Sebuah kisah hikmah tentang memberi tanpa ingin dikenang, tentang larut tanpa kehilangan makna, dan tentang doa yang menjelma pelayanan.
Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
JatimUPdate.id - Setiap pagi, di jutaan dapur Nusantara, sejumput garam jatuh ke dalam wajan. Tak ada yang menoleh. Tak ada doa khusus, tak ada ucapan terima kasih. Sepuluh menit kemudian keluarga berkumpul di meja, menyendok nasi dan sayur, lalu berkata, "Enak." Tak seorang pun berkata, "Terima kasih, Garam."
Barangkali di situlah rahasianya. Garam adalah satu-satunya bumbu yang keberhasilannya diukur dari ketidakhadirannya dalam pujian. Bila ia terasa menonjol, masakan itu gagal. Bila ia pas, ia lenyap dari percakapan dan hanya tinggal dalam kenikmatan. Dari dapur yang sederhana inilah sebuah kisah hikmah mengalir di kalangan umat Islam.
Konon, Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi yang terkenal gemar menjamu tamu, berdoa agar Allah memberinya kemampuan menjamu seluruh umat Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat. Allah menjawab bahwa beliau tidak akan sanggup. Ibrahim tetap memohon, bersandar pada keyakinan bahwa Allah Mahakuasa. Doa itu dikabulkan. Jibril membawa segenggam kapur dari surga, menaburkannya ke penjuru bumi, dan kapur itu menjadi garam. Sejak itu, garam dipandang sebagai jamuan atau kenang-kenangan Ibrahim bagi umat Muhammad, warisan doa yang manfaatnya dirasakan semua orang dari generasi ke generasi.
Namun, kejujuran menuntut kita bertanya: seberapa kuat pijakan kisah ini? Jawabannya perlu disampaikan terang. Tidak ada ayat Al-Qur'an atau hadis sahih yang secara eksplisit menyebut garam sebagai warisan doa Nabi Ibrahim. Kisah ini hidup dalam tradisi lisan, kitab hikmah, dan cerita keagamaan populer. Ia tidak layak menjadi dasar akidah atau hukum, dan garam tidak boleh diperlakukan sebagai benda bertuah.
Sikap ini tidak bertentangan dengan tasawuf. Justru para sufi besar yang paling tegas menjaga pagar syariat. Al-Junayd al-Baghdadi, tokoh yang dihormati lintas aliran tasawuf, dikenal memegang erat Al-Qur'an dan Sunnah. Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin menempatkan penyucian hati sebagai penyempurna amal lahir, bukan penggantinya. Maka cara membaca yang tepat adalah i'tibar, mengambil pelajaran, dan isyarah, menangkap isyarat. Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah berulang kali menegaskan bahwa alam adalah ruang tempat nama-nama Tuhan menampakkan diri, tetapi ia juga menegaskan bahwa pembacaan batin yang sahih tidak boleh keluar dari batas wahyu. Karena itu, pertanyaan kita bukan apakah garam turun dari surga, melainkan apa yang hendak diajarkan garam kepada jiwa kita.
*Ibrahim, Tuan Rumah yang Tak Menghitung*
Al-Qur'an memberi kita potret tuan rumah yang luar biasa. Dalam QS Adz-Dzariyat ayat 24 sampai 27 dan QS Hud ayat 69, tamu datang dan Ibrahim bergegas menyuguhkan daging anak sapi panggang. Ia tidak bertanya siapa mereka, tidak menimbang status, tidak menghitung biaya. Kata kerja yang dipakai Al-Qur'an menggambarkan gerak yang sigap, seolah memberi adalah naluri jiwanya. Hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim mengajarkan agar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir memuliakan tamunya. Di banyak kampung kita, adab ini masih hidup. Tamu belum selesai duduk, teh sudah terhidang.
Namun tasawuf tak berhenti pada adab. Ia bertanya: dari batin seperti apa kemurahan ini lahir? Jawaban para sufi cukup tegas. Kedermawanan sejati adalah buah hati yang berhenti menggenggam. Orang yang merasa memiliki akan merasa kehilangan saat memberi. Orang yang sadar bahwa segalanya titipan akan merasa sedang menyalurkan. Hadis sahih riwayat Muslim bahwa sedekah tidak mengurangi harta bisa dibaca pada dua lapis. Pada lapis syariat, ia janji keberkahan. Pada lapis hakikat, ia petunjuk tentang siapa pemilik sejati. Bila Allah adalah al-Mu'thi, Sang Pemberi, maka hamba hanyalah lorong tempat pemberian itu lewat. Lorong tidak berkurang karena air mengalir melaluinya.
Bagian paling mengusik dari kisah ini adalah ketika Ibrahim diberi tahu bahwa ia tidak akan sanggup, namun tetap memohon. Sekilas tampak keras kepala. Dalam bacaan sufistik, ini pelajaran tentang dua sikap batin yang tampak berlawanan tetapi sesungguhnya berpadu: mengakui ketidakberdayaan dan menyandarkan harapan sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa. Para sufi menyebutnya tafwidh dan raja'. Ibrahim tidak meminta karena merasa mampu. Ia meminta karena tahu dirinya tak mampu, lalu menaruh seluruh kemampuan itu pada Allah. Doa semacam ini adalah bentuk kerendahan yang paling tinggi, bukan permintaan seorang yang yakin pada kekuatannya, melainkan permohonan seorang yang yakin pada kekuatan Tuhannya.
Kita sering memberi sambil menghitung sisa, menahan diri karena takut kekurangan, atau memberi sambil berharap diingat. Ibrahim dalam kisah ini memohon sesuatu yang mustahil bagi manusia, bukan demi kebesaran namanya, tetapi demi kebaikan umat yang bahkan belum lahir. Al-Qur'an mencatat doa Ibrahim lain dalam QS Asy-Syu'ara' ayat 84, agar ia dianugerahi lisana shidqin fil akhirin, lisan kebenaran pada generasi yang datang kemudian. Dalam pembacaan sufi, permohonan ini bukan ambisi popularitas, melainkan kerinduan agar kebaikan tidak berhenti pada satu orang dan satu zaman.
*Garam dan Rahasia Larut*
Sifat paling khas garam bukan asinnya, melainkan kemampuannya larut. Butiran putih itu masuk ke air, bentuknya lenyap, tak ada lagi yang bisa dipegang. Tetapi justru saat itulah rasanya hadir di setiap tetes. Perlu ditegaskan, perumpamaan ini adalah analogi penulis, bukan kutipan dari kitab klasik. Dalam kerangka tasawuf, ia membantu kita membayangkan fana', yakni lenyapnya sifat-sifat tercela dan surutnya kesadaran akan diri karena kuatnya kesadaran akan Allah. Dasar Qur'aninya antara lain QS Ar-Rahman ayat 26 dan 27 serta QS Al-Qashash ayat 88, bahwa segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.
Setelah fana' datang baqa', tegaknya sifat-sifat terpuji. Kristal lenyap, rasa tinggal. Ego mereda, kasih dan kejujuran hidup. Hadis qudsi riwayat al-Bukhari tentang hamba yang terus mendekat dengan amal sunnah hingga Allah menjadi pendengaran dan penglihatannya sering dibaca sebagai isyarat maqam ini. Para ulama menjelaskannya sebagai penjagaan dan bimbingan Allah, bukan bersatunya zat Tuhan dengan makhluk.
Dalam Fushush al-Hikam, Ibnu Arabi menulis tentang Ibrahim sebagai khalilullah, kekasih Allah (QS An-Nisa' ayat 125). Ia mengaitkan kata khalil dengan takhallul, yaitu meresapnya sesuatu ke dalam sesuatu yang lain, dimaknai sebagai meresapnya kesadaran dan tajalli ilahi ke dalam seluruh diri Ibrahim. Tradisi Ibnu Arabi sendiri menjaga tanzih: Allah tidak serupa dengan makhluk. Maka kedermawanan Ibrahim dipahami sebagai tampaknya sifat al-Karim dan ar-Razzaq pada hamba yang telah mengosongkan diri dari klaim kepemilikan. Dengan kata lain, Ibrahim bukan sekadar sahabat Tuhan dalam arti relasional. Ia adalah wadah yang ditembus oleh Tuhan, barzakh tempat tajalli berlangsung. Jika Ibrahim adalah khalil yang memberi tanpa mengambil, maka garam yang ia wariskan bukanlah benda material, melainkan jejak dari khulla itu sendiri.
*Fana' ul-Fana': Ketika Pemberi Lupa Dirinya Memberi*
Di sinilah kisah garam menyentuh lapisan terhalus. Setelah garam larut, tak seorang pun yang mencicipi berkata, "Garamnya bagus." Mereka berkata, "Masakannya enak." Garam telah hilang dari percakapan. Andai ia punya kesadaran, ia pun tak akan merasa sedang berjasa.
Para sufi menyebut tahap serupa fana' ul-fana', yaitu kefanaan dari kefanaan itu sendiri. Orang yang masih sibuk menyadari "aku telah fana" sebenarnya masih menyimpan diri yang sedang mengamati, ego halus yang bangga pada capaiannya. Pada fana' ul-fana', kesadaran akan kefanaan pun lenyap. Pemberi tidak lagi menjadi tokoh dalam kisah pemberiannya. Ia tidak mencatat, tidak menghitung, tidak menunggu terima kasih, dan tidak merasa sedang suci. Petunjuk Qur'ani tentang watak batin ini terdapat dalam QS Al-Insan ayat 8 dan 9. Orang-orang saleh memberi makan karena cinta kepada Allah, dengan batin yang menyatakan bahwa mereka tidak mengharap balasan maupun ucapan terima kasih. Betapa jauh jarak ayat ini dari budaya pamer kebaikan yang hari ini mengepung kita.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menjelaskan bahwa ketika anwar al-dzat, cahaya-cahaya Dzat, telah tajalli, maka segala sesuatu melebur dan sirna secara total. Inilah yang disebut maqam al-istihlak, fana' al-fana', yakni sirnanya kesirnaan itu sendiri. Pada tahap ini, semua cahaya dihapus, dan yang tersisa hanyalah Wajah-Nya. Al-Jailani menegaskan bahwa di maqam ini tidak ada lagi aku yang bisa berkata aku telah memberi atau aku telah menjamu. Yang ada hanyalah Yang Memberi dalam diri si pemberi. Kisah garam adalah dramatisasi dari fana' al-fana' itu. Jika Ibrahim melakukannya dengan kesadaran aku yang menjamu, perbuatannya masih terikat pada ego, pada anaiyyah, dan itu bukan khulla. Tetapi Allah menolak kapasitas Ibrahim. Bukan karena Ibrahim kurang, melainkan karena kapasitas itu sendiri adalah hijab. Dengan menaburkan kapur yang menjadi garam, Allah seolah berkata: bukan engkau yang menjamu, melainkan Aku, melalui engkau, dan bahkan melalui benda yang paling hina di dapur. Garam adalah bekas dari fana' Ibrahim. Ia tidak lagi menyaksikan dirinya sebagai tuan rumah. Yang tersisa hanyalah jamuan itu sendiri, yang tersebar di seluruh bumi, tanpa pemilik, tanpa nama, tanpa klaim.
Para guru tasawuf selalu mewanti-wanti agar fana' tidak disalahpahami. Ia tidak menggugurkan kewajiban syariat dan tidak menghapus tanggung jawab sosial. Al-Junayd menekankan pentingnya kembali pada kesadaran (shahw) setelah mabuk ruhani (sukr), supaya hamba tetap menunaikan hak Tuhan dan hak makhluk. Garam yang larut tetap harus ditakar dengan benar. Fana' yang sahih membuat orang lebih bertanggung jawab, bukan kurang.
*Gema dalam Khazanah Para Wali*
Membuka Hilyatul Auliya' wa Thabaqatul Ashfiya' karya Abu Nu'aim al-Ashfahani berarti memasuki galeri panjang para zahid dan ahli ibadah. Salah satu corak yang menonjol adalah kedermawanan yang sunyi. Mereka memberi tanpa suara, merasa tak memiliki apa-apa, dan menjauhi ketenaran. Kemuliaan mereka diukur dari istiqamah dan kerendahan hati, bukan dari keajaiban. Kisah garam menemukan gema yang tepat di sini: yang dimuliakan bukan bendanya, melainkan akhlak pemberi dan penerimanya. Kehati-hatian tetap perlu. Abu Nu'aim menghimpun banyak riwayat dengan sanad yang kualitasnya beragam, sehingga kitab itu dibaca sebagai khazanah teladan, bukan pengganti kajian hadis.
Dalam lingkungan tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah, Jami'ul Ushul fil Auliya' karya Ahmad Diyauddin al-Kamasykhanawi menjadi rujukan tentang adab suluk, silsilah, dan istilah tasawuf. Tradisi ini bertumpu pada tiga tiang: kepatuhan pada syariat, bimbingan mursyid, dan penyucian jiwa lewat zikir. Dalam bingkai itu, kedermawanan tidak berdiri sendiri. Ia buah dari hati yang dibersihkan. Kitab ini menegaskan bahwa setiap gerakan lahiriah ibadah memiliki rahasia batiniah, sirr. Nabi Ibrahim adalah prototipe wali yang amalnya tidak berhenti pada bentuk lahir, tetapi menembus hingga ke sirr. Garam, sebagai benda lahir, adalah ramz, simbol dari sirr itu. Ia tidak terlihat sebagai amal, tetapi ia memberi rasa pada seluruh amal. Tanpa sirr, amal menjadi hambar. Tanpa garam, masakan menjadi hambar. Sirr adalah garam dari amal.
Adapun Sirr al-Asrar, yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dibaca luas di lingkungan Qadiriyah, meski sebagian peneliti memperdebatkan penisbatannya. Gagasan sentralnya adalah perjalanan nafs dari yang selalu menuntut menuju yang tenang (muthma'innah, QS Al-Fajr ayat 27 dan 28). Nafs ammarah dikenali dari kecenderungannya menimbun, membanggakan diri, dan menunggu tepuk tangan. Maka memberi tanpa saksi adalah latihan menundukkannya. Dan bila hati diibaratkan masakan, zikir adalah garamnya: hati yang sepi dari zikir terasa hambar, hati yang hidup dengan zikir terasa berasa. Ini pun perumpamaan, bukan kutipan.
*Cermin Psikologi: Topeng dan Kebutuhan Dipuji*
Pembaca modern mungkin bertanya, adakah bahasa lain untuk memahami watak garam ini? Psikologi menyediakan beberapa alat bantu, dengan catatan bahwa ia pembantu, bukan pengganti kerangka wahyu. Sigmund Freud menyebut proses penyaluran dorongan dasar menjadi tindakan yang bermanfaat sosial sebagai sublimasi. Kedermawanan bisa dibaca begitu, ketika hasrat memiliki berubah menjadi hasrat memberi. Namun tradisi Islam tentu tidak mereduksi kemurahan seorang nabi menjadi dinamika libido.
Carl Gustav Jung menawarkan istilah yang lebih dekat dengan perbendaharaan tasawuf: persona, bayangan, dan Self. Persona adalah topeng sosial. Orang yang beramal demi citra sedang hidup dalam topeng. Proses pematangan yang disebutnya individuasi antara lain berarti mengenali bayangan diri dan tidak lagi bergantung pada topeng. Ada kemiripan struktur dengan perjalanan dari nafs ammarah menuju nafs yang tenang, meski landasan ontologisnya berbeda. Tasawuf bertumpu pada wahyu dan tauhid, Jung pada psikologi simbolik-empiris. Heinz Kohut menyoroti kebutuhan manusia akan cermin, yakni pengakuan dari orang lain. Di era media sosial, kebutuhan itu menemukan panggung raksasa. Kebaikan menjadi konten, sedekah menjadi unggahan. Tasawuf menamai penyakit ini riya' dan 'ujub, penyakit halus yang pelan-pelan menggerogoti amal. Garam adalah kritik yang tenang: kebaikan yang sehat tidak membutuhkan tepuk tangan untuk tetap baik. Abraham Maslow di masa tuanya menempatkan transendensi diri di atas aktualisasi diri, dan Viktor Frankl menegaskan bahwa makna ditemukan ketika manusia melampaui dirinya demi sesuatu atau seseorang. Keduanya mendekati intuisi kisah garam, tetapi psikologi berhenti pada dimensi kemanusiaan, sedangkan tasawuf menempatkan transendensi dalam hubungan dengan Allah.
*Rasa sebagai Pengalaman*
Ada hal menarik tentang cara kita mengalami garam. Kita jarang berkata, "Ini garam." Kita berkata, "Ini gurih," atau "Ini pas." Garam hadir sebagai kualitas, bukan objek. Fenomenologi, tradisi filsafat yang dirintis Edmund Husserl dan dikembangkan Maurice Merleau-Ponty, mengajak kita kembali pada pengalaman langsung dunia kehidupan. Di sana dapur adalah ruang pertemuan kerja, kasih sayang, dan doa. Seorang ibu yang menakar garam untuk anak-anaknya sedang melakukan hal yang tampak biasa namun sarat makna. Kisah garam menyakralkan yang biasa tanpa menyakralkan bendanya. Yang disucikan adalah makna dan niat. Ini sejalan dengan prinsip yang akrab dalam Islam bahwa urusan dunia, bila diniatkan benar, menjadi ladang akhirat. Dalam bahasa Ibnu Arabi, pengalaman ini mirip dzawq, cita rasa batin yang hanya ditangkap hati yang bersih. Istilah itu secara harfiah berarti mencicipi.
Secara fenomenologis, garam adalah benda yang tidak pernah menjadi tema kesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah yang tersedia, das Zuhandene, dalam pengertian Heideggerian. Kita tidak menyadarinya sampai ia hilang. Namun, justru karena ketidak-tampakannya, garam menjadi yang menampakkan, Erscheinung, ketika ia memberi rasa. Dalam fenomenologi agama, ini mengingatkan pada fenomena yang tidak menampakkan diri. Yang Ilahi justru menampakkan diri dalam yang paling biasa, dalam yang paling tidak ilahi. Garam adalah ikon dalam pengertian Jean-Luc Marion. Ia bukan idol yang menangkap pandangan, melainkan ikon yang mengarahkan pandangan ke Yang Tak Terlihat.
*Bila Garam Ada, Mengapa Lapar Masih Ada?*
Kisah indah perlu diuji oleh kenyataan yang pahit. Jika garam adalah warisan doa seorang nabi, mengapa masih ada orang yang kesulitan makan? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan romantisme. Jawaban teologisnya, karunia Allah tidak menghapus tanggung jawab manusia. Al-Qur'an menegur keras mereka yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS Al-Ma'un ayat 1 sampai 3). Yang tersedia tidak otomatis terdistribusi adil. Jawaban sufistiknya, tasawuf yang sehat tidak melahirkan manusia pasif. Hilyatul Auliya' penuh kisah zahid yang bekerja, berdagang, dan berbagi. Zuhud berarti hati tidak diperbudak dunia, bukan meninggalkan kerja. Orang yang mengaku telah fana tetapi abai pada tetangga yang kelaparan sedang tertipu oleh dirinya sendiri.
Jawaban sosialnya, garam murah, tetapi pangan bergizi, layanan kesehatan, dan pendidikan tidak sesederhana itu. Di negeri kepulauan seperti Indonesia, garam pun bukan perkara remeh. Keluhan petambak garam rakyat tentang harga yang jatuh dan bayang-bayang impor sudah lama kita dengar. Ironis bila simbol kedermawanan tak mampu menyejahterakan mereka yang memproduksinya. Spiritualitas yang tidak melahirkan kepedulian pada keadilan distribusi adalah spiritualitas yang timpang. Maka kisah ini lebih tepat dibaca sebagai undangan, bukan penghiburan. Warisan doa tidak menggantikan kerja bersama. Ia semestinya menyalakan semangat agar kita ikut menjadi saluran kebaikan.
*Amal yang Terus Mengalir*
Satu benang lagi menyambungkan kisah garam dengan ajaran yang kokoh, yakni amal yang manfaatnya terus mengalir. Hadis sahih riwayat Muslim menyebutkan bahwa ketika seseorang wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Al-Qur'an dalam QS Ibrahim ayat 24 dan 25 mengumpamakan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya hadir setiap saat dengan izin Tuhannya. Visi tentang kebaikan yang tidak berhenti pada satu orang atau satu momen inilah yang diwakili garam sebagai simbol.
Kita pun bisa menjadi garam bagi lingkungan kita: tetangga yang menyapa, guru yang memperhatikan, petugas kebersihan yang menjaga lingkungan, donatur yang tak ingin namanya disebut. Mereka jarang tampil di panggung, tetapi hidup bersama terasa lebih manusiawi karena mereka ada.
Ada lima bekal bagi para pejalan. Pertama, kecil tidak berarti remeh. Amal sedikit yang ikhlas bisa lebih berbobot daripada amal besar yang penuh pamer. Kedua, larut tidak sama dengan lepas tanggung jawab. Fana' yang sahih melenyapkan kesombongan, bukan kewajiban, dan setelahnya hadir baqa', kehadiran yang memberi rasa. Ketiga, berdoalah melampaui kemampuan diri, sebab doa adalah pengakuan atas ketidakberdayaan sekaligus harapan pada Yang Mahakuasa. Keempat, kedermawanan tanpa saksi adalah pintu menuju fana' ul-fana', ketika pemberi tak lagi memandang dirinya sebagai pemberi. Kelima, simbol harus menuntun kepada tauhid. Garam hanyalah garam. Ia menunjuk, bukan menggantikan yang ditunjuk.
Di zaman ketika kebaikan mudah menjadi tontonan, pelajaran ini terasa mendesak. Kita digoda untuk selalu tampak baik, selalu terdengar peduli, selalu terlihat saleh. Tasawuf menawarkan jalan sebaliknya: berusaha menjadi baik tanpa perlu terlihat baik, dan bila terlihat, segera mengembalikan semuanya kepada Pemilik sejati. Pada akhirnya, garam memang hanya garam. Ia tidak menyelamatkan, tidak memberi pahala, dan tidak memiliki daya gaib. Tetapi kisah tentangnya, selama dibaca jujur dan disandarkan pada ajaran yang kokoh, bisa menjadi cermin yang jernih.
Dari benda dapur yang murah kita belajar tentang seorang nabi yang memohon melampaui kemampuannya, tentang kebaikan yang menembus zaman, dan tentang seni menghilang yang justru membuat kehadiran terasa. Bila setiap kita mampu menjadi garam bagi lingkungan masing-masing, hadir, memberi rasa, dan tidak merusak, maka warisan doa itu tidak berhenti sebagai cerita. Setelah garam larut, tak ada yang berkata, "Ini garam." Orang hanya berkata, "Ini nikmat." Dan setiap nikmat, pada akhirnya, kembali kepada Sang Pemberi, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Qashash ayat 88: segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.
_Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa muhammad wa'alaa aali sayyidinaa muhammadin kamaa shallaita 'alaa sayyidinaa ibraahiima wa'alaa aali sayyidinaa ibrahiima, wabaarik 'alaa aali sayyidinaa muhammadin wa'alaa aali sayyidinaa muhammadin kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa ibraahima wa 'alaa aali sayyidina ibraahima, fil 'aalamiina innaka hamiidun majiidun._
Editor : Redaksi