Soal Fasilitas RPH Tambak Osowilangun Dianggap Tak Optimal, Fajar Buka Suara

Reporter : Ibrahim
Fajar Arifianto Isnugroho, dok Jatimupdate.id

Surabaya,JatimUPdate.id - Direktur Utama Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya, Fajar Arifianto Isnugroho, buka suara terkait fasilitas RPH Tambak Oso Wilangun.

Fajar mengatakan perbaikan fasilitas di RPH Tambak Osowilangun masih berlangsung. Pemerintah Kota Surabaya memperbaiki lantai elevasi secara bertahap karena pekerjaan tidak dapat dilakukan saat aktivitas pemotongan sapi berlangsung.

Baca juga: Data Desil Surabaya Harus Akurat, Ajeng Dorong Koordinasi Kelurahan-PKH

Menurut Fajar, pekerjaan dilakukan pada siang hari dan dibagi dalam beberapa blok. Perbaikan tidak bisa dikerjakan sekaligus karena aktivitas pemotongan di RPH tetap berjalan.

“Perbaikan lantai elevasi masih terus dikerjakan Pemkot. Progresnya memang tidak bisa cepat, karena perbaikan dilakukan ketika pemotongan tidak libur. Sehingga dikerjakan siang hari per blok secara bertahap,” kata Fajar, saat dikonfirmasi, JatimUPdate, Rabu (2/9).

Ia membenarkan pasokan sapi hidup saat ini terbatas. Kondisi tersebut membuat harga sapi meningkat dan berdampak pada harga daging di pasar.

“Betul, pasokan sapi hidup memang langka dan harganya mahal. Karena harga sapi hidupnya mahal, maka harga daging juga relatif tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Saiful Bahri Soroti RPH Tambak Osowilangun yang Belum Berjalan Optimal

Faja mengatakan harga daging kelas satu di Pasar Arimbi Surabaya saat ini berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram.

Di sisi lain, RPH Surabaya telah menyediakan truk untuk mengangkut daging dari RPH Tambak Osowilangun menuju Pasar Arimbi. Fasilitas transportasi itu belum digunakan oleh para mitra jagal.

“Kendaraan truk pengangkut daging dari RPH TOW ke pasar Arimbi Surabaya sudah kami siapkan. Kami kenakan biaya Rp50 ribu per karkas sebagai biaya ganti BBM dan operasional,” kata Fajar.

Baca juga: DPRD Hidupkan Lagi Gagasan Kereta Gantung Tambak Wedi-Mangrove

Menurut dia, belum digunakannya kendaraan tersebut bukan karena layanan tidak tersedia. 

Para mitra jagal kata Fajar memilih menggunakan kendaraan masing-masing untuk mengangkut daging.

“Sampai sekarang belum dimanfaatkan mitra jagal karena masing-masing jagal sapi sudah memiliki kendaraan pengangkut sendiri-sendiri,” tukas Fajar. (Roy/mmt)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru