Patriotisme Baru: Ketika Ilmu Turun Tangan
Oleh: Machsus, Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
JatimUPdate.id - Apakah Indonesia hari ini masih membutuhkan patriot? Jawabannya bukan sekadar ya. Indonesia justru semakin membutuhkan patriot. Sebab setiap zaman memiliki tantangannya, setiap generasi memiliki medan perjuangannya, dan setiap masa melahirkan wajah patriotismenya sendiri.
Dahulu patriotisme hadir melalui bambu runcing, gerilya, dan nyawa yang dipertaruhkan demi satu kata, yakni merdeka! Hari ini medan perjuangan telah berubah. Kemiskinan masih ada, ketimpangan masih terasa, sebagian wilayah masih tertinggal, dan akses terhadap teknologi serta kesempatan belum merata.
Lantaran itu, pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan merebut kemerdekaan, tetapi siapa yang bersedia memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh semua. Di situlah patriotisme menemukan wajah barunya. Patriot hari ini tidak harus membawa bambu runcing. Senjatanya adalah ilmu pengetahuan, integritas, keberanian, kepedulian, dan kemampuan berkolaborasi.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Perguruan tinggi melahirkan sarjana, magister, dan doktor. Laboratorium menghasilkan teknologi, peneliti melahirkan publikasi, dan kampus menghadirkan inovasi. Yang perlu kita perbanyak adalah orang-orang pintar yang bersedia turun tangan. Mereka yang tidak berhenti bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi berani mengubahnya menjadi, “Apa yang dapat saya berikan?”
Sebab ilmu menemukan kemuliaannya bukan hanya ketika dipelajari, tetapi ketika digunakan untuk melayani. Di titik itulah ilmu bertemu patriotisme. Dan di titik itu pula Ekspedisi Patriot menemukan relevansinya, yakni membawa ilmu keluar dari zona nyaman kampus untuk berjumpa dengan kenyataan.
Pada Ekspedisi Patriot 2026, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengirimkan 25 tim ke 8 kawasan transmigrasi, yakni 20 tim ke Papua Barat, termasuk kawasan prioritas Momiwaren, tiga tim ke Nusa Tenggara Timur, serta masing-masing satu tim ke Nusa Tenggara Barat dan Barelang. Mereka sesungguhnya bukan sekadar berangkat menuju lokasi. Mereka berangkat menuju persoalan, menuju kenyataan, dan menuju ruang-ruang tempat harapan perlu dinyalakan.
Spirit itu tergambar dalam pantun Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat melepas Tim Ekspedisi Patriot 2026, “Pohon kelapa di telaga angsa, nyiur melambai penuh inspirasi. Ekspedisi Patriot mengabdi untuk bangsa, menyejahterakan rakyat di kawasan transmigrasi.”
Empat larik itu sederhana, tetapi pesannya dalam, yakni kelapa berbicara tentang kebermanfaatan, nyiur tentang ketangguhan, patriot tentang pengabdian, dan kesejahteraan rakyat tentang tujuan akhir pembangunan.
Patriot Tangguh
Patriotisme membutuhkan ketangguhan. Jenderal Soedirman mengajarkan bahwa tubuh boleh melemah, tetapi tekad tidak boleh menyerah. Generasi hari ini tidak perlu mewarisi medan gerilyanya; kita perlu mewarisi watak perjuangannya.
Ketika kaum terdidik tiba di wilayah dengan infrastruktur terbatas, akses sulit, dan kenyataan yang jauh dari teori di ruang kuliah, jangan buru-buru bertanya, “Mengapa saya ditempatkan di sini?” Baliklah pertanyaannya, “Bukankah justru karena tempat ini membutuhkan saya?”
Itulah ketangguhan dalam patriotisme baru, yang tetap hadir ketika keadaan tidak mudah, tetap bekerja ketika tidak dipuji, dan tetap menjaga integritas ketika tidak diawasi. Seperti nyiur ketika diterpa angin. Ia melentur, tetapi tidak tercerabut. Begitulah patriot, yang lentur menghadapi perubahan, tetapi kokoh memegang nilai.
Sejatinya Ekspedisi Patriot merupakan perjalanan dari teori menuju realitas, dari pengetahuan menuju pengalaman, dari ruang kuliah menuju ruang kehidupan. Di sanalah ilmu benar-benar diuji.
Patriot Berdampak
Namun tangguh saja tidak cukup. Ketangguhan harus melahirkan keberdampakan atau kebermanfaatan. Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan memerdekakan manusia. Lantaran itu, ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan. Ilmu harus menjadi kebermanfaatan.
Pohon kelapa memberi pelajaran sederhana, bahwa hampir tidak ada bagian darinya yang sia-sia. Begitu pula manusia berilmu. Ukuran kecerdasan bukan hanya seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi seberapa banyak kehidupan menjadi lebih baik lantaran pengetahuan yang kita miliki.
Perguruan tinggi pun tidak boleh datang kepada masyarakat dengan perasaan paling tahu. Masyarakat bukan halaman kosong yang menunggu ditulisi kampus. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan kebijaksanaan yang lahir dari pergulatan panjang dengan kehidupan. Lantaran itu, jangan hanya membawa teknologi, bawalah empati. Jangan hanya menyelesaikan program, hadirkan perubahan. Jangan hanya meninggalkan laporan, tinggalkan manfaat.
Ekspedisi Patriot tidak boleh berhenti pada pemetaan masalah. Model, prototipe, pendampingan, teknologi, dan rekomendasi kebijakan harus membuat pengetahuan benar-benar bekerja. Kampus dan masyarakat menjadi sesama pembelajar, yakni ilmu akademik bertemu pengalaman lokal, teknologi bertemu kebutuhan nyata, dan pengetahuan bertemu kebijaksanaan. Sebab pengetahuan adalah amanah, dan setiap kemampuan intelektual membawa tanggung jawab moral untuk menghadirkan kemaslahatan.
Patriot Mendunia
Patriotisme juga tidak boleh menyempitkan cakrawala. Mencintai Indonesia tidak berarti menutup diri dari dunia. B.J. Habibie menunjukkan bahwa pikiran dapat menjelajahi dunia sementara hati tetap berpulang kepada Indonesia. Mendunia bukan berarti meninggalkan tanah air. Mendunia berarti membuat dunia melihat karya terbaik yang lahir dari tanah air.
Lantaran itu, jangan hanya menjadi pengguna teknologi; jadilah pencipta teknologi. Jangan hanya menjadi penonton perubahan; jadilah penggerak perubahan. Dan jangan hanya bertanya apa yang dapat Indonesia pelajari dari dunia. Kita juga harus berani bertanya, apa yang dapat dunia pelajari dari Indonesia?
Indonesia adalah laboratorium kehidupan yang luar biasa. Negara kepulauan, pertanian tropis, perikanan, energi terbarukan, keragaman budaya, keterbatasan konektivitas, dan kompleksitas pembangunan wilayah menghadirkan persoalan sekaligus peluang inovasi.
Kawasan transmigrasi jangan terus dipandang sebagai pinggiran yang menunggu bantuan. Ia dapat menjadi halaman depan masa depan Indonesia, yakni tempat pengetahuan bertemu pengalaman, teknologi bertemu kebutuhan, dan inovasi bertemu kekuatan masyarakat.
Bangunlah solusi yang lahir dari persoalan Indonesia, dikerjakan dengan kecerdasan Indonesia, diuji dalam kenyataan Indonesia, lalu suatu hari memberi manfaat bagi dunia. Di situlah tiga kata menemukan keterkaitannya, yakni tangguh adalah wataknya, berdampak adalah orientasinya, dan mendunia adalah cakrawalanya. Tetapi semuanya harus bermuara pada satu tujuan, yakni kesejahteraan manusia.
Perjuangan merebut kemerdekaan memang telah selesai. Namun perjuangan menghadirkan makna kemerdekaan tidak pernah selesai. Patriot hari ini mungkin tidak memiliki monumen. Namanya mungkin tidak masuk buku sejarah. Masyarakat bahkan mungkin lupa siapa yang pernah datang mendampingi mereka. Tetapi jangan sampai mereka kehilangan manfaat dari apa yang pernah kita kerjakan.
Sebab patriot tidak menjadi abadi karena namanya terus disebut. Patriot menjadi abadi ketika manfaatnya terus hidup, bahkan setelah dirinya pulang. Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia membutuhkan semakin banyak orang pintar yang bersedia turun tangan, yakni tangguh menghadapi persoalan, berdampak bagi kehidupan, dan berani membawa karya Indonesia mendunia.
Sebab patriotisme pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar kita mencintai Indonesia. Patriotisme adalah tentang apa yang bersedia kita kerjakan karena kita mencintai Indonesia. Dan barangkali di situlah patriotisme baru menemukan wajahnya, yakni ketika ilmu tidak hanya menerangi pikiran, tetapi turun tangan menyalakan harapan.
Editor : Redaksi