Oleh Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.
Baca juga: Menjemput Vibrasi Kejayaan: Menuju Kongres Perdana AFEBSI di Jantung Jakarta
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Pasuruan, JatimUPdate.id - Petang di halaman kampus selalu menghadirkan ritmenya sendiri.
Usai menunaikan salat Magrib, sebelum melangkah masuk ke jadwal mengajar berikutnya, duduk sejenak di kursi panjang halaman kampus ITB Yadika Pasuruan memberi ruang untuk menatap sekitar. Di kejauhan, denyut aktivitas mahasiswa masih berjalan. Ada yang bergegas menuju kelas, merajut perbincangan hangat dengan kawan, atau merampungkan tugas-tugas akademik.
Namun, di balik kesahajaan itu, pikiran kerap berkelindan pada satu pertanyaan mendasar: apa yang sedang dijemput oleh para putra bangsa yang duduk di ruang-ruang kelas ini?
Sebagian dari mereka datang dari desa. Tidak semuanya tumbuh dalam ekosistem dengan fasilitas yang serba berlimpah. Tetapi di balik tatapan mereka, sering terpancar nyala kecil tentang sebuah keinginan: suatu hari ingin mandiri, berdaya, dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sekitar.
Mereka mungkin belum sepenuhnya tahu liku jalan yang akan ditempuh. Namun, pendidikan memang selalu bermula dari keberanian untuk melangkah, bahkan ketika peta masa depan belum sepenuhnya terbaca.
Di ruang kelas, teori bisnis, manajemen, dan kepemimpinan diperkenalkan. Namun, merujuk pada apa yang disebut David Kolb dalam Experiential Learning, pengetahuan sejati tidak pernah berhenti pada konsep di atas kertas. Ia harus diuji melalui pengalaman.
Ada dimensi pengetahuan yang hanya bisa dipahami lewat membaca buku, tetapi ada pula pemahaman yang baru terang benderang setelah seseorang mencoba, gagal, bangkit, bernegosiasi, memimpin, dan mengambil keputusan di lapangan.
Sebab itu, kampus semestinya bukan sekadar ruang yang melatih mahasiswa pandai menjawab soal ujian. Kampus adalah laboratorium pertama untuk menyiapkan mereka menghadapi persoalan hidup yang sesungguhnya.
Di sinilah keterlibatan dalam organisasi—baik intra maupun ekstra—menjadi krusial. Melalui ruang-ruang kolaborasi, mahasiswa belajar bahwa memimpin tidak selalu berarti berdiri di depan; ia sering kali menuntut kemampuan mendengar. Mereka belajar bahwa bekerja sama tidak berarti harus menyeragamkan cara pandang, dan perbedaan pendapat bukanlah akhir dari segalanya.
Pengalaman-pengalaman semacam ini jarang tertulis dalam silabus formal. Namun, justru di sanalah karakter ditempa.
Hal serupa kerap lahir dari ruang-ruang diskusi profesi dan jejaring kolega, seperti dalam aktivitas AFEBSI (Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia) dan IDEI (Insan Doktor Ekonomi Indonesia). Perbincangan sering kali bermula dari hal-hal sederhana—duduk bersama menikmati kopi di sela seminar, lalu selentingan ide berkembang menjadi diskursus panjang. Dari perjumpaan, lahir perspektif. Dari obrolan ringan di warung kopi, kadang gagasan besar bermula.
Pendidikan yang matang memang tidak pernah mengenal sekat dinding kelas. Ia merembes dari buku menuju pengalaman, dari dosen kepada teman sebaya, dari organisasi menuju masyarakat, hingga dari gurauan santai di warung kopi menuju aksi nyata.
Baca juga: Paramadina: Menyelaraskan Peta Jalan AFEBSI Menuju Kedaulatan SDM Nusantara
Mahasiswa tentu berhak menikmati masa mudanya, bahkan sesekali melepas penat dengan gaming bersama teman-teman di warkop langganan. Itu bagian dari ritme hidup mereka. Namun, di sela ruang-ruang rehat itu, semoga tetap ada refleksi tentang arah yang ingin dituju, keterampilan apa yang perlu diasah, dan nilai apa yang kelak bisa dibagikan kepada dunia.
Sebab pada akhirnya, dunia setelah wisuda tidak akan bertanya berapa banyak bab teori yang pernah dihafal. Dunia hanya akan menagih: apa yang bisa kita lakukan dengan ilmu itu?
Di titik inilah esensi pendampingan menemukan bentuknya.
Tugas seorang pendidik bukanlah mendikte seluruh peta jalan hidup mahasiswa, atau menjanjikan bahwa semua cita-cita akan tercapai tanpa hambatan. Peran itu jauh lebih sederhana namun bermakna: menjadi teman diskusi yang tidak merasa paling tahu tentang masa depan.
Yang dapat dilakukan adalah menyalakan keyakinan, memperluas cakrawala berpikir, mempertemukan mereka dengan ragam pengalaman, lalu memberi keberanian untuk mencoba.
Petang semakin beranjak malam.
Waktu mengajar segera dimulai. Para mahasiswa akan kembali duduk di ruang yang sama, membawa serta kisah, kegelisahan, dan harapan mereka masing-masing.
Baca juga: DNA Dosen: Cahaya yang Menolak Padam
Suatu hari nanti, sebagian dari mereka mungkin menjadi pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai sektor. Sebagian lainnya mungkin menempuh jalan yang hari ini bahkan belum terbayangkan oleh mereka.
Namun, semoga ada satu hal yang senantiasa tinggal: keyakinan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu dengan pasrah. Ia adalah ruang yang perlu dipelajari, dijalani, diperjuangkan, dan sesekali dipahat ulang ketika keadaan menuntut perubahan.
Dari ruang kelas menuju ruang kehidupan—di sanalah ilmu menemukan rumahnya yang sejati.
Dan di sanalah seorang pendidik menemukan makna paling sunyi sekaligus paling indah dari pekerjaannya: menemani anak-anak muda percaya bahwa hari esok selalu bisa mereka jadikan lebih baik daripada hari ini.
Editor : Redaksi