Vietnam Investasi di Kawasan Industri Gresik

jatimupdate.id
Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Rizky Aditya Wijaya

Jakarta,JatimUPdate.id-Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Rizky Aditya Wijaya yang belum lama ini memimpin delegasi Indonesia  dalam pameran "Wire and Cable Show" di Hanoi, Vietnam, berhasil mengantongi komitmen investasi dari "Negeri Naga Biru". Indonesia dinilai memiliki daya saing kuat dalam industri wire dan kabel dan berpotensi memperluas pasar ekspornya ke Vietnam.

Rizky Aditya Wijaya mengatakan, misi investasi industri dan perdagangan yang dilakukannya itu adalah salah satu strategi untuk memacu pertumbuhan industri logam di Tanah Air kita --Sebagaimana dicanangkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

“Kontribusi sektor industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tinggi. Kontribusi industri wire dan  kabel sebagai salah satu sub sektor industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (ILMATE) juga semakin diharapkan,” ujar Rizky, Selasa (2/12/2024).

Dikatakan Rizky yang alumni SMAN ^ Jakarta ini, untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan, perlu ikhtiar yang kuat untuk menarik investasi, memperluas pasar ekspor dan meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Potensi Indonesia sudah lama dilirik investor Vietnam. Makanya, lanjut Rizky, pengusaha dari "Negara Naga Biru" itu telah melakukan survei, terutama yang terkait sumber bahan baku skrap tembaga dan lokasi pabrik industri wire dan kabel yang akan dikembangkannya di Indonesia.

“Vietnam tidak memiliki bahan baku skrap tembaga sesuai kebutuhan industrinya. Tidak heran, setelah studi kelayakannya selesai, Vietnam langsung menyampaikan komitmennya investasi di Indonesia,” ungkap Rizky yang jebolan Universitas Indonesia Jurusan Gas and Petrochemical Engineering.

Tercatat, ada satu perusahaan Vietnam yang menyatakan akan mengembangkan industri yang mengolah skrap menjadi katoda tembaga serta kabel otomotif dan kabel telekomunikasi.

Perusahaan dari Vietnam itu akan membangun industri tersebut di kawasan industri Gresik, Jawa Timur, dengan kebutuhan 30.000 ton skrap per tahun. Industri ini diperkirakan akan menelan investasi sekitar Rp 255 miliar. (Hes)

 

Editor : Yoyok Ajar

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru