IMAN SEBATAS BIBIR; Membaca ulang ethic Protestant-nya Max Weber (1)

Reporter : Redaksi
Ilustrasi IMAN SEBATAS BIBIR; Membaca ulang ethic Protestant-nya Max Weber (1)

Oleh : Taufiq Fredrik Pasiak

Penyuka kopi dan travelling

Baca juga: Dari Stabilitas Menuju Produktivitas: Sebuah Jalan Baru untuk Indonesia

Indonesia ini negeri yang menarik, unik dan paradoks. 

Urusan agama hampir selalu mendapat tempat istimewa. Masjid ramai, gereja penuh pada hari Minggu, kegiatan keagamaan diselenggarakan di mana-mana. Rapat pemerintahan dimulai dengan doa. Pejabat berpidato dengan menyebut nama Tuhan. 

Bahkan orang yang sedang berebut jabatan pun tidak jarang menggunakan bahasa agama untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya layak dipercaya.

Tatapi mari kita coba perhatikan apa yang terjadi sesudah doa selesai. Orang kembali ke meja kerjanya, mengurus jabatan, membagi proyek, menandatangani keputusan. 

Apakah nilai-nilai yang baru saja diucapkan dalam doa itu ikut bekerja? Saya tidak tahu. Yang jelas, kita masih sering mendengar cerita tentang jabatan yang diberikan karena kedekatan, aturan yang bisa dinegosiasikan, dan orang yang bekerja baik justru tersingkir karena tidak mempunyai hubungan dengan pemegang kekuasaan.

Fenomena ini membawa ingatan saya pada sebuah buku yang sudah lama sekali saya kenal. 

Awal 1990-an, ketika masih aktif sebagai instruktur NIK (Nilai Identitas Kader) di HMI, saya mengenal buku itu melalui Cak Nur, Nurcholish Madjid. Judulnya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, karya Max Weber. 

Sebagai instruktur, saya memang harus membaca banyak buku. Ada yang selesai dibaca lalu terlupakan. Ada pula yang gagasannya menetap dalam kepala, sesekali muncul kembali ketika kita berhadapan dengan peristiwa tertentu. 

Buku Weber termasuk yang kedua, berdampingan dengan buku Religion of Tokugawa-nya Robert N Bellah dan buku Abangan, Santri, Priyayi, dalam masyarakat Jawa-nya Clifford Geeetz. Alhamdulillah saya khatam membaca 3 buku ini di awal tahun 90-an.

Weber menulis bukunya lebih dari seratus tahun lalu. Ia tertarik pada hubungan antara agama dan perilaku ekonomi, terutama dalam tradisi Protestan tertentu. 

Dalam pengamatannya, bekerja bisa mempunyai arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar mencari uang. Pekerjaan merupakan panggilan hidup. 

Orang bekerja dengan tekun, menghemat penghasilan, menahan diri dari kesenangan berlebihan, lalu menggunakan hasil usahanya untuk kegiatan produktif. 

Semua itu mempunyai akar dalam keyakinan keagamaan.

Bayangkan. Sesuatu yang bermula dari hubungan manusia dengan Tuhan ternyata dapat memengaruhi cara orang mengatur waktu, memperlakukan uang, menjalankan usaha, bahkan membangun sistem ekonomi. Weber melihat adanya hubungan historis antara etika asketis Protestan dan berkembangnya semangat kapitalisme modern. 

Tentu bukan berarti kapitalisme lahir hanya karena agama Protestan. Sejarah ekonomi jauh lebih rumit daripada itu.

Ada satu bagian dari pemikiran Weber yang menurut saya sangat mengusik. 

Etika agama yang semula mendorong manusia hidup sederhana dan bertanggung jawab ikut membentuk sistem ekonomi yang rasional. Tetapi setelah sistem itu berkembang, ia bisa berjalan sendiri, tanpa lagi memerlukan keyakinan spiritual yang dahulu ikut membentuknya. Weber menggunakan gambaran iron cage, sangkar besi. Manusia akhirnya hidup dalam tuntutan sistem yang dibangunnya sendiri. 

Disiplin, efisiensi dan perhitungan ekonomi tetap ada, sementara makna moral yang dahulu menyertainya bisa memudar.

Saya membaca gagasan itu sambil membayangkan keadaan kita sendiri. 

Baca juga: Indonesia Harus Berhasil Sebelum Politik Sibuk Menghitung 2029

Indonesia tentu bukan masyarakat Protestan seperti yang diteliti Weber. Tetapi bukankah agama-agama yang hidup di negeri ini juga mengajarkan kerja keras, kejujuran, keadilan dan tanggung jawab? 

Dalam Islam ada amanah. Dalam tradisi Kristen ada panggilan untuk bekerja dan melayani. Agama lain pun mempunyai ajaran moral yang kuat mengenai hubungan manusia dengan sesamanya.

Lalu mengapa ajaran yang begitu baik tidak selalu menghasilkan perilaku yang sama baiknya?

Saya pernah menjumpai orang yang sangat santun ketika berbicara tentang agama, tetapi berubah ketika membicarakan jabatan. 

Ada pula yang begitu mudah tersinggung apabila simbol agamanya dianggap tidak dihormati, sementara hak orang lain dilanggarnya tanpa banyak pertimbangan. 

Orang bisa merasa bersalah karena terlambat beribadah, tetapi tenang-tenang saja ketika membantu orang yang tidak kompeten memperoleh kedudukan. 

Tentu tidak semua orang demikian. Banyak orang beragama yang sungguh-sungguh menjaga integritasnya. Namun, gejala yang sebaliknya juga terlalu sering kita jumpai untuk diabaikan.

Barangkali kita terlalu sibuk mengajarkan apa yang harus dipercayai, tetapi kurang memperhatikan bagaimana keyakinan itu seharusnya bekerja ketika seseorang memegang kekuasaan. 

Kita mengajarkan kejujuran kepada anak-anak, tetapi mereka kemudian menyaksikan orang dewasa memperoleh keuntungan dari ketidakjujuran. 

Kita berbicara tentang keadilan, sementara dalam organisasi keputusan sering kali bergantung pada siapa mengenal siapa.

Masalahnya memang tidak sesederhana menyuruh orang menjadi lebih saleh. Orang baik bisa rusak oleh lingkungan yang buruk. Bahkan orang yang berusaha mempertahankan kejujuran dapat disingkirkan oleh sistem yang lebih menyukai kepatuhan daripada kebenaran. 

Baca juga: Pasar Tanjung Jember di Ambang Gesekan Horizontal

Saya kira ini persoalan yang jauh lebih serius. Kita membutuhkan manusia yang mempunyai integritas, tetapi juga institusi yang tidak membuat integritas menjadi sesuatu yang mahal untuk dipertahankan.

Saya tidak ingin menggunakan Weber untuk mengatakan bahwa agama tertentu lebih unggul daripada agama lain. Itu bukan persoalan yang sedang saya bicarakan. 

Yang menarik bagi saya adalah kemungkinan bahwa keyakinan spiritual dapat menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan sosial. Dan sebaliknya, keyakinan yang sangat kuat pun bisa kehilangan pengaruhnya ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Coba bayangkan apabila ukuran keberhasilan kehidupan beragama di Indonesia tidak berhenti pada jumlah rumah ibadah, besarnya perayaan keagamaan, atau banyaknya orang yang menghadiri pengajian dan kebaktian. 

Kita juga bertanya apakah pelayanan publik semakin baik, jabatan diberikan kepada orang yang pantas, orang miskin diperlakukan dengan hormat, dan keputusan pemerintah dibuat tanpa harus mempertimbangkan hubungan keluarga atau kedekatan politik.

Saya mengenal buku Weber lebih dari tiga puluh tahun lalu. Ketika itu saya membacanya sebagai bagian dari pergulatan intelektual seorang kader HMI. Sekarang, ketika melihat kehidupan bangsa kita, saya membacanya dengan kegelisahan yang agak berbeda.

Kita sudah mempunyai begitu banyak orang yang pandai berbicara tentang Tuhan. 

Saya kira yang lebih kita perlukan adalah orang-orang yang membawa ajaran tentang Tuhan ke dalam cara mereka bekerja, memimpin dan memperlakukan manusia lain.

Sebab Tuhan mungkin terlalu sering kita hadirkan dalam pidato, tetapi terlalu mudah kita tinggalkan ketika membuat keputusan. (red)

Kopitiam KomoLuar Manado, 15/10/26

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru