Oleh Mang Haji Rahmat
Baca juga: Bursah Zarnubi Dan Stamina Humanika
Jakarta, JatimUPdate.id - Saya mengenal HUMANIKA dan sosok Bursah Zarnubi melalui almarhum Bang Ridwan Saidi. Perkenalan itu terjadi pada awal 1990-an dan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan saya sebagai jurnalis.
Pada tahun 1993, saya bekerja di Lembaga Studi Informasi Pembangunan Indonesia (LSIP) yang berkantor di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.
LSIP merupakan lembaga kajian kebijakan dan information service yang didirikan oleh sejumlah tokoh, antara lain Bang Ridwan Saidi (mantan Ketua Umum PB HMI), Slamet Effendy Yusuf (tokoh NU), Tarto Sudiro (yang ketika itu merupakan anggota DPR RI dari PDIP), serta Alatas Fahmi (pengusaha, salah satu petinggi di Televisi Pendidikan Indonesia atau TPI).
Suatu hari Bursah Zarnubi datang ke kantor LSIP untuk menjemput Bang Ridwan Saidi yang akan menjadi narasumber dalam sebuah diskusi rutin di HUMANIKA. Saya kemudian diajak ikut bersama mereka.
Kami berangkat menggunakan mobil yang dikendarai lansgung oleh Bang Bursah. Bang Ridwan duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan dari Pondok Labu menuju markas HUMANIKA di kawasan Poncol, Jakarta Selatan, kedua tokoh ini berbincang banyak hal—mulai dari politik, persoalan sosial, sampai berbagai isu aktual yang sedang berkembang.
Saya lebih banyak menyimak. Sesekali saya ikut nimbrung ketika pembicaraan memasuki topik yang saya pahami.
Bagi saya, perjalanan singkat itu ternyata menjadi perjumpaan yang sangat berkesan dan istimewa. Itulah pertama kalinya saya bertemu secara langsung dengan Bang Bursah Zarnubi.
Kalau dengan Bang Ridwan Saidi, saya sebenarnya sudah lebih dahulu mengenalnya. Karena sebelum bergabung di LSIP, saya pernah menjadi reporter majalah Panji Masyarakat.
Bang Ridwan sering menjadi narasumber dan juga salah satu kolumnis aktif di Panjimas, majalah yang didirikan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dan ketika itu dipimpin redaksi oleh H. Rusjdi Hamka, putra Buya Hamka.
Sejak perkenalan itulah saya mulai sering hadir dalam diskusi-diskusi HUMANIKA. Kalau tidak bersama Bang Ridwan, saya datang sendiri.
Dari forum-forum HUMANIKA itulah saya kemudian mengenal banyak aktivis dan tokoh, antara lain Ekky Sjachrudin, Dr. Rizal Ramli, Hariman Siregar, Tjahjo Kumolo, Dr. Moeslim Abdurrahman, dan sejumlah tokoh lainnya.
Bagi saya, HUMANIKA bukan sekadar tempat berdiskusi. HUMANIKA adalah ruang belajar.
Di sana saya belajar memahami berbagai persoalan yang sedang terjadi di masyarakat—ekonomi, politik, sosial, kebangsaan, dan berbagai isu aktual lainnya. Saya mendapatkan banyak perspektif dari para aktivis dan tokoh yang hadir dalam forum-forum tersebut.
Baca juga: Kajati Aceh Terima Kunjungan Kakanwil Dilingkungan Kemenkeu
Saya bekerja di LSIP yang dipimpin Bang Ridwan Saidi sampai Mei 1996. Bahkan pada masa-masa terakhir, kantor LSIP berpindah ke kediaman Bang Ridwan di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.
Pada Juni 1996, saya kemudian pamit dari LSIP karena mendapat kesempatan bergabung sebagai reporter Liputan 6 SCTV.
Ada satu jasa besar Bang Ridwan Saidi yang sampai sekarang saya rasakan. Beliau seperti membukakan pintu yang sangat luas bagi saya untuk mengenal banyak aktivis HMI dan tokoh bangsa, seperti A. Dahlan Ranuwihardjo, Akbar Tandjung, Fachry Ali, Zaini Yahya, dan banyak nama lainnya.
Dan perkenalan saya dengan Bang Ridwan Saidi serta Bang Bursah Zarnubi juga sangat membantu perjalanan saya sebagai reporter/jurnalis. Akses untuk bertemu dan berdialog dengan para narasumber penting—aktivis, politisi, tokoh organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat—menjadi lebih terbuka.
Bagi saya, HUMANIKA bukan sekadar tempat berdiskusi. HUMANIKA adalah ruang belajar.
Bang Bursah Zarnubi, salah satu tokoh pendiri HUMANIKA, tetap menunjukkan kiprahnya sebagai aktivis. Perjalanan beliau kemudian berkembang ke dunia pemerintahan. Saat ini beliau mendapat amanah sebagai Bupati Lahat dan juga dipercaya memimpin APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia.
Yang menarik dari Bang Bursah adalah latar belakang aktivisnya tetap terasa dalam cara beliau menjalankan berbagai peran. Semangat berdiskusi, membangun jejaring, dan sikap kritis, serta merespons berbagai persoalan masyarakat tetap melekat.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, performa Bang Bursah sebagai bupati terasa seperti sedang menjalankan peran yang lebih luas—tak jarang tampil dengan gagasan dan aktivitas yang berskala provinsi, bahkan nasional.
Baca juga: Reuni dan Silaturahmi Humanika 36th, Momentum Mempererat Persaudaraan dan Kenangan
Bagi saya pribadi, HUMANIKA adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dipisahkan dari proses belajar dan perjalanan saya sebagai jurnalis.
Dari HUMANIKA saya belajar bahwa menjadi aktivis bukan hanya soal menyampaikan kritik, tetapi juga tentang membaca persoalan, membuka ruang dialog, memperluas jaringan, dan terus berpihak pada kepentingan masyarakat.
Karena itu, di usia ke-36 ini, saya ingin menyampaikan:
Selamat ulang tahun ke-36 HUMANIKA.
Teruslah menjadi ruang bertemunya gagasan, tempat lahirnya pemikiran, dan rumah bagi para aktivis yang ingin memberikan kontribusi bagi bangsa.
Semoga HUMANIKA tetap kritis, independen, terbuka, dan terus melahirkan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dirgahayu HUMANIKA.
Editor : Redaksi