Surabaya,JatimUPdate.id - Lagu Galau milik Mel Shandy yang dirilis 2011 menghadirkan potret seseorang yang belum benar-benar tuntas dengan masa lalunya. Ia mencoba pergi, tetapi kenangan terus kembali.
Ingin melupakan, namun pada saat yang sama masih mempertanyakan apakah keputusan meninggalkan orang yang dicintainya merupakan pilihan yang tepat.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 10: Luka yang Tertinggal
Diksi yang digunakan terasa puitis, kata seperti cahaya perak, bulan, dinding kalbu, mimpi, gundah, purnama, kebimbangan, asa, dan surga membawa lirik keluar dari bahasa percakapan sehari-hari.
Pilihan kata tersebut membuat kegelisahan tokoh dalam lagu terasa lebih romantis sekaligus melankolis.
Imaji paling kuat muncul sejak pembukaan “Cahaya perak dari sang bulan / Menyentuh dinding kalbu teringatkan dirimu.”
Bulan menjadi pemicu munculnya kenangan, malam yang seharusnya tenang justru membuka kembali ruang batin yang selama ini berusaha ditutup. “Dinding kalbu” menjadi gambaran metaforis tentang ruang terdalam dalam hati tempat kenangan seseorang masih tersimpan.
Kemudian muncul “tujuh purnama”. Ini bukan cuma penanda waktu, tetapi simbol lamanya seseorang berada dalam kebimbangan. Tujuh kali purnama menjadi gambaran bahwa perasaan tersebut tidak hilang dalam waktu singkat.
Gaya bahasa lagu ini banyak menggunakan metafora, personifikasi, dan pertanyaan retoris. Kalimat “Salahkah aku meninggalkan dirinya?” dan “Haruskah aku menanti sia-sia?” tidak benar-benar membutuhkan jawaban dari orang lain.
Pertanyaan itu merupakan percakapan seseorang dengan dirinya sendiri.
Di sinilah konflik utama lagu terasa. Ia tahu hubungan tersebut memiliki masalah “seribu rencana kandas paham berbeda” tetapi ia juga belum mampu sepenuhnya melepaskan.
Baca juga: Analisis Lirik “Takdir” Mel Shandy: Ketika Cinta Harus Kalah oleh Jalan yang Dipilih Takdir
Ada penyesalan karena pernah bertemu, tetapi sekaligus masih ada harapan untuk kembali.
Repetisi bagian “Salahkah aku meninggalkan dirinya” memperkuat rasa bimbang tersebut. Semakin sering kalimat itu diulang, semakin terlihat keputusan untuk pergi ternyata belum memberikan ketenangan.
Yang menarik lagu ini juga menghadirkan perubahan dari kenangan menuju harapan melalui kalimat “Pijar asa ku nyalakan lagi.”
Sebab, jika sebelumnya bulan dan malam menjadi simbol kegundahan, kini muncul pijar sebagai simbol harapan. Artinya, tokoh dalam lagu belum sepenuhnya menyerah.
Secara ritme, pengulangan bait dan pertanyaan membuat lagu terasa seperti siklus pikiran yang terus berputar. Pergi, mengingat, menyesal, berharap, kemudian kembali mempertanyakan keputusan.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian VIII)
Tidak ada garis lurus dalam perasaan tokohnya.
Tema utama Galau kebimbangan setelah perpisahan. Namun rasa yang muncul jauh lebih berlapis, rindu, sesal, takut, berharap, dan keinginan untuk menemukan kepastian.
Galau tak cuma cerita tentang seseorang yang kehilangan kekasih. Ini cerita bagaimana sulitnya berdamai dengan keputusan sendiri.
Sebab adakalanya yang paling menyiksa setelah hubungan berakhir bukan kehilangan.
Namun pertanyaan yang terus muncul dalam hati, benarkah aku sudah memilih jalan yang tepat? (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat