Ketahanan Pangan Desa Dengan Komoditas Peternakan Ayam Petelur
Berkat Program TEKAD, Desa Patawang Kecamatan Umalulu Jadi Pioner Desa di Kabupaten Sumba Timur
Umalulu, Sumba Timur, JatimUPdate.id – Tim Strategic Project Unit (SPU) Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) melaksanakan kunjungan kerja, observasi lapangan, dan Focus Group Discussion (FGD) di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (26/10/2026).
Kunjungan ke salah satu desa penerima program Tekad yaitu di desa Patawang Kecamatan Umalulu.
Desa Patawang tersebar di 4 (empat) dusun, 8 (delapan) RW, 16 (enam belas) RT. Pada bulan Januari 2019 jumlah penduduk Desa Patawang sebanyak 2194 jiwa dan 527 Kartu Keluarga (KK) dengan jumlah laki-laki sebanyak 1146 jiwa, perempuan sebanyak 1048 jiwa.
Tingkat kepadatan penduduk 35 jiwa per Km2. Sebagian besar penduduk Desa Patawang bermata pencaharian sebagai petani sawah, ladang dan peternak.
Kini berkembang menjadi destinasi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat dan alam.
Desa ini menonjol karena kemampuannya memadukan sektor pertanian produktif dengan pelestarian seni budaya lokal.
Selain itu Desa Patawang sebagai desa pionir untuk desa lainnya khususnya dalam pelopor peternakan ayam petelur yang menjadi contoh desa lainnya di Kabupaten Sumba Timur.
“Mendapatkan kehormatan kami atas kehadiran Tim Tekad SPU yang dipimpin oleh Penasehat Menteri Desa, Kami laporkan bahwa Bundes kami tetap survive sampai sekarang, sejak tahun 2023 lalu kami dapat bantuan TEKAD," kata Kepala Desa Patawang Immanuel Soleman.
Secara khusus Kades Petawang menjelaskan bahwa pihaknya memulai usaha peternakan telur yang bekerjasama dengan BUMDes,
"Misi besarnya BUMDes sebagai penggerak. Bantuan Demplot yang kami peroleh menjadi Program Demplot terbaik untuk usaha ayam petelur tahun 2023. Kami juga membuka Pertanian terpadu berkolaborasi dengan pabrik gula," tegas Immanuel Soleman.
Kades Petawang itu juga menjelaskan bahwa Pemdes telah membangun Agro wisata tersebut menjadi destinasi wisata.
"Rencananya Agrowisata itu akan kami kembangkan di lahan 2 hektare, dibangunnya infrastruktur jalan oleh PT Sumba Manis membuat dukungan agro wisata ini akan punya prospek yang cerah," ungkap Kades Petawang.
Lebih jauh Kades Petawang mengungkapkan selain agro wisata Pemdes juga serius dalam penanganan stunting didampingi kader Posyandu, pembangunan KDMP Lokasinya dekatkan dengan Agro Wisata.
"Omset BUMDes saat saat ini sekitar Rp 350 Juta pertahun, Kami juga punya pembangkit tenaga surya,” kata Kepala Desa Patawang Immanuel Soleman dalam pemaparannya dihadapan Tim Tekad SPU.
Kegiatan FGD di Patawang ditempatkan di Gazebo Aksara Manise yang beridri ditengah-tengah Agro Wisata Desa Patawang dengan dihadiri hampir 60 orang undangan, selain Tokoh Agama, Masyarakat dan juga penggerak ekonomi desa.
“Harapan kami hasil FGD dan observasi lapangan di Kabupaten Sumba Timur ini menjadi masukan Kemendes, untuk membantu Kabupaten kami, kabupaten paling luas dari daratan pulau Sumba, jumlah desa 140," Kata Kabid Pemerintahan masyarakat desa Dinas PMD Kabupaten Sumba Timur, Yanusep Behi Data S.Sos.
Lebih jauh Yanusep Behi Data mengatakan pihaknya juga mempersiapkan pemekeran desa yang saat ini tinggal klarifikasi akhir ditingkat Kemendagri,
"Wilayah kami lebih luas dari pulau Bali, Desa Patawang ini mampu menjadi pioner dan sudah menjadi replika desa lain sebanyak 44 desa, ada yg berhasil dan ada yang tidak berhasil, ini menjadi evaluasi kami kedepannya,” kataYanusep Behi Data S.Sos.
Secara khusus Yanusep Behi Data memberikan apresiasi atas upaya warga desa Petawang.
“Saya apresiasi apa yang dikerjakan oleh masyarakat desa Patawang dengan Kepala Desa yang luar biasa, apalagi sudah menjadi desa pionir bagi desa-desa lain yang ada di Sumba Timur ini," ungkap Yanusep Behi Data.
Lebih dalam Yanusep Behi Data menegaskan harapannya agar program ini kelanjutan masukan dalam RPJMD 2027 Pemkab Sumba Timur, sehingga program yang sudah berjalan dengan baik ini bisa dikawal terus.
"Kebetulan ini ada Bu Bertha dari Bappeda Sumba Timur untuk bisa dibantu dimasukkan program ini," jelas Yanusep Behi Data.
Secara khusus Penasehat Menteri Desa PDT Prof Zainuddin Maliki merasa sangat kagum dengan keberhasilan Pemdes Petawang khususnya BUMDesnya dalam berkolaborasi mengusung program TEKAD menjadikan desanya sebagai pioner peternakan ayam petelur.
"Karena ini tahun terakhir program TEKAD dan kami menyadari masih banyaknya Desa di Indonesia Timur yang perlu diangkat ekonominya maka Tim Kemendes tetap melakukan lobby ke bank dunia dan juga IFAD agar ada top up anggaran mungkin bisa sampai Juli 2027, atau juga ada program lain yang beda Namanya. Ini masih dalam pengkajian dan perjuangan yang tetap akan kami laporkan ke Menteri Desa dan PDT,” ungkap Prof Zainuddin Maliki.
Kemendesa PDT masih berupaya keras agar program TEKAD bisa dilanjutkan atau diperpanjang durasi waktunya.
"Dan ini masih dalam pengkajian untuk dilaporkan ke Menteri Desa dan PDT,” tutup Prof. Zainuddin Maliki, M.SI selaku Executive Secretary SPU TEKAD yang juga Penasehat Menteri Desa dan PDT serta pernah jadi anggota DPR RI PAN Periode 2019-2024.
Setelah kegiatan FGD dan pengisian kuisioner oleh warga, Prof. Zainuddin Maliki didampingi M. Arif' An, S.H., M.H., selaku Advisor SPU TEKAD, serta jajaran Tim SPU TEKAD antara lain Bashtiar Pramana, Siti Cahaya Rani, Dwi Nur Putra dan Sidi Taufan Dirgantara melaksanakan Panen Telur, Petik Buah Belimbing Madu, Pancing Ikan Nila dan minum jus mangga asli dari agro wisata desa patawang.
Selama kegiatan Tim SPU Tekad Kemendes dan PDT juga di damping Pendamping Tekad Kabupaten Sumba Timur yaitu Debi Kristian bunga (Faskab Monev), Neliswila (Faskab Pemasaran), Rembu Ayu (Faskab Ekonomi) dan Aprianto Zamba (Faskec Malulu).
Kemudian Tim SPU Tekad bergeser ke Desa Kayuri yang mempunyai lahan 2 hektar jagung, dari hasil panen jagung setiap 4 bulannya hampir 2 Ton tersebut menjadi salah satu andalan Beras dan jagung premium yang sudah dipasarkan di Seluruh Indonesia.
Penulis : Bashtiar Permana (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat