Oleh Dr. Agus Andi Subroto, S.TP., M.M.
Baca juga: Tulisan Lama, Jalan yang Terus Berjalan
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan & Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Jakarta, JatimUPdate.id -
Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan
Balai Kota DKI Jakarta menjadi saksi dimulainya babak penting perjalanan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBSI). Pada 13 Oktober 2026, Kongres Perdana AFEBSI resmi dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Dr. Pramono Anung.
Mengusung tema “Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan”, forum ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah, serta perwakilan sponsor dalam satu ruang dialog tentang masa depan pendidikan tinggi dan pembangunan Indonesia.
Suasana pembukaan berlangsung semarak. Sebanyak 72 institusi pendidikan tinggi dari berbagai pulau di Indonesia hadir, dengan hampir 300 delegasi yang terdiri atas para dekan dan dosen.
Rangkaian acara diawali sambutan Ketua Panitia Pelaksana Kongres, dilanjutkan Ketua Umum DPN AFEBSI, kemudian Gubernur DKI Jakarta yang secara resmi membuka kongres. Kehadiran pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberi ruang perjumpaan yang penting antara dunia akademik dan pemerintahan.
Ada hal menarik dalam sambutan Gubernur Pramono Anung. Di tengah agenda pembukaan kongres, ia menegaskan bahwa Jakarta masih menjadi ibu kota negara Indonesia.
Pernyataan tersebut memberikan konteks tersendiri bagi penyelenggaraan kongres di Balai Kota Jakarta, di tengah dinamika pemindahan ibu kota ke Nusantara.
Peristiwa ini sekaligus mengingatkan bahwa perubahan kebijakan, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan wilayah merupakan bagian dari dinamika bangsa yang perlu dipahami secara kritis oleh dunia akademik.
Gubernur juga menekankan pentingnya kolaborasi. Sementara itu, Ketua Umum DPN AFEBSI memaparkan jangkauan organisasi yang menaungi ratusan fakultas ekonomi dan bisnis di perguruan tinggi swasta, serta ribuan dosen sebagai anggota individu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pesan yang mengemuka cukup jelas: potensi besar dunia akademik perlu dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat dan agenda pembangunan.
Namun, kolaborasi tidak cukup berhenti sebagai tema kongres atau ungkapan yang terdengar baik di atas podium. Kolaborasi perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata.
Perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa pengetahuan, penelitian, dosen, mahasiswa, dan jejaring kelembagaan. Pemerintah memiliki mandat kebijakan serta jangkauan pelayanan publik.
Dunia usaha memiliki pengalaman praktik, sumber daya, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar. Ketika ketiganya bertemu dalam tujuan yang sama, terbuka peluang untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Di sinilah relevansi konsep collaborative advantage, yakni keunggulan yang lahir ketika pihak-pihak dengan sumber daya, kompetensi, dan pengetahuan berbeda mampu bekerja bersama.
Keunggulan tersebut tidak otomatis muncul hanya karena banyak pihak berkumpul. Ia membutuhkan tujuan bersama, kepercayaan, pembagian peran yang jelas, komunikasi yang sehat, serta tindak lanjut yang terukur.
Baca juga: Dari Ruang Kelas ke Ruang Kehidupan
Bagi perguruan tinggi, gagasan ini memiliki implikasi konkret. Penelitian dosen dapat diarahkan untuk menjawab persoalan UMKM, kewirausahaan, transformasi digital, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan daya saing daerah. Program pendidikan dapat diselaraskan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Pemerintah pun dapat memanfaatkan pengetahuan akademik sebagai salah satu dasar untuk merumuskan kebijakan yang lebih responsif terhadap persoalan masyarakat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan kongres tidak semata-mata terletak pada jumlah delegasi, kemeriahan pembukaan, atau luasnya jaringan yang hadir. Ukuran yang lebih bermakna adalah apa yang dapat dikerjakan setelah forum berakhir: apakah lahir agenda bersama, penelitian terapan, program pendampingan, pertukaran pengetahuan, atau kemitraan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Bagi saya, menghadiri pembukaan Kongres Perdana AFEBSI di Balai Kota Jakarta juga menyimpan pengalaman personal tersendiri. Ini merupakan kali pertama menginjakkan kaki di tempat tersebut.
Ada kesan yang mungkin sulit dilupakan, bukan semata-mata karena bangunan dan suasananya, melainkan karena kesempatan menyaksikan perjumpaan dunia akademik dengan pemerintahan dalam sebuah agenda bersama.
Di tengah kegiatan itu, saya juga berkenalan dengan seorang kolega baru, Pak Sidar dari Dumai. Percakapan singkat kami justru membawa ingatan pada pengalaman kerja masa lalu di PSG (Pulau Sambu Guntung), sebuah wilayah yang secara geografis dekat dengan tempat tinggal beliau. Perjumpaan yang awalnya sederhana mendadak terasa akrab karena menghubungkan dua potongan perjalanan hidup yang berbeda waktu.
Pengalaman semacam ini mengingatkan bahwa perjalanan seseorang tidak selalu bergerak mengikuti peta yang sudah direncanakan. Ada peristiwa yang baru terasa maknanya setelah dijalani.
Ada pula pertemuan yang tampak biasa, tetapi membuka kembali ingatan, pengetahuan, dan hubungan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Karena itu, setiap kesempatan layak dijalani dengan kesungguhan, tanpa harus selalu dibebani ambisi untuk memperoleh sesuatu secara langsung.
Hadir dengan niat baik, membangun hubungan secara tulus, bersedia belajar, dan menjaga manfaat dari setiap perjumpaan merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Baca juga: Menjemput Vibrasi Kejayaan: Menuju Kongres Perdana AFEBSI di Jantung Jakarta
Tidak semua pertemuan harus segera menghasilkan kesepakatan; sebagian justru menjadi awal bagi kepercayaan yang tumbuh perlahan.
Pada akhirnya, Kongres Perdana AFEBSI di Balai Kota Jakarta bukan hanya tentang sebuah organisasi yang menyelenggarakan agenda nasional.
Forum ini mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tinggi membutuhkan kesediaan untuk keluar dari sekat kelembagaan dan menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata bangsa.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun melalui slogan, melainkan melalui kerja bersama yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan.
Ada pepatah Jawa yang terasa relevan untuk menutup refleksi ini: “Urip iku urup.” Hidup sebaiknya memberi nyala dan manfaat bagi kehidupan lain. Dalam dunia akademik, nyala itu dapat hadir melalui ilmu yang dibagikan, penelitian yang menjawab persoalan, jejaring yang membuka kesempatan, dan kolaborasi yang benar-benar bekerja.
Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah perjumpaan berarti bukan sekadar siapa yang hadir dan di mana acara diselenggarakan, melainkan kebaikan apa yang dapat tumbuh setelahnya.
Editor : Redaksi