Dalam Bus Laju Otw Bungurasih-Pasuruan, 5 Oktober 2026
Tulisan Lama, Jalan yang Terus Berjalan
Oleh Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Sore ini, di tengah perjalanan darat dari Surabaya menuju kampus ITB Yadika Pasuruan, sebuah krenteg—dorongan kecil dalam batin—mampir begitu saja: membuka kembali arsip tulisan-tulisan lama yang pernah saya buat tiga atau empat tahun silam.
Bukan untuk bernostalgia.
Bukan pula untuk membuktikan bahwa tulisan masa lalu lebih baik daripada apa yang saya tulis hari ini.
Sederhana saja: saya hanya ingin menguji apakah cara berpikir saya hari ini masih sama dengan beberapa tahun lalu.
Satu per satu fail lama dibuka. Ada catatan tentang urip mung sawang-sinawang. Ada esai berjudul Lakukan Saja yang memotret pergulatan seputar panggilan hidup. Ada pula rekam jejak The Power of Habit ketika ritme menulis baru saja dirintis, serta Belajar Naik Sepeda—sebuah catatan tentang keberanian untuk jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.
Menariknya, waktu tidak serta-merta membuat gagasan-gagasan itu kadaluarsa.
Dalam Urip Asline Mung Sawang Sinawang, pernah saya tuliskan bahwa hidup tidak akan pernah selesai jika terus-menerus dibandingkan dengan pencapaian orang lain.
Tugas kita bukan menakar rumput tetangga, melainkan menerima peran yang sedang diamanahkan, lalu menekuninya dengan segenap kesungguhan. Siapa sangka itu dulu lahir dari sebuah permenungan sederhana, bahkan bermula dari sepiring nasi goreng di warung pinggir jalan.
Lalu pada Januari 2023, Lakukan Saja hadir dengan nada yang lebih tegas. Saat itu, saya menuliskan sebuah deklarasi sunyi: menjadi pendidik bermental wirausaha yang mendedikasikan diri di Jawa Timur.
Tiga tahun lebih berlalu sejak hari itu.
Hari ini, orang yang sama sedang menjalani peran sebagai pendidik, akademisi bergelar doktor, Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan, Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur, sekaligus bagian dari berbagai jejaring profesi yang luas.
Ternyata, hidup memang tidak pernah berjalan linier sesuai garis rancangan di atas kertas. Namun, pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah seluruh rencana tercapai, melainkan apakah kompas arah hidup kita tetap terjaga di jalurnya.
Begitu pula dengan kebiasaan menulis.
Dulu, lewat catatan The Power of Habit, saya mengakui bahwa menulis pada mulanya adalah ruang privat. Ada rasa kikuk, ragu, bahkan takut ketika gagasan itu harus dilepas ke ruang publik. Namun, kebiasaan itu terus dipupuk, dirawat oleh ekosistem dan rekan-rekan yang memiliki kegemaran serupa. Hingga pada suatu titik, menulis berubah menjadi sebuah kebutuhan—ia terasa seperti bagian diri yang hilang jika sehari saja dilewatkan.
Hari ini, kebiasaan kecil itu telah bermetamorfosis menjadi jejak rekam intelektual.
Tulisan-tulisan yang dulunya hanya berupa catatan pinggir, perlahan menjadi peta yang merekam bagaimana cara kepala dan hati ini bertumbuh.
Di sinilah konsep growth mindset yang diperkenalkan Carol Dweck menemukan relevansinya. Kapasitas manusia bukanlah sesuatu yang statis, berhenti pada bakat bawaan atau garis start awal. Manusia bertumbuh melalui proses belajar yang melelahkan, latihan yang berulang, benturan tantangan, keterbukaan pada kritik, dan ketekunan yang diuji waktu.
Artinya, manusia tidak otomatis bertumbuh hanya karena usianya bertambah. Kita bertumbuh ketika cara pandang kita ikut meluas.
Ingatan saya kemudian tertarik pada tulisan Belajar Naik Sepeda (2023). Saat itu, saya mengambil metafora dari seorang anak kecil yang lututnya lecet, jatuh berkali-kali, namun tetap ngotot ingin menaikkan kembali sepedanya. Anak itu tidak pusing menghitung berapa kali ia gagal; ia hanya dikuasai satu keinginan sederhana: bisa melaju.
Hari ini, setelah menempuh sekian tikungan hidup, filosofi itu terasa semakin dalam.
Di ruang-ruang kelas, meja penelitian, panggung birokrasi kampus, dinamika organisasi, hingga urusan domestik rumah tangga—tidak ada proses instan yang berujung sempurna.
Pasti ada jatuh.
Pasti ada salah langkah.
Pasti ada kritik yang mengusik, penolakan yang menohok, rencana yang berantakan, serta setumpuk pekerjaan yang belum selesai.
Namun, semua kekacauan itu dapat menjelma menjadi bahan bakar pembelajaran, asalkan kita memiliki kerendahan hati untuk terus bertumbuh.
Mungkin karena itulah arsip lama tidak pernah layak dibuang begitu saja. Ia adalah cermin retorik dari perjalanan intelektual kita. Ketika dibaca ulang, cermin itu memantulkan siapa diri kita di masa lalu: apa yang kita cemaskan, apa yang kita mimpikan, dan nilai-nilai apa yang ternyata tetap kokoh bertahan hingga hari ini.
Ada gagasan yang memang harus direvisi karena zamannya bergeser. Ada pula idealisme masa muda yang gugur digerus realitas. Namun, selalu ada nilai-nilai inti yang justru semakin mengakar kuat.
Urip iku urup.
Sebab hidup pada akhirnya bukan sekadar tentang seberapa jauh kaki kita melangkah, melainkan seberapa terang keberadaan kita mampu memberi kehangatan bagi perjalanan orang lain.
Tahun 2023 lalu, saya pernah menulis bahwa sebuah tulisan pasti akan menemukan "jodohnya"—yaitu pembaca yang pada suatu waktu merasa disapa dan dikuatkan oleh gagasan di dalamnya.
Namun sore ini, saya menemukan dimensi makna yang lain.
Ternyata, sebuah tulisan juga bisa menemukan kembali penulisnya.
Ia dibiarkan tidur selama bertahun-tahun, menunggu waktu yang tepat untuk dibaca ulang. Dan ketika ia dibaca kembali oleh orang yang sama, namun dengan usia, pengalaman, jabatan, tanggung jawab, serta lanskap batin yang telah berbeda, maka maknanya pun ikut bermetamorfosis.
Maka, barangkali tulisan lama tidak pernah benar-benar menjadi usang.
Yang selalu baru adalah mata yang membacanya.
Bagian paling menarik dari sebuah perjalanan bukanlah ketika kita menyadari bahwa kita sudah benar sejak dulu. Melainkan ketika kita mendapati diri kita masih memiliki kerendahan hati untuk belajar dari diri kita di masa lampau.
Sore ini, perjalanan menuju kampus kembali menitipkan satu pesan sederhana:
Jalan boleh berliku dan berubah. Peran boleh bertambah berat. Lingkungan boleh berganti warna. Namun, jangan pernah berhenti bertumbuh.
Sebab hidup bukan tentang menjadi sosok yang sempurna tanpa cela.
Hidup adalah tentang terus belajar, terus bergerak, dan terus menebar manfaat.
Dan sesekali, tidak ada salahnya menoleh ke belakang.
Bukan untuk bernostalgia atau ingin kembali ke masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa langkah kaki kita ke depan masih memegang teguh nilai-nilai yang sejak awal ingin kita perjuangkan.
Tulisan lama. Jalan yang terus berjalan.
Semoga ada kebaikan yang tersampaikan.
Editor : Redaksi