Jakarta,JatimUPdate,id- Kondisi global mengalami perubahan yang signifikan dalam satu hingga dua bulan terakhir, terutama terkait dengan peningkatan risiko geopolitik, tingginya imbal hasil obligasi di Amerika Serikat, dan perlambatan ekonomi di Tiongkok.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, dampaknya terhadap ekonomi domestik salah satunya terlihat dari volatilitas nilai tukar rupiah tahun berjalan. Namun demikian, stabilitas ekonomi dan sistem keuangan domestik relatif tetap terjaga, termasuk kinerja rupiah yang fluktuasinya tidak sedalam negara-negara berkembang lainnya.
Baca juga: BNI Expo Tawarkan Berbagai Kemudahan
Terkait kondisi tersebut, bank bersandi saham BBNI ini telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja tetap solid. Program transformasi yang dijalankan secara disiplin serta strategi pertumbuhan yang selektif dan terukur yang diambil, telah mampu menuntun perseroan untuk memberikan pendapatan yang optimal bagi para shareholder serta menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.
Baca juga: Wondr by BNI Dapat Acungan Jempol
"Hal itu tercermin dari perolehan laba bersih BNI yang hingga September 2023 tumbuh sebesar 15,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencapai Rp 15,8 triliun, yang inline dengan market consensus," ucap Royke dalam konferensi pers Pemaparan Kinerja BNI Kuartal III-2023, Selasa (31/10/2023).
Royke mengungkapkan, pencapaian laba yang baik ini didukung kinerja kredit yang mengalami akselerasi di kuartal ketiga. Akselerasi kredit ini membuat BNI mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sampai dengan September 2023 sebesar 7,8 persen (yoy) menjadi Rp 671,4 triliun.
Baca juga: UMKM dan Konsumer Jadi Mesin Pertumbuhan BNI
"Pertumbuhan kredit ini didorong oleh ekspansi di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit konsumer, dan perusahaan anak," kata Royke. (Dan)
Editor : Redaksi