​Menghadirkan Kembali Sosok Ayah: Mengurai Fenomena Fatherless di Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Didi Adhiyaksa
Didi Adhiyaksa


Oleh: Didi Adhiyaksa
Sekretaris Komnas Anak Milenial Surabaya

 

Kota Surabaya, JatimUPdate.id - ​Di balik riuk-pikuk dan kemajuan infrastruktur metropolitan seperti Surabaya, ada ancaman sunyi yang pelan-pelan menggerogoti kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masa depan kita.

Isu tersebut adalah fatherless country—fenomena di mana anak-anak tumbuh tanpa kehadiran fisik maupun emosional dari sosok seorang ayah.  
​

Apa itu Fatherless dan Mengapa Ini Terjadi?

​Secara sederhana, fatherless (atau father hunger) bukan sekadar kondisi ketika seorang anak kehilangan ayah karena kematian (orphan). Lebih mendalam dari itu, fatherless merujuk pada ketidakhadiran peran, fungsi, dan figur ayah dalam proses tumbuh kembang anak.  

​Banyak anak yang secara de facto memiliki ayah utuh di rumah, namun secara psikologis merasa "yatim". Ayah ada, namun sebatas menjadi pencari nafkah yang sibuk dengan gawai atau pekerjaan, hadir dalam bentuk aturan dan instruksi, tetapi dingin dalam interaksi emosional.  

​Mengapa fenomena ini begitu masif terjadi di tengah masyarakat kita?
​Budaya Patriarki yang Keliru: Masih tebal anggapan bahwa tugas ayah "hanya" mencari uang, sementara pengasuhan, pendidikan karakter, dan urusan emosional sepenuhnya dibebankan kepada ibu.

​Tuntutan Ekonomi dan Urbanisasi: Beban kerja yang tinggi membuat jam interaksi berkualitas antara ayah dan anak tergerus.

​Tingginya Angka Perceraian & Disfungsi Keluarga: Pasca perceraian, tidak sedikit mantan suami yang lepas tangan dari tanggung jawab moral, emosional, hingga finansial terhadap anak.

​Data Membuktikan: Indonesia dalam Alarm Bencana Pengasuhan
​

Fenomena ini bukanlah narasi isapan jempol semata. Sejumlah data nasional hingga daerah menunjukkan potret yang cukup memprihatinkan:

​Tingkat Nasional: Indonesia kerap dijuluki sebagai salah satu fatherless country tertinggi di dunia. Data menunjukkan hampir 1 dari 4 anak di Indonesia tidak merasakan kehadiran peran ayah secara nyata.  

​Tingkat Jawa Timur: Berdasarkan catatan dan dorongan pemetaan kebijakan daerah, terdapat tak kurang dari 2,1 juta anak di Jawa Timur yang teridentifikasi mengalami kondisi fatherless dalam tumbuh kembangnya.  

​Krisis Relasi: Riset percakapan digital dan kesehatan mental remaja urban menunjukkan korelasi kuat antara ketidakhadiran sosok ayah dengan meningkatnya kasus kesehatan mental pada usia anak-remaja, kenakalan remaja, hingga krisis identitas.

​Potret Fatherless di Kota Surabaya

​Sebagai kota metropolitan dengan dinamika sosial yang sangat cepat, Surabaya menjadi salah satu titik episentrum isu ini. Di satu sisi, ekonomi kota bergerak pesat.

Di sisi lain, ruang percakapan anak dan ayah di rumah-rumah warga kerap kali menyempit.  

​Ketidakhadiran ayah secara emosional memicu rentetan masalah sosial urban di Surabaya: mulai dari fenomena geng motor remaja, balap liar, hingga perilaku merusak diri.

Anak-anak yang lapar akan kepemimpinan dan figur teladan di rumah akhirnya mencari "pengakuan" di luar rumah—sering kali di tempat yang salah.

Catatan Apresiasi untuk Pemkot Surabaya

​Meski tantangan ini amat berat, kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi.

Pemkot Surabaya terbukti tidak menutup mata dan bersikap responsif terhadap isu perlindungan anak serta pengasuhan keluarga.

​Beberapa langkah terobosan dan progresif yang patut dicatat:
Ketegasan Sanksi Bagi Ayah Lalai Nafkah: Pemkot Surabaya mengintegrasikan data dengan Pengadilan Agama untuk memblokir akses layanan publik bagi mantan suami yang membangkang dan melalaikan kewajiban nafkah anak pasca perceraian.

Ini adalah pesan tegas bahwa kewajiban menjadi ayah tidak pernah kadaluarsa.  

​Gerakan Penguatan Peran Ayah: Pemkot Surabaya aktif menggemakan imbauan dan gerakan sosial seperti gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah (MPLS) untuk mengikis stigma bahwa pengasuhan adalah tugas ibu semata.

​Perlindungan Legal & Sosial: Langkah progresif melalui program pengangkatan perwalian anak serentak serta pemberian jaminan sosial/santunan bagi anak-anak yatim memastikan tidak ada anak Kota Pahlawan yang merasa berjuang sendirian.

​Penutup: Mengembalikan "Pulang" yang Sesungguhnya
​Surabaya tidak hanya harus menjadi kota yang layak huni secara fisik, tetapi juga kota yang layak menjadi tempat pulang batin bagi anak-anaknya.  

​Menyelesaikan masalah fatherless tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ini adalah panggilan kesadaran bagi para pria, para ayah milenial dan Gen-Z di Surabaya: menjadi ayah bukan sekadar mentransfer uang jajan, tetapi mentransfer kehadiran, waktu, dan rasa aman.

​Mari kita gandeng tangan bersama Pemkot Surabaya untuk memutus rantai fatherless, demi menyelamatkan generasi emas Kota Pahlawan.