Ketika Sang Raja Rimba Akhirnya Tumbang Juga

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Hadi Prasetyo Pengamat Sosial Politik

Oleh: Hadi Prasetyo

Pengamat Sosial Politik dan Ekonomi

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam khazanah dongeng dan fabel klasik Nusantara, kejatuhan penguasa hutan yang digdaya tidak pernah diakibatkan oleh pertarungan akbar melawan tandingan sepadan. Sang Harimau atau Sang Raja Rimba yang taringnya ditakuti seisi rimba selalu jatuh oleh ironi yang sama: ketidakmampuannya memperhitungkan hal-hal kecil yang ia remehkan. Ia terlalu sibuk menatap langit, merasa cakar dan aumannya kebal dari hukum alam, hingga lupa bahwa tetesan air sekecil apa pun, jika konsisten, mampu melubangi batu karang paling keras sekalipun.

Hari ini, dongeng satwa itu menjelma menjadi teater sosial di ruang publik kita. Di tengah gelombang demonstrasi yang marak dari berbagai elemen masyarakat—dari buruh, akademisi, hingga kelompok kelas menengah bawah yang mulai gelisah—kita menyaksikan benturan tajam antara dua realitas yang bertolak belakang. Di satu sisi, para penguasa dan pemegang kendali menarasikan bahwa semuanya "aman terkendali," seolah angin lalu yang tidak perlu dirisaukan. Namun, di sisi lain, tanah tempat para pelaku ekonomi berpijak justru bergetar hebat dalam senyap.

Ilusi Tembok 2,5 Meter dan Ketakutan Sektor Riil
Simbol paling telanjang dari kepanikan ini dapat dilihat di sudut-sudut pusat perniagaan dan kawasan komersial perkotaan. Mal-mal besar dan pusat perbelanjaan mendadak membangun pagar tinggi hingga 2,5 meter, memperketat akses, dan membentengi diri dari massa aksi. Keputusan arsitektural yang mendadak ini bukan sekadar tindakan preventif biasa, melainkan manifestasi fisik dari ketakutan akut para pelaku ekonomi.

Para pemilik modal, pedagang, dan investor ritel tahu betul apa yang dirasakan di lantai dasar pasar: daya beli melemah, ketidakpastian hukum merayap, emosi dan ketidakpercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi mencapai puncaknya. Mereka tidak lagi percaya pada retorika optimisme artifisial yang diproduksi oleh meja-meja birokrasi. Bagi mereka, pagar tinggi adalah ikhtiar terakhir untuk melindungi aset di tengah iklim yang kian rapuh.

Namun, kontras yang menggelikan sekaligus menyesakkan terjadi di ruang-ruang kekuasaan. Narasi resmi pemerintah tetap bersikukuh menampilkan wajah tanpa beban. Ekonomi diklaim tumbuh gemilang, stabilitas diklaim terjaga, dan unjuk rasa dipandang sekadar riak kecil buatan kelompok yang "kurang piknik" atau "salah paham." Pemerintah dan korporasi media arus utama (terutama televisi) seolah bersepakat mengenakan kacamata kuda: memblokir, menyensor, atau mengecilkan skala demonstrasi yang kian hari kian ekskalatif. Layar kaca sibuk menyuguhkan pencitraan harmoni, sementara di jalanan, ketegangan sosial membara dalam diam.

"Penguasa yang lalai sering kali mengira bahwa dengan menutup mata kamera televisi, masalahnya telah lenyap dari muka bumi. Padahal, ia sedang merajut sendiri tali penjeratnya di ruang-ruang sunyi tempat rakyat menyimpan geram.

Pelajaran dari Sang Raja Rimba: Seberapa Jauh Ia Mampu Bertahan?
Pertanyaan fundamentalnya hari ini: Seberapa jauh sang raja rimba mampu bertahan di atas singgasana keangkuhannya?

Jawabannya terletak pada hukum sejarah dan sosiologi kekuasaan. Kekuatan fisik dan dominasi informasi memiliki batas kedaluwarsa. Semakin keras pemerintah dan media mencoba membungkam realitas dengan narasi "sok aman"—menyembunyikan eskalasi demo, menertawakan keresahan buruh, dan mengabaikan jeritan pelaku ekonomi—semakin rapuh pula fondasi legitimasi mereka.

Dalam kalkulasi fabel, peremehan terhadap "ancaman kecil" adalah awal dari kehancuran total. Demonstrasi yang awalnya dianggap angin lalu, pedagang kecil yang cemas di balik pagar mal, hingga desas-desus kekecewaan di warung kopi adalah akumulasi energi asimetris. Mereka tidak datang dengan taring yang sama besar, melainkan dengan gelombang kesadaran kolektif yang tak lagi bisa dibendung oleh barikade aparat atau sensor layar televisi.

Ketika sang raja rimba terlampau nyaman di dalam benteng ilusinya sendiri, ia tidak menyadari bahwa benteng itu telah berubah menjadi penjara. Dan di luar tembok-tembok tinggi itu, sejarah sedang menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji: bahwa kesewenang-wenangan selalu punya masa tenggat, dan arogansi kekuasaan pasti akan menemukan kuburannya secata tragis. Dan Tuhan ada di pihak yang tertindas. Itu hukum besi semesta. (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru