Bursa Ketum PBNU Mengerucut, Tiga Kandidat Berebut Dukungan Muktamirin

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Tiga kandidat calon Ketum PBNU
Tiga kandidat calon Ketum PBNU

Surabaya,JatimUPdate.id - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU mengerucut menjadi tiga nama. Sehari sebelum pembukaan Muktamar ke-35 NU, tiga kandidat yang dinilai paling kuat petahana KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, KH Imam Jazuli alias Kiai Imjaz, dan KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan dibuka pada Kamis, 27 Agustus 2026. Suksesi Ketua Umum PBNU periode mendatang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026.

Sebelumnya, sejumlah nama muncul dalam bursa pencalonan. Selain Gus Yahya, Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin, ada KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, serta KH Abdul Ghaffar Rozin.

Namun, tidak semua nama tersebut berada dalam posisi yang sama. Sebagian menyatakan kesiapan maju dan mencari dukungan dari struktur NU. Sebagian lainnya belum menyampaikan pencalonan secara terbuka.

Menurut Institut Nahdliyin Nusantara atau Insantara, sejumlah kandidat yang semula masuk bursa berpotensi terganjal ketentuan organisasi. Di antaranya berkaitan dengan rangkap jabatan, masa idah politik, hingga pemberhentian atau pemecatan.

Perubahan mekanisme pemilihan, kata Insantara, secara normatif baru dapat diberlakukan untuk muktamar berikutnya.

Tiga Kandidat Terkuat

Peneliti Insantara Wildan Efendy mengatakan tiga nama tersebut dipilih berdasarkan tiga kluster. Pertama, kekuatan basis dukungan suara. Kedua, rekam jejak dan pergerakan kandidat. Ketiga, hasil wawancara mendalam dengan pengurus PWNU dan PCNU di berbagai daerah.

"Ketiganya diprediksi akan melaju menjadi Ketum PBNU sampai babak pemilihan di Muktamar ke-35 NU," kata Wildan dalam keterangan, Rabu, (26/8).

Wildan mengatakan sejumlah kandidat lain sebenarnya memiliki basis dukungan di PWNU maupun PCNU. Namun, mereka menghadapi persoalan persyaratan dalam tata tertib pemilihan.

Gus Yahya dan Persoalan Dukungan

Gus Yahya merupakan petahana dan Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. Ia juga alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Sebagai petahana, Gus Yahya memiliki modal pengalaman memimpin PBNU selama satu periode. Ia juga menguasai struktur organisasi dan memiliki jaringan yang terbentuk selama masa kepemimpinannya.

Namun, menurut Wildan, penilaian terhadap kepemimpinan Gus Yahya di internal NU terbelah. Sebagian kalangan menilai ia membawa modernisasi dan membuka ruang baru bagi NU di tingkat global.

Sebagian lainnya menyoroti persoalan tata kelola, konflik struktural, serta sejumlah kasus korupsi yang melibatkan pengurus PBNU.

"Bahkan kepemimpinan Gus Yahya oleh sebagian besar kalangan dianggap paling gagal dalam sejarah PBNU," kata Wildan.

Meski mendapat kritik, Gus Yahya tetap memiliki jalan untuk kembali maju. Menurut Wildan, sejumlah kalangan menilai Gus Yahya sedang berupaya mengonsolidasikan dukungan dari jaringan politik yang pernah berpengaruh dalam kemenangan pada Muktamar sebelumnya.

Imam Jazuli dan Poros Pemersatu

Nama Imam Jazuli menjadi salah satu kejutan dalam bursa tiga kandidat terkuat. Menurut Wildan, Kiai Imjaz merupakan salah satu figur muda NU yang dalam beberapa hari terakhir menguat dalam persaingan.

Imam Jazuli menawarkan posisi sebagai kandidat independen yang merepresentasikan kekuatan NU dan pesantren. Ia juga membawa gagasan persatuan serta transformasi organisasi untuk menjawab perubahan zaman.

Wildan menyebut Imam Jazuli memiliki tiga modal utama. Pertama, basis pesantren dengan ribuan santri. Kedua, pengalaman dalam pendidikan Islam tradisional dan akademik internasional. Ketiga, jejaring NU dan pesantren serta hubungan dengan sejumlah tokoh politik nasional.

Maka dari itu, posisi Imam Jazuli dinilai penting dalam peta persaingan. Ia bukan hanya berhadapan dengan kandidat lain, tetapi juga berpeluang menjadi titik temu berbagai kekuatan yang tidak terakomodasi dalam kontestasi.

"Yang menentukan adalah siapa yang mampu membangun konsolidasi, memperoleh dukungan muktamirin, serta menawarkan arah NU yang dapat diterima berbagai kelompok," kata Wildan.

Dalam peta tersebut, Imam Jazuli dinilai memiliki peluang menjadi kandidat pemersatu kekuatan NU dan pesantren. Ia juga membawa agenda mengembalikan marwah organisasi serta memperkuat otoritas ulama.

Gus Kikin dan Poros Tebuireng

Kandidat ketiga adalah KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin, Ketua PWNU Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Gus Kikin menawarkan narasi penguatan kembali fondasi dan identitas organisasi. Salah satu gagasan yang menonjol adalah penekanan terhadap Qanun Asasi KH Hasyim Asy'ari sebagai rujukan fundamental dalam kehidupan NU.

Sebagai kandidat yang lebih senior secara usia, Gus Kikin juga dinilai memiliki posisi yang kuat dalam struktur keulamaan NU.

Namun, menurut Wildan, dalam beberapa hari terakhir muncul anggapan bahwa Gus Kikin menjadi salah satu poros kekuatan yang mendapat dukungan dari lingkungan istana. Dukungan itu disebut berkaitan dengan kepentingan politik menuju Pemilu 2029. (*)