Oleh Abdul Rohman Sukardi
Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Baca juga: Bangun Ekosistem Muaythai Profesional PBMI Gelar Sertifikasi IFMA
Jakarta, JatimUPdate.id - Micro-drama China atau dracin kini membanjiri media sosial Indonesia. Episode hanya beberapa menit, konflik langsung, lalu datang kejutan: kurir ternyata CEO, pekerja rendahan ternyata pewaris keluarga kaya, tabib desa memiliki kemampuan luar biasa, atau orang yang dihina tiba-tiba membalikkan keadaan.
Fenomena ini sering dibaca sebagai bentuk baru industri hiburan. Namun, yang menarik bukan sekadar pendeknya durasi.
Micro-drama menunjukkan kelihaian industri film RRC dalam melawan dominasi industri film Amerika Serikat dengan logika yang berbeda: memperoleh perhatian dan keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal sebesar produksi film Hollywood.
Film Amerika memiliki kekuatan modal, teknologi, bintang, efek visual, dan jaringan distribusi global. Micro-drama menawarkan senjata lain: cerita sederhana, produksi cepat, biaya relatif rendah, volume tinggi, dan distribusi langsung melalui telepon pintar.
Dracin tidak menjual kemewahan produksi. Ia menjual kecepatan memenuhi kebutuhan emosi penonton.
Tapi di sini saya justru melihat dari perspektif “narasi kemungkinan”. Tema besar yang melekat pada dracin.
Yang dijual bukan semata-mata cerita, melainkan kemungkinan hidup. Orang kecil bisa menjadi besar. Orang yang diremehkan memperoleh pengakuan. Korban mendapatkan keadilan. Orang miskin menjadi kaya. Orang yang gagal memperoleh kesempatan kedua.
Kemungkinan itu tidak harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Cukup diwujudkan selama beberapa menit di layar.
Menariknya, pola ini dapat dibandingkan dengan sejumlah narasi yang telah lama hidup di Indonesia. Seper uang Bung Karno, emas Soekarno, harta karun Nusantara, hingga berbagai investasi yang menjanjikan keuntungan luar biasa.
Baca juga: ISO 27001, Dispendukcapil Butuh Pengamanan Data dan Peningkatan SDM
Bentuknya berbeda, tetapi struktur imajinasinya mirip. Kekayaan besar mungkin ada, hanya belum ditemukan atau belum menjadi milik kita.
Perbedaannya penting.
Micro-drama menawarkan kemungkinan untuk dikonsumsi. Narasi harta dan investasi menawarkan kemungkinan untuk dikejar.
Penonton micro-drama cukup menyaksikan kemenangan. Dalam narasi harta atau investasi, orang dapat terdorong mencari, membeli, menyetor uang, atau mengejar janji kekayaan.
Yang pertama terutama memonetisasi perhatian. Yang kedua dapat memonetisasi modal.
Secara sosial, keduanya dapat dibaca sebagai narrative compensation. Cerita memberikan pengganti simbolik atas sesuatu yang sulit diperoleh dalam kehidupan nyata. Seperti mobilitas, pengakuan, keadilan, dan kepastian masa depan.
Baca juga: Ciptakan Birokrasi yang Sehat, Komisi A: SDM yang Sulit Diperbaiki Harus Diganti
Ada pula sisi positifnya. Jika dikonsumsi secara sehat, micro-drama dapat melembagakan cara berpikir optimistis. Kegagalan bukan akhir, posisi sosial bukan takdir, dan selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan.
Optimisme semacam ini tentu tidak menggantikan tindakan nyata. Tetapi dapat memberi energi psikologis untuk tetap melihat masa depan sebagai sesuatu yang terbuka.
Karena itu, kekuatan micro-drama bukan hanya pada murahnya produksi. Ia menawarkan pelarian emosional yang murah dan cepat.
Ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, tekanan pekerjaan, ketidakpastian masa depan, kesenjangan, atau kekecewaan terhadap kehidupan sehari-hari, cerita tentang kemenangan mendadak menjadi semacam obat psikologis. Untuk beberapa menit, orang kecil menang, ketidakadilan dibalas, dan masa depan kembali terlihat mungkin.
Mungkin di situlah kelihaian terbesar micro-drama RRC: bukan membuat penonton percaya bahwa hidup mereka akan berubah. Tetapi memberi mereka kesempatan merasakan—meski hanya beberapa menit—seolah-olah hidup itu sudah berubah.
Editor : Redaksi