Penulis: Tasya Febrianty, Aviolla Terza Damaliana
Bojonegoro, JatimUPdate.id, 08 Agustus 2026 – Ketiadaan tempat pembuangan sampah (TPS) di Desa Donan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, mendorong mahasiswa KKN Kelompok 57 UPN Veteran Jawa Timur mengenalkan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Melalui program Bank Sampah dan Ember Komposter Tumpuk, mahasiswa mengajak masyarakat memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Persoalan sampah tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN Kelompok 57 UPN Veteran Jawa Timur selama menjalankan program pengabdian di Desa Donan. Pengelolaan dilakukan dengan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, sebelum sampah organik diolah melalui komposter dan sampah anorganik dikumpulkan melalui Bank Sampah.
Menurut Malik Abdul Majid, selaku fasilitator program Ember Komposter Tumpuk, teknologi tersebut dipilih karena mampu mengolah sampah organik dengan menghasilkan dua jenis keluaran yang dapat dimanfaatkan kembali.
“Ember komposter Tumpuk menghasilkan dua output, yaitu pupuk organik dan pupuk cair atau POC,” ungkap Majid.
Ember Komposter Tumpuk yang diperkenalkan mahasiswa KKN Kelompok 57 UPN Veteran Jawa Timur menggunakan sistem dua ember yang ditumpuk. Ember bagian atas berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik, sedangkan ember bagian bawah menampung cairan hasil proses pembusukan yang kemudian dapat dipanen sebagai pupuk organik cair. Sistem tersebut menjadi salah satu pembeda dibandingkan metode pengomposan lain yang juga dapat diterapkan di rumah. Menurut Majid, POC yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk untuk tanaman.
Kondisi Desa Donan yang belum memiliki TPS membuat pengelolaan sampah rumah tangga membutuhkan alternatif lain. Selain itu, tidak semua warga memiliki lahan yang cukup untuk membuat tempat pengelolaan sampah sendiri. Menurut Ibu Febty Nugraha Ningrum selaku Ketua Penggerak PKK, beberapa upaya edukasi mengenai larangan membuang sampah sembarangan juga telah dilakukan melalui PKK Desa Donan. Namun, keterbatasan fasilitas membuat persoalan sampah tetap membutuhkan solusi yang dapat diterapkan dari sumbernya.
Kehadiran Ember Komposter Tumpuk menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi sampah organik yang harus dibuang. Sementara itu, Bank Sampah difokuskan pada pengelolaan sampah anorganik. Sampah seperti botol plastik, kaleng, dan material sejenis dipilah, dikumpulkan, ditimbang, serta dicatat sebelum disalurkan kepada pihak pengepul yang dapat mengelolanya lebih lanjut.
Melalui kedua program tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 57 UPN Veteran Jawa Timur berupaya memperkenalkan pola pengelolaan yang sederhana, yakni sampah dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian diolah atau disalurkan sesuai dengan peruntukannya.
Menurut Evita Maharani, keberlanjutan program justru bergantung pada kemampuan masyarakat menerapkan pengelolaan sampah tersebut setelah kegiatan KKN berakhir.
"Kami berharap setelah program ini warga mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Sampah organik bisa diolah menggunakan komposter, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai jual dikumpulkan melalui bank sampah,” ungkap Evita Maharani, Koordinator Acara.
Harapan tersebut menjadi bagian dari upaya agar pengelolaan sampah yang diperkenalkan tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Program Bank Sampah dan Ember Komposter Tumpuk diharapkan dapat menjadi langkah awal pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga di Desa Donan. Mahasiswa berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat terus diterapkan masyarakat setelah masa KKN berakhir. (*)
#KKN UPN 2026
#KKN SDGS UPNVJT
Editor : Redaksi