulasi dan perpolitikan duniawi, masih ada hukum alam dan kehendak Ilahi yang tak pernah tidur. Tugas kita sederhana namun mendasar: menjaga agar 'kusumaning ati'—kemurnian hati, batas nalar, dan batas moral itu—tetap utuh, berdiri tegak, dan tak ternilai oleh apa pun.
“Ugering adil iku dumunung ing sejatining nurani. Senadyan tatanan donya rame, pepadhange kayekten ora bakal sirna.”
(Keadilan sejati bersemayam dalam nurani. Betapa pun riuhnya tatanan dunia, cahaya kebenaran takkan pernah padam.)
Editor : Redaksi