Bahlil Lahadalia Luncurkan 10 Buku di Usia 50 Tahun, Ungkap Kisah Hilirisasi hingga Investasi

Reporter : Imam Hambali
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat sambutan pada prosesi peluncuran 10 buku yang merangkum pemikiran, pengalaman, serta perjalanannya di bidang investasi, hilirisasi, dan energi di Jakarta.

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meluncurkan 10 buku yang merangkum pemikiran, pengalaman, serta perjalanannya di bidang investasi, hilirisasi, dan energi.

Baca juga: Presiden Prabowo Terima Panglima TNI Beserta Jajaran Pemimpin TNI Lengkap

Peluncuran buku tersebut digelar bertepatan dengan peringatan ulang tahun Bahlil ke-50 di The Ballroom at Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026). Acara itu turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh nasional.

Bahlil mengatakan, awalnya ia hanya berencana menerbitkan delapan buku. Namun, jumlah tersebut kemudian ditambah menjadi 10 buku.

"Izin Pak Presiden, buku saya itu sebenarnya delapan buku, bukan 10. Tapi karena angka delapan adalah sandi Bapak Presiden, maka saya genapkan menjadi 10 buku," ujar Bahlil saat peluncuran dan bedah buku bertajuk 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia.

Menurut Bahlil, sebagian buku tersebut bukan karya yang baru ditulis. Sejumlah buku merupakan rangkuman pengalaman ketika dirinya menjabat Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sebelum dipercaya memimpin Kementerian ESDM.

"Buku ini sebenarnya bukan yang baru ditulis untuk nanti akan dibuat. Sebagian buku-buku ini adalah buku-buku yang dibuat di saat saya masih Menteri Investasi," katanya.

Salah satu buku yang diluncurkan berjudul Hilirisasi Sumber Daya Alam Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi. Buku ini mengangkat pengalamannya terkait kebijakan penghentian ekspor bijih nikel pada awal periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Bahlil mengaku mendapat perintah untuk ikut menangani kebijakan tersebut beberapa hari setelah dilantik sebagai Kepala BKPM pada 23 Oktober 2019. Saat itu, kewenangan terkait ekspor nikel berada di Kementerian ESDM.

"Saya diperintahkan, saya ini seperti baru selesai taruna, tiba-tiba disuruh untuk perang di lapangan, aturan pun kita belum tahu," ujarnya.

Buku lainnya, Batang Magnet Investasi: Kisah di Balik Lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang, menceritakan proses pemerintah membangun kawasan industri untuk menarik investasi asing.

Bahlil mengungkapkan, Indonesia sempat gagal memanfaatkan momentum relokasi industri akibat perang dagang Amerika Serikat dan China. Sejumlah perusahaan saat itu lebih memilih Vietnam karena harga lahan kawasan industri dinilai lebih kompetitif.

Sementara itu, melalui buku Seni Menuntaskan Misi, Bahlil menceritakan upayanya memperkuat kewenangan Kementerian Investasi dalam menangani persoalan investasi.

Ia menilai, pada masa sebelumnya kementerian tersebut lebih banyak berperan sebagai pintu depan bagi investor tanpa memiliki kewenangan yang cukup untuk menyelesaikan persoalan investasi.

"Seperti harimau tapi tidak punya gigi. Ini jujur. Uangnya waktu itu APBN-nya tidak lebih dari Rp800 miliar. Investor datang ke sini, ke sini, kita enggak punya kewenangan waktu itu," kata Bahlil.

Ia juga menyinggung upayanya menyelesaikan persoalan investasi mangkrak yang nilainya mencapai Rp708 triliun.

Dalam buku Menanam Fondasi Kendaraan Listrik Nasional, Bahlil mengulas proses negosiasi pemerintah dalam membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, termasuk kerja sama dengan Hyundai.

Menurut dia, proyek senilai US$1,5 miliar tersebut sempat menjadi incaran sejumlah negara sebelum akhirnya direalisasikan di Indonesia.

"Waktu itu Singapura yang pengen ambil barang itu, termasuk baterainya. Tapi kita bagaimana membangun negosiasi dan alhamdulillah kita adalah negara pertama di Asia Tenggara yang memproses ekosistem baterai mobil," tuturnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Terima Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dan Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani

Otokritik terhadap Hilirisasi

Bahlil juga menjadikan buku Tuan di Negeri Sendiri sebagai ruang refleksi sekaligus otokritik terhadap pelaksanaan hilirisasi di Indonesia.

Ia menyebut gagasan tersebut berkaitan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya membangun kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Menurutnya, hilirisasi merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Namun, Bahlil mengakui pelaksanaan hilirisasi nasional masih belum sepenuhnya sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 dan nilai Pancasila.

"Buku ini adalah buku otokritik karena sebagian adalah disertasi saya. Bagaimana mungkin kita membangun hilirisasi di daerah, kemudian yang mendapat manfaatnya itu hanya pemerintah pusat dan investor?" ujarnya.

Berikut 10 buku yang diluncurkan Bahlil Lahadalia:

1. Hilirisasi SDA Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi

2. Batang Magnet Investasi: Kisah di Balik Lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang

Baca juga: PM Thailand Anutin Sebut Presiden Prabowo Subianto "Ikon Militer" Yang Dihormati Kalangan Militer Negaranya

3. Investasi Inklusif dan Berkelanjutan: Konsep dan Capaian

4. Koboi dari Timur Jaring Investasi

5. Bertahan, Berjejaring, Bertindak

6. Tuan di Negeri Sendiri

7. Seni Menuntaskan Misi

8. Transformasi Energi Negeri: Resiliensi, Transisi Energi, dan Hilirisasi

9. Seorang yang Terlanjur Disimpulkan

10. Menanam Fondasi Kendaraan Listrik Nasional.

Catatan Redaksi JatimUPdate.id : Dikutip dari sejumlah sumber. Peluncuran 10 buku itu konon sekaligus perayaan HUT Bahlil yang ke 50 tahun. (ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru