Kritik atas Erosi Nalar Manusia Modern

Reporter : Redaksi
Muhammad Zahrudin Afnan

Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan, Magister Pendidikan Biologi dan Guru Biologi SMA NSA Surabaya

JatimUPdate.id - Tiga kekuatan menopang kehidupan manusia: fisik, pikiran, dan nurani. Fisik memberi kemampuan untuk bertindak, nurani memberi arah moral, sedangkan pikiran memungkinkan manusia memahami persoalan, menimbang pilihan, dan menentukan keputusan. Ketiganya seharusnya bekerja secara seimbang. Persoalannya, keseimbangan tersebut mulai goyah. Manusia modern semakin cepat bertindak dan semakin mudah bereaksi secara emosional, tetapi justru semakin jarang menjalani proses berpikir secara utuh. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu katalis yang mempercepat perubahan tersebut.

Baca juga: Ting Ting Jahe

René Descartes melalui cogito ergo sum menempatkan aktivitas berpikir sebagai fondasi eksistensi manusia. Ironisnya, ketika teknologi berpikir buatan berkembang pesat, manusia justru berpotensi semakin jarang menggunakan kapasitas berpikirnya sendiri. Proses berpikir sebenarnya dimulai dari persoalan: manusia mengamati, merumuskan pertanyaan, mencari informasi, membandingkan kemungkinan, mengalami keraguan, melakukan kesalahan, memperbaiki asumsi, lalu menyusun kesimpulan.

AI memotong rantai tersebut. Ketika persoalan muncul, manusia dapat langsung memasukkannya ke dalam AI dan memperoleh jawaban. Pencarian informasi dipangkas, perbandingan alternatif dilakukan mesin, bahkan penyusunan kesimpulan dapat diserahkan kepada sistem. Yang hilang bukan hanya waktu, melainkan proses kognitif yang selama ini melatih pikiran.

Fenomena tersebut berkaitan dengan cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan sebagian pekerjaan kognitif kepada alat eksternal. Pada tingkat tertentu, tindakan ini bermanfaat. Persoalan muncul ketika AI tidak lagi sekadar membantu mengingat atau menghitung, tetapi mengambil alih memahami, menganalisis, membangun argumen, dan merumuskan solusi.

John Sweller melalui Cognitive Load Theory menjelaskan keterbatasan kapasitas memori kerja manusia. Teknologi dapat mengurangi beban kognitif yang tidak perlu, tetapi tidak semua beban harus dihilangkan. Sebagian kesulitan justru diperlukan dalam pembentukan pemahaman. Pemikiran Hegel mengenai perkembangan pikiran melalui proses pertentangan dan pengujian juga menegaskan bahwa pemahaman tidak lahir semata-mata dari menerima hasil akhir, melainkan dari proses yang mengantarkan manusia menuju kesimpulan.

AI berpotensi mengubah kesulitan produktif menjadi kenyamanan instan. Manusia memperoleh jawaban lebih cepat, tetapi semakin sedikit mengalami kebuntuan, kesalahan, perdebatan, dan pencarian yang sebenarnya membentuk kemampuan berpikir. Bahaya terbesar bukan ketika AI memberikan jawaban yang salah, melainkan ketika AI memberikan jawaban yang benar tetapi manusia tidak lagi memahami mengapa jawaban tersebut benar.

Pelemahan proses berpikir kemudian memberi ruang lebih besar bagi respons emosional. Nurani tetap penting sebagai kompas moral, tetapi nurani tidak identik dengan emosi. Ketika pertimbangan rasional melemah, rasa takut, marah, simpati, dan rasa terancam dapat mendominasi keputusan. Kondisi tersebut menjadi lahan bagi populisme emosional, ketika persoalan kompleks disederhanakan menjadi siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan, dan siapa yang harus dibela.

Baca juga: Patriotisme Baru: Ketika Ilmu Turun Tangan

Neil Postman telah mengingatkan pergeseran ruang publik menuju budaya citra, hiburan, dan sensasi. Era digital mempercepat kecenderungan tersebut, sementara AI memungkinkan produksi konten emosional berlangsung semakin cepat dan masif. Informasi semakin melimpah, tetapi proses mengubah informasi menjadi pemahaman justru berpotensi semakin pendek.

Kelemahan ini paling terlihat ketika manusia menghadapi kondisi intimidatif seperti krisis ekonomi, ancaman sosial, konflik, ketidakpastian politik, atau tekanan kehidupan. Kahneman melalui System 1 dan System 2 menjelaskan mekanisme berpikir cepat-intuitif dan lambat-analitis. Jika manusia terlalu terbiasa menyerahkan proses berpikir kepada mesin, ia berisiko semakin bergantung pada respons cepat ketika menghadapi tekanan. Akibatnya, muncul kepanikan, pencarian kambing hitam, atau tindakan reaktif.

Fisik bergerak, emosi bereaksi, tetapi pikiran terlambat bekerja.

AI tidak perlu ditolak. Teknologi harus ditempatkan sebagai augmented cognition, yaitu alat yang memperkuat kemampuan kognitif manusia, bukan menggantikannya. AI dapat membantu mencari alternatif, menguji argumen, dan memperluas perspektif, tetapi manusia tetap harus merumuskan masalah, memeriksa bukti, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan.

Baca juga: BADUT PASTI BERLALU: Menguji Substansi Oposisi dan Teatrikalisasi Politik dalam Demokrasi Presidensial

Keseimbangan tiga kekuatan manusia harus dikembalikan: fisik sebagai daya untuk bertindak, nurani sebagai arah moral, dan pikiran sebagai penengah yang menimbang keduanya.

AI seharusnya menjadi katalis yang mempercepat manusia berpikir, bukan katalis yang mempercepat manusia berhenti berpikir.

Persoalan terbesar era AI bukan apakah mesin mampu berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir ketika mesin mampu memberikan hampir semua jawaban.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru